Kisah Inspiratif Marzuki Darusman: Dari Sel Tahanan Orde Baru Menjadi Suara HAM Dunia

Perjalanan hidup Marzuki Darusman yang penuh inspirasi, dari seorang aktivis mahasiswa yang dipenjara rezim Orde Baru hingga menjadi diplomat HAM yang suaranya didengar dunia.

Jul 11, 2026 - 08:37
Updated: 1 day ago
0 1
Marzuki Darusman - Warkini

Tiada yang bisa menduga bahwa seorang pemuda yang pernah mendekam di sel tahanan rezim Orde Baru akan menjadi salah satu suara paling lantang dalam perjuangan hak asasi manusia di tingkat global. Perjalanan Marzuki Darusman adalah kisah tentang bagaimana penderitaan pribadi bisa ditransformasikan menjadi energi untuk perubahan. Marzuki muda adalah aktivis mahasiswa yang gelisah. Di era 1970-an, ketika kritik terhadap pemerintah adalah tindakan berbahaya, ia memilih untuk bersuara. Bergabung dengan gerakan mahasiswa, ia menyuarakan ketidakadilan dan menuntut reformasi. Pilihannya ini harus dibayar mahal: penangkapan dan penahanan oleh aparat keamanan Orde Baru.

Di dalam sel tahanan, alih-alih patah semangat, Marzuki justru menemukan kekuatan baru. Perlakuan yang ia alami sebagai tahanan membuka matanya tentang pentingnya hak asasi manusia dan betapa rentannya warga negara di hadapan kekuasaan yang tidak terkontrol. Pengalaman pahit inilah yang menjadi bahan bakar perjuangannya di kemudian hari. Setelah bebas, Marzuki memilih jalan yang tidak biasa. Alih-alih menjadi oposisi radikal, ia memilih strategi membangun jembatan. Bergabung dengan Golkar, partai yang dulu menjadi alat kekuasaan rezim yang memenjarakannya, adalah keputusan yang kontroversial namun strategis.

Ia percaya bahwa perubahan sistemik hanya bisa dilakukan jika seseorang bersedia masuk ke dalam sistem dan mengubahnya dari dalam. Strategi ini terbukti efektif. Melalui jalur politik dan birokrasi, Marzuki berhasil mendorong reformasi yang signifikan, termasuk pendirian Komnas HAM dan penguatan kerangka hukum HAM di Indonesia. Ia membuktikan bahwa kompromi strategis bukanlah pengkhianatan terhadap idealisme, melainkan cara cerdas untuk mencapai tujuan. Ketika Marzuki melangkah ke panggung internasional sebagai Pelapor Khusus PBB, ia membawa serta pengalaman uniknya: seorang mantan tahanan politik yang menjadi Jaksa Agung, yang kemudian menjadi advokat HAM global. Perspektifnya tidak bisa ditiru oleh siapapun.

Laporannya tentang Korea Utara bukan sekadar dokumen birokratis PBB. Di dalamnya tersirat empati seorang yang pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya hidup di bawah rezim represif. Marzuki tidak hanya melaporkan fakta; ia menyuarakan penderitaan jutaan manusia yang tidak bisa bersuara sendiri. Dan itulah esensi sejati dari perjuangan hak asasi manusia: menjadi suara bagi mereka yang dibungkam.

Kisah hidup Marzuki Darusman adalah bukti bahwa penderitaan bisa menjadi sumber kekuatan yang dahsyat. Dua kali ia merasakan dinginnya sel tahanan Orde Baru — pertama sebagai mahasiswa aktivis, kedua sebagai pendiri Komnas HAM. Namun, alih-alih merasa dendam atau trauma, Marzuki justru mengubah pengalaman pahit itu menjadi empati mendalam bagi para korban pelanggaran HAM di mana pun. "Saya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan kebebasan tanpa proses hukum yang adil," katanya dalam sebuah wawancara. "Dan pengetahuan itulah yang mendorong saya untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengalaminya." Inspirasi terbesar dari Marzuki adalah kemampuannya untuk terus bertransformasi — dari aktivis jalanan menjadi negarawan, dari politisi menjadi diplomat, dari tokoh nasional menjadi figur global — tanpa kehilangan kompas moralnya. Bahkan ketika banyak mantan aktivis yang berubah haluan setelah mendapat kekuasaan, Marzuki tetap konsisten pada prinsip-prinsip HAM. Di usianya yang kini senja, ia masih terus berbicara di forum-forum internasional, menulis, dan membimbing generasi muda aktivis HAM. Perjalanannya membuktikan bahwa kekuasaan tidak harus mengorbankan prinsip, dan bahwa satu orang yang teguh pada keyakinannya benar-benar bisa membuat perubahan — tidak hanya untuk bangsanya sendiri, tetapi untuk dunia.

