Let me continue drafting carefully to ensure length and quality.

Ketidakhadiran mereka bukan sekadar masalah administrasi rapat. Dampaknya langsung menggagalkan proses pengambilan keputusan yang sudah disusun untuk menye

Let me continue drafting carefully to ensure length and quality.

Ketidakhadiran mereka bukan sekadar masalah administrasi rapat. Dampaknya langsung menggagalkan proses pengambilan keputusan yang sudah disusun untuk menyesuaikan jadwal Bupati Soppeng. Sebagaimana diketahui, perubahan jadwal tersebut diusulkan lantaran Bupati tengah menghadiri agenda nasional di Kementerian Pertanian bersama para gubernur, wali kota, dan bupati se-Indonesia. Pemda Soppeng pun meminta kelonggaran waktu melalui rapat paripurna, namun justru gagal terwujud karena absennya kawanan sendiri di kursi dewan.

Anggota DPRD dari Fraksi Demokrat, Andi Takdir, tidak menyembunyikan kekesalannya atas kejadian tersebut. Menurutnya, kegagalan rapat pada hari itu murni disebabkan oleh ketiadaan perwakilan dari Fraksi Golkar. "Ini murni karena kuorum tidak cukup. Fraksi Golkar tak ada satupun," ujarnya pada Sabtu, 21 Juni 2025. Ia menambahkan bahwa Bupati sebenarnya telah menyetujui perubahan jadwal sebagai bentuk penyesuaian atas agenda padatnya di kementerian pusat. Dengan kata lain, eksekutif sudah beri restu, tapi sayap legislatif dari partai yang sama justru menarik rem tangan.

Yang lebih mencengangkan adalah adegan pendek yang terjadi di ruang sidang. Sempat muncul secercah harapan ketika tiga anggota Fraksi Golkar terlihat memasuki ruang paripurna. Namun harapan itu pupus secepat kilat. Belum sempat rapat dimulai atau kuorum terpenuhi, ketiga politisi itu dikabarkan meninggalkan ruangan secara bersamaan usai diduga menerima panggilan telepon. "Itu yang aneh. Mereka datang, tapi tidak tinggal," ujar Andi Takdir, menyiratkan adanya kemungkinan instruksi terkoordinasi di balik penarikan diri mendadak tersebut.

Fenomena "datang lalu pergi" ini menambah panjang daftar tanda tanya. Publik mulai berspekulasi soal adanya perintah dari partai atau kepentingan tertentu yang tidak ingin rapat tersebut berlangsung. Dalam konteks politik lokal, sikap seperti ini sering kali menjadi indikator adanya gesekan internal yang tidak terlihat di permukaan, baik itu terkait pembagian kekuasaan, distribusi anggaran, maupun perselisihan pribadi antarelite partai.

Berbagai kabar pun beredar untuk menjelaskan absennya Fraksi Golkar. Salah satu versi yang berkembang di kalangan awak media menyebutkan bahwa para anggota dewan dari partai penguasa tersebut sedang berada di Jakarta untuk berkonsultasi terkait isi akhir RPJMD ke Kementerian Dalam Negeri. Namun sumber lain mengklaim bahwa Kemendagri sebenarnya telah menyarankan agar konsultasi akhir cukup dilakukan di tingkat provinsi, bukan harus mendatangi kantor pusat di Ibu Kota. Jika klaim kedua yang benar, maka alasan keberadaan di Jakarta menjadi lemah dan kembali memperkuat dugaan adanya motif politik lain di balik absennya mereka.

Menanggapi keriuhan yang terjadi, Anggota Komisi III dari Fraksi Golkar, Abdul Kadir, menepis anggapan bahwa ada konflik serius. Ia menyederhanakan situasi ini sebagai bagian dari "dinamika politik" yang wajar terjadi di tubuh partai maupun lembaga legislatif. "Insyaallah Senin kami hadir," katanya singkat melalui pesan singkat tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengapa rapat penting pada hari Jumat harus ditinggalkan begitu saja. Pernyataan ringan itu tentu saja tidak cukup untuk meredam tanya publik mengenai komitmen fraksi penguasa terhadap kelancaran roda pemerintahan.

Analisis: Ketika Partai Penguasa Menjadi Penghambat Sendiri

Kejadian di Soppeng ini menorehkan catatan kelam dalam tata kelola pemerintahan daerah. Dalam sistem demokrasi perwakilan, fraksi partai penguasa biasanya memiliki peran ganda: sebagai pengawas sekaligus pendukung utama program eksekutif. Namun ketika fraksi tersebut justru menjadi penyebab gagalnya rapat yang merely schedule adjustment — bukan pengesahan kontroversial — maka muncul pertanyaan fundamental tentang koherensi internal Partai Golkar di Soppeng.

Peristiwa ini mengindikasikan adanya disfungsi komunikasi antara eksekutif dan legislatif, ironisnya di dalam satu atap partai yang sama. Jika Bupati sudah menyetujui penyesuaian jadwal, mengapa kaki tangannya di DPRD justru tidak hadir? Kemungkinan besar ada dinamika internal yang lebih dalam, terkait perebutan pengaruh atau ketidakpuasan terhadap substansi RPJMD yang tidak terekspos ke publik, demikian bisa dianalisis dari pola kejadian yang terungkap.

Aspek Pernyataan Andi Takdir (Demokrat) Pernyataan Abdul Kadir (Golkar)
Penyebab Gagal Sidang Absen total Fraksi Golkar, kuorum tak terpenuhi Dinamika politik, dijamin hadir Senin
Kehadiran 3 Anggota Datang lalu pergi usai diduga terima telepon Tidak dikomentari secara spesifik
Konsultasi ke Jakarta Diduga sebagai alasan absen Tidak dibantah maupun dikonfirmasi
Relasi dengan Bupati Bupati setuju perubahan jadwal Tidak menyebut posisi Bupati

Dari tabel di atas, tampak jelas adanya jurang komunikasi yang signifikan antarfraksi. Sementara oposisi — dalam hal ini Fraksi Demokrat — justru tampil lebih kritis dan transparan, fraksi penguasa justru terjebak dalam penjelasan yang kabur dan minim subtansi. Ketiga anggota Golkar yang sempat muncul lalu menghilang juga menjadi bukti visual bahwa keputusan absen bukanlah kesalahan teknis, melainkan pilihan politik yang terstruktur.

Kegagalan kuorum ini bukan sekadar soal jadwal yang tertunda. RPJMD adalah dokumen dasar yang menjadi peta jalan pembangunan daerah selama lima tahun. Penundaan pengesahan jadwal berarti penundaan pula terhadap berbagai turunan program, alokasi anggaran, dan target kinerja. Dalam perspektif governance, setiap hari tundaan adalah hiliangnya momentum dan potensi kerugian bagi masyarakat Soppeng.

Lebih jauh lagi, munculnya isu konsultasi ke Jakarta yang dibantah oleh rekomendasi Kemendagri menunjukkan adanya upaya legitimasi atas absennya fraksi. Jika ternyata alasan Jakarta tidak valid, maka publik berhak menuntut pertanggungjawaban etis dan politis dari para anggota dewan yang lebih memilih meninggalkan kewajiban konstituensial demikian krusial.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pimpinan DPRD Soppeng maupun dari Fr

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rangga-pradana

Content Creator. Mengelola konten viral, podcast, dan video pendek.

Comments (0)

User