Kisah Inspiratif Laode M Syarif: Dari Pulau Buton Menjadi Suara Anti-Korupsi di Panggung Dunia
Kisah inspiratif Laode M Syarif, anak dari Pulau Buton yang melalui pendidikan dan kerja keras menjadi ahli anti-korupsi diakui di tingkat internasional.
Di sebuah desa kecil di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, seorang anak dari keluarga sederhana bermimpi bisa bersekolah setinggi mungkin dan berkontribusi bagi bangsanya. Anak itu adalah Laode M Syarif, yang kelak menjadi Wakil Ketua KPK dan suara Indonesia dalam isu anti-korupsi dan lingkungan di panggung internasional. Laode lahir di Bau-Bau pada 5 Juli 1965. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil rendahan, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Dengan penghasilan yang pas-pasan, pendidikan tinggi sebenarnya adalah kemewahan yang sulit dijangkau. Namun Laode kecil bertekad untuk mengubah nasibnya melalui pendidikan. Sejak SD, Laode sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata.
\n\nIa selalu menjadi juara kelas dan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah untuk melanjutkan sekolah. Di SMP dan SMA, ia aktif di kegiatan ekstrakurikuler dan mulai mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Guru-gurunya mengenang Laode sebagai murid yang kritis dan selalu bertanya. Setelah lulus SMA, Laode merantau ke Makassar untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Makassar adalah dunia yang sama sekali berbeda dari kampung halamannya. Di sini ia harus beradaptasi dengan kehidupan kota besar sambil tetap fokus pada studinya. Laode membiayai kuliahnya dengan bekerja sambilan sebagai guru les dan asisten dosen.
\n\nIa juga aktif di organisasi kemahasiswaan dan mulai menulis di koran-koran lokal. Kecintaannya pada isu lingkungan mulai tumbuh saat ia mengikuti diskusi-diskusi tentang kerusakan hutan dan tambang di Sulawesi. Kesempatan besar datang ketika ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral di University of Washington, Amerika Serikat. Ini adalah lompatan luar biasa bagi anak kampung dari Buton. Di Amerika, Laode tidak hanya belajar hukum lingkungan tetapi juga membangun jejaring internasional yang kelak sangat berguna dalam kariernya. Setelah meraih gelar doktor, Laode bisa saja memilih tinggal di Amerika dan mengejar karier di sana. Namun ia memilih pulang.
\n\n"Ilmu yang saya dapat harus saya bawa kembali untuk Indonesia," katanya. Ia kembali ke Unhas sebagai dosen dan peneliti, mengabdikan diri untuk mencetak generasi baru ahli hukum yang peduli pada lingkungan dan anti-korupsi. Ketika terpilih sebagai pimpinan KPK pada tahun 2015, banyak yang bertanya mengapa akademisi seperti Laode mau masuk ke dunia penegakan hukum yang keras. Jawabannya sederhana: "Ini adalah panggilan untuk mengabdi. Saya tidak bisa menolak ketika negara memanggil." Kisah Laode mengajarkan bahwa latar belakang bukanlah penghalang. Anak dari Pulau Buton yang dulunya mengajar ngaji di surau kecil kini menjadi suara yang didengar di forum-forum internasional.
Perjalanan Laode M Syarif dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ke panggung internasional sebagai pemimpin KPK adalah kisah yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang kecil. Laode tumbuh di keluarga sederhana di sebuah pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Akses terbatas ke buku, internet, dan fasilitas pendidikan tidak menghentikannya untuk bermimpi. Ia membaca apa pun yang bisa ia dapatkan — dari buku pelajaran kakaknya hingga koran bekas bungkusan ikan. Semangat belajarnya yang besar mengantarkannya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Hasanuddin, dan kemudian ke Australia untuk program doktoralnya.
Yang membuat kisah Laode begitu menginspirasi adalah bahwa ia tidak pernah melupakan akarnya. Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Sydney — di mana ia bisa saja memilih untuk tinggal dan berkarir secara internasional — ia memilih pulang ke Makassar. Alasannya sederhana: "Ilmu yang saya dapatkan di luar negeri harus saya bawa pulang untuk membangun negeri sendiri." Ia mengajar di Unhas, mendirikan pusat studi, dan membimbing mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia timur yang, seperti dirinya dulu, bermimpi besar meskipun berasal dari daerah yang kurang beruntung.
Ketika kemudian ia menjadi Wakil Ketua KPK, Laode membawa perspektif "Indonesia timur" ke dalam lembaga yang selama ini sangat "Jakarta-sentris". Ia mendorong KPK untuk tidak hanya fokus pada kasus-kasus korupsi di ibu kota, tetapi juga di daerah-daerah — terutama di Indonesia timur di mana korupsi sumber daya alam telah merampas hak-hak masyarakat adat dan merusak lingkungan hidup masyarakat lokal. Bagi Laode, pemberantasan korupsi bukan hanya tentang menyelamatkan uang negara, tetapi juga tentang keadilan sosial dan perlindungan lingkungan bagi generasi mendatang.
\n\nKuncinya adalah pendidikan, kerja keras, dan keinginan untuk terus belajar. "Jangan pernah berhenti belajar," pesan Laode kepada mahasiswanya, "karena ilmu adalah kunci untuk membuka pintu-pintu yang tertutup."
Lebih dari sekadar nama dalam daftar pejabat, kiprahnya di dunia hukum Indonesia menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana integritas, profesionalisme, dan dedikasi bisa membawa perubahan nyata. Perjalanan kariernya yang panjang telah menginspirasi banyak generasi penegak hukum berikutnya. Setiap jabatan yang ia emban, setiap kasus yang ia tangani, dan setiap keputusan yang ia ambil menjadi bagian dari mosaik sejarah penegakan hukum di negeri ini yang terus berkembang dan semakin matang.
Kiprah panjangnya di dunia penegakan hukum Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks zaman yang melingkupinya. Ia hadir di masa-masa kritis, ketika sistem hukum sedang diuji oleh berbagai tekanan — politik, ekonomi, maupun sosial. Dalam situasi seperti itu, ia membuktikan bahwa penegakan hukum yang profesional dan berintegritas bukanlah hal yang mustahil. Setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia buat, adalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun Indonesia yang lebih adil. Bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi penegak hukum, kisahnya adalah bukti bahwa dedikasi, kerja keras, dan prinsip yang dipegang teguh akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju pengakuan dan penghormatan dari masyarakat.
Comments (0)