Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring menyoroti kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung terfokus ke Kawasan
Dalam forum yang mengusung tema Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau tersebut, Tifatul menekankan bahwa Kawasan Utara menyimpan kekuatan ekonomi yang bersumber dari tiga sektor sekaligus:
Dalam forum yang mengusung tema Membedah Potensi Ekonomi Karimun Kepulauan Riau tersebut, Tifatul menekankan bahwa Kawasan Utara menyimpan kekuatan ekonomi yang bersumber dari tiga sektor sekaligus: pariwisata, perdagangan, dan jasa. Menurutnya, jika pemerintah serius mengalihkan perhatian dari selatan ke utara, maka kontribusi wilayah ini terhadap produk domestik bruto nasional bisa melonjak signifikan.
Gagasan ‘Ekonomi Utara’
Sebagai jalan keluar dari ketimpangan perhatian pembangunan, Tifatul mengajukan konsep “Ekonomi Utara”. Strategi ini dirancang untuk membangun rantai nilai ekonomi baru yang membentang dari ujung barat Indonesia hingga Papua, dengan titik-titik simpul di sepanjang garis pantai utara. Gagasan ini tidak sekadar mengandalkan sumber daya alam, tetapi lebih menekankan pada pengembangan infrastruktur, konektivitas logistik, serta penguatan pusat-pusat perdagangan dan wisata yang sudah ada.
Ia merinci sejumlah provinsi yang menjadi tulang punggung Ekonomi Utara: Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua. Deretan wilayah ini memiliki akses langsung ke negara-negara berpenduduk besar di Asia Timur, Asia Selatan, dan kawasan Pasifik. Total populasinya, menurut Tifatul, mencapai lebih dari 3 miliar jiwa—sebuah pasar raksasa yang masih minim dieksploitasi oleh pelaku usaha Indonesia.
“Perhatian pemerintah masih terlalu banyak bertumpu pada selatan, terutama Bali. Padahal, utara memiliki potensi pariwisata, perdagangan, dan jasa yang jauh lebih besar. Dan wilayah itu berhadapan langsung dengan negara-negara yang penduduknya lebih dari 3 miliar. Inilah momentum kita membalik orientasi pembangunan lewat gagasan Ekonomi Utara,” ujarnya di hadapan peserta lokakarya.
Menangkap peluang di depan mata
Dalam paparannya, Tifatul memberikan contoh konkret Kepulauan Riau. Wilayah ini terletak di jalur pelayaran tersibuk dunia, Selat Malaka, dan hanya berjarak sepelemparan batu dari Singapura serta Malaysia. Namun, nilai tambah dari posisi strategis itu belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat lokal. Dengan pengembangan pelabuhan berstandar internasional, kawasan ekonomi khusus, serta promosi wisata bahari yang lebih gencar, ia meyakini Karimun dan sekitarnya bisa menjadi pintu gerbang utama bagi arus barang dan wisatawan menuju Indonesia.
Menurut Tifatul, konsep “Ekonomi Utara” juga selaras dengan semangat transformasi ekonomi nasional yang digaungkan beberapa tahun terakhir. Ia menekankan, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi studi kelayakan berkepanjangan, melainkan aksi nyata pemerintah untuk merevitalisasi infrastruktur di wilayah utara, membebaskan lahan strategis, serta memberikan insentif fiskal bagi investor yang bersedia menanamkan modal di luar Jawa-Bali.
Wacana ini disambut antusias oleh sejumlah akademisi dan pelaku industri yang hadir. Mereka sepakat bahwa pembangunan selama ini terlalu Jakarta-sentris dan mengabaikan potensi di lingkar luar. Apabila “Ekonomi Utara” benar-benar dituangkan dalam kebijakan konkret, bukan tidak mungkin wilayah-wilayah yang selama ini dipandang pinggiran akan menjelma menjadi mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Comments (0)