Lagi Ter Hyrox-Hyrox? Dokter Ingatkan Skrining Jantung Biar Nggak Kolaps di Arena
Tren olahraga ketahanan fisik bertenaga tinggi seperti Hyrox kini merebak luas di kalangan masyarakat urban Tanah Air. Konsep latihan fungsional yang menggabungkan lari jarak jauh dengan rangkaian ge
Tren olahraga ketahanan fisik bertenaga tinggi seperti Hyrox kini merebak luas di kalangan masyarakat urban Tanah Air. Konsep latihan fungsional yang menggabungkan lari jarak jauh dengan rangkaian gerakan angkat beban ekstrem ini memang menawarkan sensasi tantangan kebugaran yang adiktif. Namun, di tengah gegap gempita antusiasme itu, para pakar kesehatan menyuarakan peringatan serius tentang risiko fatal yang mengintai bila seseorang nekad menjajal olahraga seberat ini tanpa memahami kondisi organ vitalnya sendiri.
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr. dr. Ismail Dilawar, SpBTKV, Subsp JD(K), MARS, menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena yang kian marak. Ia mengamati betapa banyak masyarakat awam yang langsung terjun ke arena kompetisi berat semata-mata karena tergiur tren yang viral di media sosial.
Ini yang berbahaya. Banyak yang ikut-ikutan tren tanpa bekal latihan fisik yang memadai sejak awal. Mereka tidak sadar bahwa jantung bisa jebol jika dipaksa bekerja di luar kapasitasnya.
Dr. Ismail menekankan bahwa penampilan fisik yang terlihat bugar dari luar tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa organ dalam, terutama jantung, siap menerima beban kerja ekstrem. Persoalan mendasar terletak pada minimnya kesadaran untuk melakukan skrining kesehatan jantung sebelum memutuskan mengikuti ajang lomba ketahanan semacam ini.
Paling bahaya itu cardiac arrest. Serangan jantung bisa datang tiba-tiba dan tanpa gejala awal yang jelas. Skrining jantung bukan cuma buat atlet profesional, tapi wajib hukumnya bagi masyarakat biasa yang ingin ikut lomba-lomba seperti ini.
Risiko terbesar yang mengancam peserta tanpa persiapan matang adalah fibrilasi ventrikel, yaitu kondisi irama jantung yang kacau dan tidak teratur hingga membuat organ tersebut kehilangan kemampuannya memompa darah ke seluruh tubuh. Jika tidak tertangani dalam hitungan menit, kondisi ini bisa langsung merenggut nyawa di tempat kejadian.
Fenomena kolaps di arena lomba sejatinya bisa dicegah dengan langkah antisipatif yang sederhana namun kerap diabaikan. Pemeriksaan seperti elektrokardiogram atau EKG, treadmill test, hingga ekokardiografi dapat memberikan gambaran utuh tentang kesiapan jantung seseorang dalam menghadapi tekanan fisik tingkat tinggi. Sayangnya, budaya skrining preventif semacam ini belum mengakar kuat di kalangan pegiat olahraga rekreasional.
Dr. Ismail menambahkan bahwa mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau kebiasaan merokok memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi. Faktor risiko ini seringkali tersembunyi tanpa keluhan berarti dalam aktivitas harian, tetapi langsung meledak ketika tubuh dipaksa menghadapi tekanan metabolik luar biasa seperti dalam gelaran Hyrox.
Para penyelenggara lomba juga dinilai perlu turut bertanggung jawab dengan mensyaratkan bukti hasil pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari proses pendaftaran. Edukasi publik tentang batas aman berolahraga harus terus digencarkan agar euforia tren kebugaran tidak berujung petaka di arena pertandingan. Masyarakat diimbau untuk berkonsultasi ke fasilitas kesehatan dan tidak menjadikan konten media sosial sebagai satu-satunya tolok ukur kesiapan fisik sebelum mendaftar lomba.
Laporan lengkap mengenai pentingnya skrining jantung sebelum mengikuti olahraga ekstrem ini turut menjadi perhatian tim redaksi Warkini.com dalam mengedukasi masyarakat akan gaya hidup sehat yang bertanggung jawab.
Comments (0)