Ratusan warga dari Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem memadati pesisir Pantai Jasri Kelod guna melangsungkan ritual suci Mlasti (Melasti). Iring-iringan krama yang membawa pratima dan perlengkapan upakara telah memadati kawasan pantai sejak pagi hari, menciptakan suasana religius yang sangat kental.
Prosesi penyucian sarwa pralingga dan batin krama ini dipuput langsung oleh Ida Pedanda Gede Karang Ngenjung dari Griya Taman Blagung, Banjar/Desa Duda. Kehadiran masyarakat secara serempak ini menandai langkah awal penyucian jagat raya sebelum memasuki rangkaian upacara besar tahunan.
Penyucian Spiritual Mengacu Lontar Kuno
Ritual Mlasti ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan memiliki pijakan sastra agama yang mendalam. Pelaksanaan upacara mengacu pada petunjuk dalam naskah suci Lontar Sundarigama dan Swamandala. Menurut ajaran tersebut, laut dipandang sebagai tempat peleburan segala macam kotoran (leteh), baik yang bersumber dari perbuatan manusia (bhuana alit) maupun ketidakseimbangan alam (bhuana agung).
“Mlasti bertujuan untuk membersihkan semesta dan segala kotoran batin dalam diri sendiri, sebelum warga kami melaksanakan puncak prosesi upacara Usaba Kapat,” jelas Bendesa Adat Duda, I Komang Sujana di sela-sela upacara.
Komang Sujana menegaskan bahwa prosesi Mlasti mengusung tiga pilar pesan keharmonisan utama:
- Harmoni Individual: Membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan setiap krama dari energi negatif (nyomyang kekotoran batin).
- Harmoni Sosial: Mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan antarwarga desa adat dalam bingkai gotong royong.
- Harmoni Alam Semesta: Menjaga kesucian mikrokosmos dan makrokosmos agar terhindar dari bencana serta marabahaya.
Tahapan Kronologis Pengambilan Tirtha Amertha
Salah satu momen paling sakral dalam upacara ini adalah permohonan air suci kehidupan atau tirtha amertha ke hadapan Ida Bhatara Baruna sebagai penguasa samudra. Berikut adalah tahapan prosesi yang berlangsung khidmat di tepi pantai:
- Pangeling-eling dan Puja Pangastawa: Ida Pedanda memimpin doa suci dan puja mantra untuk memohon restu dewata serta menetralisasi kekuatan negatif alam laut.
- Prosesi Mulang Pakelem: Krama menghaturkan sesaji khusus (pakelem) ke dasar laut sebagai wujud syukur dan persembahan tulus kepada penguasa lautan.
- Penenggelaman Wadah Tirtha: Sebuah botol tertutup ditenggelamkan ke kedalaman laut oleh petugas khusus desa adat untuk menjemput tirtha suci secara niskala.
- Pangambilan Tirtha Baruna: Wadah diangkat kembali ke permukaan dalam kondisi telah terisi penuh air suci murni, yang dipercaya sebagai anugerah langsung Ida Bhatara Baruna.
- Panyucian Pratima dan Panyiratan: Seluruh simbol dewa-dewi dan krama yang hadir dipercikkan tirtha suci sebelum kembali menuju pura desa.
“Mlasti juga bertujuan mohon tirtha kepada Ida Bhatara Baruna dengan cara mulang pakelem ke laut, kemudian menenggelamkan botol tertutup ke dasar laut. Di akhir prosesi, botol diangkat dan telah penuh berisi air suci. Tirtha itu nantinya digunakan sebagai sarana utama upakara Usaba Kapat,” papar Penghulu Desa Adat Duda, Ida Bagus Darma Wibawa Putra.
Persiapan Menuju Puncak Usaba Kapat
Setelah seluruh prosesi di Pantai Jasri tuntas, tirtha suci beserta pralingga diarak kembali menuju Pura Desa Adat Duda. Air suci yang diperoleh dari samudra ini akan disucikan kembali di bale agung untuk selanjutnya didistribusikan ke seluruh pura panyawangan dan pemukiman warga saat perayaan puncak Usaba Kapat berlangsung.
Comments (0)