Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Fenomena korban kekerasan dalam hubungan yang terus bertahan seringkali menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak. Alih-alih pergi, banyak individu justru merasa terikat secara mendalam dengan pasa

Jul 06, 2026 - 07:44
0 0
Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Fenomena korban kekerasan dalam hubungan yang terus bertahan seringkali menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak. Alih-alih pergi, banyak individu justru merasa terikat secara mendalam dengan pasangan yang menyakiti mereka. Laporan media kami mengungkap bahwa kondisi ini bukanlah sekadar pilihan sederhana, melainkan jeratan psikologis yang dikenal dengan istilah trauma bonding.

Mekanisme Siklus yang Menjerat

Spesialis kejiwaan, dr. Erickson Arthur S, SpKJ, dalam sesi wawancara bersama Warkini.com menjelaskan bahwa ikatan traumatis terbentuk melalui sebuah siklus destruktif yang berulang. Korban tidak bisa serta merta melarikan diri karena otak mereka telah terkondisi oleh dinamika kekuasaan yang tidak seimbang.

“Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ,” kata dr. Erick.

Fase Puncak Kekerasan dan Penyesalan

Menurut penuturan dr. Erick, fase awal dari siklus ini adalah akumulasi ketegangan yang memuncak pada insiden kekerasan. Pada titik ini, korban jelas merasakan rasa sakit fisik maupun batin yang luar biasa. Namun, berbeda dengan anggapan orang awam, fase kekerasan jarang berlangsung secara terus-menerus setiap saat. Justru setelah ledakan emosi dan penyiksaan terjadi, fase berikutnya yang lebih membingungkan akan muncul.

Fase selanjutnya adalah fase bulan madu atau rekonsiliasi di mana pelaku berubah menjadi sosok yang sangat menyesal. Pelaku akan membanjiri korban dengan perhatian, janji untuk berubah, dan afeksi yang luar biasa. Perubahan ekstrem dari siklus kekerasan ke siklus kasih sayang inilah yang menciptakan kebingungan kognitif. Otak korban merekam bahwa setelah rasa sakit yang intens, akan hadir “hadiah” berupa cinta dan kenyamanan yang membuat mereka bertahan.

Mengapa Sulit Memutus Rantai

Trauma bonding bekerja seperti adiksi. Korban mengalami ketergantungan neurokimiawi di mana hormon stres dan hormon kebahagiaan naik turun secara drastis. Efeknya, korban sering merasa bertanggung jawab atas perbaikan hubungan dan terus berharap bahwa fase bulan madu akan bertahan selamanya, meski kenyataannya siklus itu akan selalu berulang. Warkini.com mencatat, pemahaman masyarakat mengenai kompleksitas trauma bonding ini sangat krusial agar korban tidak disalahkan dan justru mendapatkan dukungan psikologis profesional untuk memutus siklus kekerasan yang telah mengakar kuat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User