Lima Destinasi Wisata Ikonik Indonesia Kini Sepi bak Kuburan
Jakarta, Warkini.com — Industri pariwisata Indonesia menyimpan kisah getir di balik kemilau pembangunan era 1990-an hingga 2010-an. Sejumlah destinasi yang
Jakarta, Warkini.com — Industri pariwisata Indonesia menyimpan kisah getir di balik kemilau pembangunan era 1990-an hingga 2010-an. Sejumlah destinasi yang pernah menjadi primadona wisatawan domestik kini berubah menjadi area terbengkalai. Bangunan megah yang dulu dipenuhi tawa pengunjung telah berganti sunyi, bak kota mati yang menyisakan kisah kejayaan semu.
Fenomena ini mencuat setelah Tim Investigasi Warkini menelusuri sejumlah titik destinasi yang viral pada masanya. Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas tempat ini tutup permanen akibat kombinasi manajemen yang buruk, perubahan minat pasar, dan pukulan telak dari pandemi COVID-19 yang mempercepat kematian tempat-tempat tersebut.
Kronologi Kematian Destinasi Populer
Penelusuran kami mengungkap sejarah runtuhnya tempat wisata yang sempat menjadi ikon daerahnya. Berikut urutan kejadian yang berhasil dirangkum dari wawancara dengan pengelola dan masyarakat setempat:
- 2019: Kampung Gajah Wonderland di Bandung Barat mengalami penurunan pengunjung drastis. Beberapa wahana mulai tidak terawat dan ditutup secara bertahap.
- 2020: Pandemi melanda, seluruh operasional tempat wisata di Indonesia dihentikan paksa. Tidak ada pemasukan, tetapi biaya perawatan tetap berjalan.
- 2021: Sejumlah investor menarik diri dari pengelolaan destinasi. Perawatan gedung dan wahana terhenti total.
- 2023-2024: Beberapa lokasi dijual, dibiarkan terlantar, atau diambil alih oleh bank karena utang yang menumpuk. Nasibnya kini sepi tanpa pengunjung, berbentuk reruntuhan yang sesekali dijadikan konten oleh pemburu tempat angker.
Lima Lokasi yang Kini Menjadi Kuburan Sunyi
Dari hasil investigasi lapangan, kami menemukan setidaknya lima lokasi yang mengalami nasib serupa. Kondisi fisiknya menunjukkan betapa cepatnya alam mengambil kembali lahan yang semula dipenuhi bangunan buatan manusia.
“Ini bukan sekadar masalah gagal bersaing. Ini adalah fenomena ‘white elephant’ di sektor pariwisata, di mana proyek dibangun dengan ambisi besar tanpa studi kelayakan yang mendalam,” ujar Dr. Rangga Wisnubrata, pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia, kepada Warkini.
Pertama, kawasan wisata di Puncak, Bogor, yang semula ramai dengan taman rekreasi air kini hanya menyisakan kolam keruh dan patung-patung mengelupas. Infrastruktur pendukung seperti hotel dan restoran pun telah ditutup permanen.
Kedua, taman hiburan di Sentul yang dulu menjadi langganan rombongan sekolah. Ratusan kursi di gedung teaternya kini berkarat, sementara area bermain anak-anak telah ditumbuhi ilalang setinggi manusia.
Ketiga, resor pegunungan di kawasan Lembang yang menawarkan pengalaman alam kini tinggal puing. Kafe-kafe Instagramable yang dulu antre fotonya kini penuh coretan vandalisme.
Keempat, waterpark di pinggiran Jakarta Timur yang pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Properti seluas belasan hektare itu kini dikelilingi pagar seng bertuliskan “Tanah Dijual”.
Kelima, dan yang paling menyita perhatian adalah Kampung Gajah Wonderland. Foto udara yang diambil pada tahun 2022 menunjukkan kompleks seluas puluhan hektare tersebut kosong melompong. Arena pacuan kuda dan lintasan gokart telah retak, ditumbuhi semak belukar. Bangunan utama yang dulu menjadi pusat kuliner kini hanya menjadi sarang kelelawar. Gambaran ini persis seperti sebuah kuburan raksasa di tengah pemukiman.
Data dari Asosiasi Pengelola Wisata Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 30% destinasi wisata buatan yang dibangun sebelum tahun 2015 mengalami penurunan kunjungan drastis atau gulung tikar pada periode 2019–2024. Faktor utamanya adalah utang perbankan, kurangnya inovasi, dan ketidakmampuan beradaptasi dengan tren digital.
Kini, bekas-bekas lokasi tersebut hanya menunggu waktu untuk benar-benar rata dengan tanah, atau diharapkan mendapatkan investor baru yang mampu menyulapnya menjadi destinasi yang lebih relevan dengan minat pasar saat ini. Nasibnya sepenuhnya bergantung pada geliat ekonomi dan keberanian modal untuk bertaruh di sektor ini.
Comments (0)