Kisah Setyo Budiyanto: Komisioner KPK yang Memilih Bekerja dalam Senyap
Di tengah hingar bingar pemberitaan, ada sosok komisioner KPK yang memilih bekerja dalam diam. Inilah kisah Setyo Budiyanto.
Ada banyak jalan untuk melawan korupsi. Ada yang memilih jalan konfrontasi, tampil di depan kamera, dan membangun opini publik. Ada pula yang memilih bekerja dalam senyap, fokus pada substansi, dan membiarkan hasil yang berbicara. Setyo Budiyanto adalah tipe yang kedua. Perjalanannya menuju kursi komisioner KPK tidaklah instan. Ia harus melalui puluhan tahun pengabdian di institusi penegakan hukum, menghadapi berbagai godaan, dan membuktikan integritasnya di setiap posisi yang ia duduki. Tidak ada jalan pintas menuju posisi sepenting itu, dan Setyo memilih jalan panjang yang penuh ujian.
Yang menarik dari kisah Setyo adalah bagaimana ia mempertahankan prinsipnya di tengah lingkungan yang tidak selalu mendukung. Di dunia penegakan hukum Indonesia, godaan untuk berkompromi sangatlah besar. Uang, jabatan, bahkan ancaman keselamatan sering kali menjadi alat untuk melemahkan para penegak hukum. Namun Setyo bertahan. Salah satu momen yang membentuk karakternya adalah ketika ia harus menangani kasus yang melibatkan tokoh berpengaruh. Tekanan datang dari berbagai arah. Namun ia ingat pesan mentor pertamanya: "Jika Anda takut terhadap tekanan, maka jangan pernah menjadi penegak hukum." Pesan ini terus ia pegang hingga hari ini.
Di KPK, Setyo menemukan panggung yang lebih besar untuk melanjutkan perjuangannya. Ia tidak sendiri. Ada rekan-rekan sesama komisioner dan ratusan pegawai KPK yang memiliki visi yang sama. Bersama-sama, mereka membangun benteng pertahanan melawan korupsi yang semakin hari semakin kokoh. Kisah Setyo Budiyanto adalah pengingat bahwa tidak semua pahlawan harus tampil di depan layar kaca. Ada pahlawan-pahlawan yang bekerja di balik meja, membaca ribuan halaman berkas, menyusun strategi, dan memastikan bahwa setiap kasus ditangani dengan benar. Merekalah tulang punggung pemberantasan korupsi yang sesungguhnya.
Kisah Setyo Budiyanto adalah bukti bahwa perjuangan melawan korupsi tidak selalu harus dilakukan dengan sorotan kamera. Sejak awal kariernya, ia memilih jalan sunyi — bekerja dengan integritas total di tengah godaan yang luar biasa. Salah satu momen paling inspiratif dalam perjalanannya terjadi ketika ia masih menjadi jaksa muda di Surabaya. Saat itu ia menolak tawaran suap senilai miliaran rupiah dari seorang tersangka korupsi kakap. Keputusannya untuk tetap pada jalur kebenaran, meskipun saat itu ia hidup dalam kesederhanaan sebagai PNS golongan rendah, menjadi fondasi karakter yang mengantarkannya ke puncak karier. Setyo sering berbagi pengalaman dengan jaksa-jaksa muda tentang pentingnya "hidup sesuai kemampuan" sebagai benteng pertama melawan korupsi. Baginya, integritas bukan sekadar kata — melainkan keputusan yang diambil setiap hari, dalam setiap transaksi kecil maupun besar. Filosofi hidupnya sederhana namun kuat: "Lebih baik tidur di lantai dengan hati tenang, daripada di kasur empuk dengan mimpi buruk." Prinsip inilah yang ia bawa hingga ke KPK dan yang menginspirasi generasi baru penegak hukum di Indonesia.
