Bayangkan harus bekerja belasan jam sehari, hanya mendapatkan jatah libur satu hari dalam seminggu, namun gaji yang didapat barely cukup untuk bertahan hidup di kota besar. Inilah realitas pahit budaya kerja di Korea Selatan yang kian mencekik generasi mudanya. Namun, alih-alih terus terjebak dalam lingkaran burnout perkotaan, sejumlah wanita muda di Negeri Ginseng kini mengambil langkah ekstrem: banting setir menjadi haenyeo, alias penyelam wanita tradisional yang berburu hasil laut tanpa bantuan tabung oksigen.
Fenomena ini terbilang unik sekaligus ironis. Puluhan tahun lalu, modernisasi pesat Korea Selatan justru menarik warga keluar dari desa pesisir untuk bekerja di industri modern. Kini, sejarah seolah berbalik. Budaya kerja gila-gilaan justru memicu arus balik, mendorong anak muda kembali melirik mata pencaharian tradisional yang berat namun menawarkan kebebasan mental.
Kisah Jin: Melepas Penat Kota demi Lautan Luas
Salah satu cerita datang dari Jin (33). Tumbuh besar di Busan, kota terbesar kedua di Korea Selatan, Jin telah mengantongi berbagai kualifikasi di bidang perawatan kulit dan seni merias kuku. Demi mencukupi kebutuhan hidup, ia bahkan sempat bekerja keras sebagai asisten perawat. Namun, ritme kerja yang sangat melelahkan dan gaji yang pas-pasan akhirnya menguras stamina serta mentalnya.
Pada usia 25 tahun, Jin membuat keputusan besar untuk pindah ke kota pesisir tenang bernama Geoje. Di sana, matanya terbuka saat melihat para haenyeo lansia berusia 70-an tahun yang masih aktif mencari nafkah di laut bebas. Terinspirasi oleh ketangguhan mereka, Jin memutuskan untuk bergabung.
Tentu saja, peralihan ini jauh dari kata mudah. Pada tahun pertamanya sebagai penyelam, Jin kehilangan berat badan hingga 7 kilogram. Rasa lelah yang luar biasa kerap menyergapnya seusai menyelam.
"Pekerjaannya sangat berat. Terkadang saya begitu lelah hingga rasanya hampir tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk mengangkat sendok makan," kenang Jin saat menceritakan perjuangan awalnya.
Tak hanya kelelahan fisik, Jin harus bertarung dengan tekanan air laut. Sesuai tradisi, seorang haenyeo hanya berbekal pakaian selam (wetsuit) dan kacamata renang yang diolesi daun mugwort serta air liur agar tidak berembun. Akibatnya, Jin mengalami sakit telinga parah hingga sakit kepala hebat yang menusuk—penyakit langganan para penyelam tradisional lintas generasi.
"Rasa sakit di telinga begitu hebat sampai membuat air mata saya menetes... Saya bahkan tidak bisa mendengar apa-apa saat itu," tambahnya.
Tradisi Berat Berbalut Simbol Kemandirian Wanita
Untuk bertahan hidup, Jin tidak menyerah. Ia mengombinasikan tradisi kuno tersebut dengan teknik modern. Jin mempelajari olahraga freediving dan scuba diving masa kini, terutama teknik menyamakan tekanan (equalization) pada telinga agar bisa menyelam lebih aman tanpa merusak pendengarannya.
Secara historis, tradisi haenyeo telah diakui oleh badan kebudayaan dunia UNESCO. Keberadaan mereka menjadi simbol kuat kemandirian dan ketangguhan kaum wanita di tengah masyarakat Korea Selatan yang secara tradisional sangat patriarkal. Di pulau Jeju, yang menjadi pusat kebudayaan ini, jumlah haenyeo tercatat merosot tajam dari 3.437 orang pada 2021 menjadi hanya 2.371 orang pada tahun lalu. Kehadiran anak muda seperti Jin menjadi angin segar bagi kelestarian tradisi ini.
Perbandingan Kehidupan: Dunia Korporat vs Penyelam Tradisional
Untuk memahami mengapa sebagian wanita Korea rela bertaruh nyawa di laut daripada duduk di kantor nyaman, berikut adalah gambaran perbandingannya:
| Kategori | Budaya Kerja Perkotaan (Korporat) | Kehidupan Penyelam (Haenyeo) |
|---|---|---|
| Waktu Kerja | Jam kerja panjang, sering lembur, libur 1 hari. | Tergantung cuaca dan pasang surut air laut. |
| Kondisi Mental | Tekanan tinggi, risiko burnout parah. | Tuntutan fisik tinggi, namun kesehatan mental lebih tenang. |
| Kemandirian | Terikat hierarki perusahaan yang ketat. | Menjadi bos bagi diri sendiri, mandiri secara finansial. |
Pada akhirnya, pilihan menjadi haenyeo bukan sekadar melarikan diri dari kenyataan. Bagi wanita muda Korea Selatan, ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang tidak sehat, sekaligus upaya menemukan kembali jati diri dan kedamaian di tengah gulungan ombak samudra.
Budaya kerja keras di perkotaan Korea Selatan kian memakan korban burnout. Namun, fenomena menarik muncul saat sebagian wanita muda justru memilih kembali ke tradisi lama yang berat namun membebaskan. Simak ulasan lengkapnya hanya di Warkini.com!
Comments (0)