Guru Besar FKUI Sebut Kasus dr Icha Bisa Bikin Nakes Enggan Tugas di Daerah
Kasus meninggalnya seorang dokter bernama dr Icha di Nusa Tenggara Timur (NTT) memunculkan kekhawatiran mendalam di kalangan tenaga kesehatan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK
Kasus meninggalnya seorang dokter bernama dr Icha di Nusa Tenggara Timur (NTT) memunculkan kekhawatiran mendalam di kalangan tenaga kesehatan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menyatakan bahwa peristiwa ini dapat menimbulkan trauma dan keengganan tenaga kesehatan untuk bekerja di wilayah-wilayah terpencil di Tanah Air.
dr Icha, seorang dokter yang bertugas di salah satu fasilitas kesehatan di NTT, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun media kami, almarhumah diduga mengalami tekanan mental yang berat akibat intimidasi dari seorang anggota DPRD setempat. Intimidasi itu berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga medis di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
Guru Besar FKUI yang enggan disebutkan namanya menyiratkan bahwa kasus ini membuka luka lama tentang kerentanan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah. “Ini bukan sekadar kasus individu. Ini tentang sistem perlindungan bagi nakes, terutama yang bertugas jauh dari pusat,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring yang dilaporkan Warkini.com.
“Jika kekerasan, intimidasi, atau tekanan psikis seperti ini dibiarkan, maka tidak akan ada lagi dokter atau perawat yang mau mengabdi di pelosok.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak tenaga kesehatan di daerah sudah bekerja dengan fasilitas terbatas, beban kerja tinggi, dan minim dukungan. Ditambah lagi dengan risiko perundungan atau penyalahgunaan wewenang oleh pihak-pihak yang seharusnya mendukung pelayanan kesehatan. “Mereka datang ke daerah dengan idealisme mengabdi, tetapi ketika harus menghadapi akhir yang tragis seperti dr Icha, tentu ini menjadi preseden yang sangat buruk,” tambahnya.
Kasus dr Icha ramai diperbincangkan di media sosial dan komunitas tenaga kesehatan. Banyak yang menyuarakan tuntutan agar pelaku intimidasi dihukum dan pemerintah segera meningkatkan jaminan keamanan, baik fisik maupun psikologis, bagi para nakes di seluruh Indonesia. Organisasi profesi dokter pun mendesak investigasi menyeluruh atas kematian dr Icha agar keadilan dapat ditegakkan.
Dari sisi kebijakan, persoalan ini mengungkap celah besar dalam perlindungan sumber daya manusia kesehatan di Tanah Air. Apalagi, program penempatan dokter dan bidan di daerah terpencil merupakan program nasional yang butuh jaminan keamanan mutlak. Tanpa perlindungan yang konkret, distribusi tenaga kesehatan yang sudah timpang antara kota dan desa berpotensi semakin melebar, mengancam target pemerataan layanan kesehatan.
Pengalaman traumatis seperti yang dialami dr Icha dinilai akan membayangi para calon tenaga kesehatan yang tengah menempuh pendidikan. Rasa takut untuk ditempatkan di lingkungan yang tidak aman dapat mengurangi minat mereka untuk mengisi pos-pos kosong di periferi. Padahal, keberadaan nakes di daerah menjadi garda terdepan dalam menekan angka kematian ibu, anak, dan penanganan penyakit menular.
Pihak kepolisian setempat terus mendalami laporan yang berkaitan dengan dugaan intimidasi terhadap korban. Sementara itu, jajaran dinas kesehatan provinsi membuka ruang komunikasi bagi seluruh tenaga kesehatan yang merasa tertekan atau mendapat perlakuan serupa, agar tidak ada lagi nyawa melayang sia-sia. Demikian laporan yang kami himpun. Warkini.com — menyajikan informasi terpercaya untuk Anda.
Comments (0)