warkini.
Travel

London — Gereja Inggris Akui Danai Perdagangan Budak Ratusan Pelayaran

Sebuah lembaran hitam sejarah kembali terbuka dan mengguncang publik Inggris. Dokumen historis terbaru dari Register of British Slave Traders mengungkap bu

London — Gereja Inggris Akui Danai Perdagangan Budak Ratusan Pelayaran

Sebuah lembaran hitam sejarah kembali terbuka dan mengguncang publik Inggris. Dokumen historis terbaru dari Register of British Slave Traders mengungkap bukti nyata bahwa sejumlah rohaniwan Church of England (Gereja Inggris) secara aktif mendanai perusahaan yang memperdagangkan ratusan ribu warga Afrika pada masa kolonial.

Temuan ini mencuat di tengah perdebatan sengit mengenai tanggung jawab moral serta tuntutan ganti rugi atau reparasi finansial yang harus ditanggung oleh institusi keagamaan tersebut kepada para keturunan korban perbudakan transatlantik.

Jejak Kelam Finansial: Para Klerus Danai Pelayaran Budak

Catatan sejarah yang baru dianalisis ini menyoroti keterlibatan para pemuka agama dalam menyuntikkan modal ke Royal African Company (RAC). Lembaga perdagangan milik kerajaan tersebut bertanggung jawab atas pengiriman budak dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah perdagangan manusia.

Dari catatan arsip yang dihimpun para peneliti, terungkap rincian peran lembaga gereja:

  • Investasi Langsung: Sejumlah rohaniwan senior menanamkan modal dan menerima dividen langsung dari ekspedisi perdagangan budak melintasi Samudra Atlantik.
  • Ratusan Pelayaran Terdanai: Dana dari para klerus digunakan untuk membiayai operasional kapal-kapal yang mengangkut paksa warga Afrika dari pesisir barat menuju perkebunan di benua Amerika.
  • Keuntungan Finansial Institusi: Keuntungan dari perdagangan manusia tersebut pada masanya turut menopang kas serta pembangunan fasilitas gerejawi di Inggris.

Kunjungan ke Ghana: Mengenang Ottobah Cugoano

Hampir 250 tahun setelah tokoh abolisionis kulit hitam Ottobah Cugoano menyuarakan argumentasi teologis Kristen mengenai pentingnya keadilan reparasi, perwakilan pimpinan Gereja Inggris, Uskup Sarah Mullally, melakukan kunjungan emosional ke Ghana.

Mullally mendatangi langsung pesisir pantai tempat Cugoano ditangkap dan diperbudak saat masih anak-anak. Di sana, ia menyaksikan ruang bawah tanah yang dingin dan sempit tepat di bawah kapel Cape Coast Castle—sebuah benteng pertahanan yang dahulu dioperasikan oleh Royal African Company.

"Menyaksikan ruang bawah tanah di bawah tempat ibadah menjadi pengingat yang sangat menyakitkan tentang bagaimana iman pernah diselewengkan untuk membenarkan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan," ujar perwakilan Gereja Inggris saat menegaskan kembali komitmen perjalanan pertobatan institusi tersebut.

Kronologi dan Langkah Reparasi Gereja

Menghadapi kenyataan sejarah ini, Gereja Inggris kini berada dalam fase krusial untuk menuntaskan komitmen pertobatannya secara nyata. Berikut garis waktu perkembangan langkah tanggung jawab yang diambil:

  1. Pengungkapan Arsip (Fase Investigasi): Peneliti independen menelusuri aliran dana perbudakan yang mengalir ke tubuh yayasan keuangan gereja (Church Commissioners).
  2. Pengakuan Resmi: Gereja mengakui secara terbuka bahwa fondasi kekayaan historis mereka terikat langsung dengan eksploitasi perdagangan budak transatlantik.
  3. Pembentukan Dana Abadi Reparasi: Rencana alokasi dana khusus senilai 100 juta poundsterling untuk program keadilan restoratif, investasi komunitas terdampak, serta riset lanjutan.
  4. Dialog dengan Komunitas Terdampak: Menggelar dialog intensif bersama diaspora Afrika dan Karibia guna memastikan dana kompensasi dikelola secara transparan dan tepat sasaran.

Perdebatan mengenai apakah dana reparasi tersebut cukup untuk menebus dosa masa lalu masih terus bergulir. Namun, langkah pembuktian transparansi arsip ini dinilai menjadi tonggak penting bagi gereja untuk memulihkan martabat kemanusiaan dan menegakkan keadilan restoratif yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sasha-gunawan

Reporter Fashion & Beauty. Meliput tren mode, kecantikan, dan industri kreatif.

Comments (0)

User