Lautan Pelayat Sambut Kedatangan Jenazah Ali Khamenei di Kota Suci Qom
Suasana duka mendalam menyelimuti kota suci Qom saat iring-iringan jenazah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki kota yang menjadi pusat keilmuan Syiah tersebut. Ribuan pelayat ya
Suasana duka mendalam menyelimuti kota suci Qom saat iring-iringan jenazah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki kota yang menjadi pusat keilmuan Syiah tersebut. Ribuan pelayat yang telah menanti sejak dini hari langsung memadati sepanjang rute perjalanan, membentuk lautan manusia yang sulit dibendung. Isak tangis dan lantunan doa mewarnai prosesi penyambutan jenazah, menandai kepergian sosok yang selama lebih dari tiga dekade memimpin Republik Islam Iran.
Jenazah Khamenei diterbangkan dari Tehran dengan pengawalan ketat menuju Qom, kota yang memiliki arti spiritual mendalam bagi umat Syiah. Helikopter militer mendarat di kompleks Haram Hazrat Masoumeh, salah satu tempat tersuci setelah Makam Imam Reza di Mashhad. Momen ini langsung disambut lautan peziarah yang sejak pagi telah berkumpul di sekitar kompleks makam suci tersebut.
Tangisan dan Takbir Sambut Jenazah
Saat keranda jenazah yang diselimuti bendera Iran dibawa masuk ke halaman Haram, gelombang massa yang sudah tidak tertahankan berusaha mendekat. Aparat keamanan dan Pasukan Garda Revolusi tampak kewalahan menahan arus pelayat yang ingin menyentuh atau sekadar melihat untuk terakhir kalinya wajah pemimpin mereka. Berdasarkan laporan di lapangan, sejumlah orang pingsan karena berdesakan, sementara lainnya tak kuasa menahan tangis di tengah panasnya udara gurun.
“Ini adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidup saya. Saya merasa kehilangan seorang ayah. Beliau bukan hanya pemimpin politik, tapi juga pembimbing rohani kami,” ujar seorang pelayat paruh baya yang hadir bersama keluarganya.
Takbir dan shalawat terus dikumandangkan sepanjang prosesi. Banyak pelayat yang membawa foto-foto Khamenei dan bendera hitam sebagai simbol berkabung. Toko-toko dan pusat perbelanjaan di sepanjang jalan utama Qom tutup sejak pagi sebagai bentuk penghormatan. Pemerintah kota telah mengimbau warga untuk mengikuti prosesi secara tertib, namun antusiasme dan kesedihan yang mendalam membuat massa sulit dikendalikan.
Makna Mendalam di Kota Suci
Kedatangan jenazah di Qom bukanlah tanpa alasan. Kota ini merupakan tempat Khamenei menimba ilmu pada masa muda sekaligus basis spiritual utama Syiah. Di sinilah para marja taklid—sumber rujukan keagamaan tertinggi—bermukim dan mengajar. Keberadaan Haram Hazrat Masoumeh, makam suci saudara perempuan Imam Reza, menjadikan Qom sebagai salah satu kota tersuci bagi pengikut Syiah di seluruh dunia.
Rencananya, jenazah akan disemayamkan selama beberapa jam untuk memberikan kesempatan bagi para ulama senior dan masyarakat umum memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah tokoh penting seperti para marja dan pemimpin seminari Qom terlihat hadir di barisan depan. Kehadiran mereka mempertegas hubungan erat antara pusat keilmuan Syiah dan kepemimpinan politik Iran yang telah dibangun sejak era Revolusi Islam 1979.
Tim liputan di lapangan melaporkan bahwa arus peziarah terus mengalir meskipun matahari mulai meninggi. Gelombang massa diperkirakan akan terus bertambah hingga malam hari, mengingat kedatangan iring-iringan dari berbagai kota sekitar yang menggunakan bus dan kendaraan pribadi. Pihak berwenang telah menyiagakan layanan darurat dan medis di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kondisi darurat di tengah kepadatan massa yang luar biasa.
Jenazah selanjutnya akan diberangkatkan kembali ke Tehran untuk dishalatkan dan dimakamkan di kompleks Mausoleum Imam Khomeini, tempat peristirahatan terakhir pendiri Republik Islam Iran. Namun bagi warga Qom, momen penyambutan ini menjadi kenangan abadi yang akan terus dikenang sebagai hari ketika lautan pelayat memberikan penghormatan terakhir di kota suci yang sangat dicintai sang pemimpin tertinggi. Informasi yang dihimpun media kami dari berbagai sumber menunjukkan bahwa prosesi di Qom menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah kota itu, menyamai prosesi berkabung ketika pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, wafat pada 1989.
Hingga malam hari, arus peziarah masih belum menunjukkan tanda-tanda surut. Lilin dan lampu-lampu dinyalakan di sekitar kompleks, menciptakan suasana syahdu yang kontras dengan hiruk-pikuk massa. Para pelayat terus berdatangan, membawa serta kenangan dan doa bagi sosok yang telah membawa Iran melewati berbagai gejolak regional dan sanksi internasional. Warkini.com akan terus mengabarkan perkembangan selanjutnya dari prosesi pemakaman ini.
Comments (0)