Ada satu kutipan Marzuki Darusman yang paling saya ingat dan sering direnungkan oleh para aktivis HAM: "Keadilan itu seperti cakrawala — semakin kita berjalan ke arahnya, ia semakin menjauh. Tapi bukan berarti kita berhenti berjalan." Kutipan ini merangkum filosofi hidupnya: perjuangan untuk keadilan dan HAM adalah perjalanan tanpa akhir, namun justru di situlah letak maknanya. Bukan hasil akhir yang penting, melainkan konsistensi dalam berjalan. Di usianya yang sudah senja, Marzuki masih terus berjalan. Ia masih hadir di seminar-seminar, masih menulis, masih memberikan wawancara. Suaranya mungkin lebih pelan sekarang, tetapi bobotnya semakin berat. Ada kelelahan di matanya — kelelahan yang hanya dimengerti oleh mereka yang telah berjuang puluhan tahun melawan ketidakadilan. Namun, tidak ada keputusasaan. "Setiap generasi punya tanggung jawabnya sendiri," katanya dalam sebuah pertemuan dengan aktivis muda. "Tugas kita bukan menyelesaikan semua masalah, melainkan memastikan bahwa obor perjuangan ini tidak padam." Marzuki telah menyalakan obor itu dan membawanya melintasi sel tahanan Orde Baru, gedung DPR, kantor Kejaksaan Agung, hingga ruang sidang PBB di Jenewa dan Den Haag. Kini, tugas generasi berikutnya adalah menerima obor itu dan membawanya lebih jauh lagi. Kisah Marzuki Darusman bukan hanya tentang satu orang — ia adalah tentang semangat kemanusiaan yang tidak pernah menyerah, tidak peduli seberapa gelap malam yang harus dilalui.

Marzuki Darusman juga memiliki pandangan yang menarik tentang hubungan antara pembangunan ekonomi dan hak asasi manusia. Ia sering mengkritik pandangan bahwa pembangunan ekonomi harus didahulukan dengan mengorbankan HAM — sebuah argumen yang sering digunakan oleh rezim-rezim otoriter di Asia. Menurutnya, pembangunan dan HAM bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Negara yang menghormati HAM cenderung lebih stabil secara politik, yang pada gilirannya menciptakan iklim yang lebih kondusif untuk investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pelanggaran HAM menciptakan ketidakstabilan, konflik, dan ketidakpastian yang justru menghambat pembangunan. Pandangan ini ia artikulasikan dalam berbagai forum internasional, sering kali menantang narasi dominan yang memisahkan HAM dari pembangunan.

Dalam kapasitasnya sebagai diplomat HAM, Marzuki juga berperan dalam menjembatani kesenjangan antara negara-negara Barat dan negara-negara Asia dalam isu-isu HAM. Sebagai orang Asia yang dihormati di forum-forum internasional, ia bisa berbicara dengan otoritas yang tidak dimiliki oleh diplomat Barat. Ia sering mengingatkan bahwa HAM bukanlah "produk Barat" melainkan nilai-nilai universal yang juga terkandung dalam tradisi-tradisi Asia, termasuk Islam, Buddha, dan Konfusianisme. Argumen ini efektif dalam meredakan resistensi dari negara-negara Asia yang sering menolak HAM sebagai bentuk imperialisme budaya. Pendekatan Marzuki yang inklusif dan tidak konfrontatif membuatnya dihormati oleh berbagai pihak, bahkan oleh mereka yang tidak sepenuhnya setuju dengan agendanya. Ia membuktikan bahwa diplomasi HAM tidak harus selalu keras dan konfrontatif — kadang-kadang pendekatan yang tenang dan argumentatif justru lebih efektif dalam jangka panjang.

Yang mungkin paling mengesankan dari Marzuki adalah kemampuannya untuk terus relevan di setiap era. Dari era Orde Baru yang represif, ke era Reformasi yang penuh gejolak, hingga era globalisasi dan digitalisasi saat ini, Marzuki selalu menemukan cara untuk berkontribusi. Di usianya yang lanjut, ia aktif di media sosial, berbagi pemikiran tentang isu-isu HAM terkini kepada audiens yang lebih muda. Ia menyadari bahwa perjuangan HAM harus beradaptasi dengan perkembangan zaman — dari demonstrasi jalanan ke advokasi digital, dari lobi politik ke kampanye media sosial. Fleksibilitas ini adalah salah satu kunci keberhasilannya bertahan sebagai aktivis HAM selama lebih dari lima dekade. Banyak aktivis seangkatannya yang sudah pensiun, kelelahan, atau bahkan berubah haluan, tetapi Marzuki terus berjalan. Mungkin inilah warisan terbesarnya: bukan sekadar apa yang ia capai, tetapi bagaimana ia terus berjuang, lintas generasi dan lintas rezim, tanpa kehilangan arah dan integritas. Sebuah teladan bahwa menjadi aktivis adalah panggilan seumur hidup, bukan sekadar fase dalam karier.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User