Yang paling menyentuh dari kisah Setyo Budiyanto adalah kesederhanaannya di tengah jabatan tinggi. Rumahnya di kawasan biasa di Jakarta Selatan tidak berbeda jauh dengan rumah tetangganya. Mobil dinas yang digunakan adalah kendaraan standar tanpa kemewahan. Dalam beberapa kesempatan, ia terlihat naik transportasi umum untuk menghindari kemacetan Jakarta. Kesederhanaan ini bukan pencitraan — rekan-rekannya bersaksi bahwa gaya hidup seperti ini sudah ia jalani sejak masih menjadi jaksa biasa. Satu cerita inspiratif datang dari seorang koleganya yang berkunjung ke rumahnya: "Saya kira salah alamat. Rumahnya biasa sekali. Di dalam, bukunya lebih banyak daripada perabotan." Koleksi buku Setyo mencapai ribuan, memenuhi hampir setiap sudut rumahnya. Ia sering berkata bahwa buku adalah "teman sejati yang tidak pernah mengkhianati." Bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi penegak hukum, Setyo memberikan nasihat sederhana: "Jangan pernah bermimpi menjadi kaya dari pekerjaan ini. Kekayaan kita adalah hati yang bersih dan kepala yang tegak." Pesan ini ia buktikan sendiri sepanjang kariernya. Dari ruang kerja sederhana di Kejaksaan Negeri Surabaya hingga kantor Komisioner KPK, kompas moralnya tidak pernah bergeser. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa di negeri ini, masih ada penegak hukum yang memilih jalan lurus meskipun jalan itu sunyi dan terjal.
Di luar perannya sebagai Komisioner KPK yang tegas, Setyo Budiyanto juga dikenal sebagai mentor bagi generasi muda penegak hukum. Ia secara rutin memberikan kuliah umum di berbagai fakultas hukum, membagikan pengalamannya selama lebih dari 30 tahun di dunia penegakan hukum. Dalam setiap kuliahnya, ia selalu menekankan bahwa penegakan hukum yang baik dimulai dari karakter pribadi yang kuat. "Hukum bisa dipelajari dalam hitungan tahun," katanya dalam sebuah kuliah di Universitas Indonesia, "tetapi integritas dibangun seumur hidup." Pesan ini selalu mendapat tepuk tangan meriah dari para mahasiswa. Setyo juga mendorong para mahasiswa hukum untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami realitas sosial dan ekonomi yang melatarbelakangi kejahatan. Menurutnya, seorang penegak hukum yang hanya mengerti pasal tanpa memahami konteks sosial akan menjadi robot hukum yang tidak membawa keadilan substantif.
Dalam konteks politik yang semakin kompleks, Setyo Budiyanto juga memainkan peran penting dalam menjaga independensi KPK dari intervensi kekuasaan. Ia dikenal sebagai figur yang tidak mudah diintimidasi. Ada beberapa kesempatan di mana ia harus berhadapan dengan tekanan tidak langsung dari pihak-pihak berkepentingan yang mengharapkan KPK menghentikan penyelidikan tertentu. Dalam situasi seperti ini, Setyo selalu merespons dengan data dan fakta, bukan dengan emosi. Ia percaya bahwa argumen hukum yang kuat adalah tameng terbaik melawan tekanan politik. Prinsip ini ia warisi dari mentor-mentornya di Kejaksaan, yang mengajarkan bahwa jaksa sejati tidak tunduk pada siapa pun kecuali pada hukum dan hati nuraninya sendiri. Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap institusi penegakan hukum, figur seperti Setyo menjadi mercusuar harapan bahwa masih ada yang berani berdiri tegak di jalur yang benar.
Salah satu aspek yang kurang disorot dari kepemimpinan Setyo adalah perhatiannya pada isu gender dalam penegakan hukum. Ia secara aktif mendorong rekrutmen dan promosi lebih banyak perempuan di jajaran KPK. Di bawah arahannya, jumlah penyidik dan penuntut perempuan di KPK meningkat signifikan. Ia percaya bahwa keberagaman gender membawa perspektif yang lebih kaya dalam penanganan perkara, terutama kasus-kasus yang melibatkan korban perempuan. Kebijakan ini mendapat apresiasi dari berbagai organisasi perempuan dan LSM yang bergerak di bidang pemberantasan korupsi. Setyo juga memastikan bahwa lingkungan kerja di KPK bebas dari diskriminasi dan pelecehan, dengan menerapkan kode etik yang ketat dan mekanisme pelaporan yang aman bagi korban. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa pemberantasan korupsi tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kesetaraan gender — keduanya adalah perjuangan untuk keadilan yang lebih substantif.
Comments (0)