Suasana di sekitar kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang terletak di Jalan Garuda, Kota Makassar, mendadak mencekam hingga larut malam. Ratusan demonstran yang terdiri dari elemen mahasiswa dan masyarakat umum memilih bertahan dan menduduki area kantor BUMN tersebut. Mereka meluapkan kemarahan atas krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berkepanjangan dan memicu kelangkaan parah di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Aksi nekat bertahan hingga malam ini dilakukan karena massa merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pihak manajemen Pertamina. Krisis pasokan BBM bersubsidi dalam beberapa pekan terakhir dianggap telah melumpuhkan urat nadi perekonomian warga lokal, sementara kejelasan informasi dari penyalur resmi dinilai sangat minim.
Kronologi Pendudukan Kantor Pertamina hingga Malam Hari
Aksi penyampaian pendapat ini berlangsung dalam beberapa tahapan ketat yang eskalasinya terus meningkat sejak siang hingga malam hari:
- Pukul 14.00 WITA: Massa aksi mulai berdatangan dan mengepung pintu gerbang utama kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sambil membawa spanduk tuntutan dan membakar ban bekas sebagai bentuk protes.
- Pukul 16.30 WITA: Situasi mulai memanas ketika perwakilan demonstran mendesak masuk untuk bertemu langsung dengan General Manager Pertamina Sulawesi. Namun, negosiasi sempat diwarnai aksi saling dorong dengan petugas keamanan dan aparat kepolisian karena jajaran direksi tak kunjung menemui massa.
- Pukul 19.00 WITA: Memasuki waktu malam, bukannya membubarkan diri, massa justru mendirikan tenda darurat di depan pintu masuk utama dan menyalakan ratusan lilin sebagai simbol "matinya keadilan energi" di Sulawesi Selatan.
- Pukul 21.30 WITA: Demonstran secara resmi menyatakan menduduki area pelataran kantor Pertamina dan berikrar tidak akan bergeming sebelum ada komitmen tertulis terkait normalisasi pasokan BBM.
Dampak Krisis BBM dan Jeritan Masyarakat Sulsel
Kelangkaan pasokan BBM di wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa pekan terakhir telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Penumpukan antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terjadi hampir di seluruh pelosok daerah, mengganggu efisiensi kerja warga.
Beberapa poin penting terkait dampak krisis pasokan BBM di lapangan meliputi:
- Antrean SPBU mengular hingga 2 hingga 3 kilometer: Para pengendara motor, mobil pribadi, hingga truk logistik harus mengantre hingga berjam-jam, bahkan ada yang terpaksa menginap di SPBU demi mendapatkan BBM.
- Kelangkaan akut BBM Subsidi: Jenis BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar menjadi yang paling sulit didapatkan warga, memicu dugaan adanya kelalaian distribusi atau praktik penyalahgunaan alokasi.
- Sektor usaha lumpuh: Para sopir angkutan umum, truk pengangkut bahan pokok, hingga nelayan tradisional menjerit karena aktivitas harian mereka terhenti total akibat ketiadaan bahan bakar.
Tuntutan Massa dan Kutipan Pernyataan Sikap
Dalam orasinya yang menggema di tengah kegelapan malam, koordinator lapangan aksi menegaskan bahwa kelangkaan BBM yang terjadi bukanlah masalah teknis biasa, melainkan cerminan dari buruknya tata kelola dan transparansi informasi di tubuh Pertamina Sulawesi.
"Kami hadir di sini bukan sekadar berteriak, tapi mewakili rakyat kecil yang dirugikan. Pertamina harus transparan membuka data kuota dan alokasi BBM untuk Sulsel. Jangan biarkan masyarakat mengantre bertaruh nasib sementara ada dugaan permainan di tingkat distribusi!" tegas Ahmad, salah satu koordinator aksi di lokasi.
Para demonstran melayangkan empat tuntutan utama kepada manajemen Pertamina:
- Membuka secara transparan data kuota serta realisasi penyaluran BBM bersubsidi di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
- Melakukan audit independen terhadap rantai pengiriman dan penunjukan penyalur guna mengusut dugaan kebocoran pasokan.
- Memberikan sanksi tegas hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi oknum atau SPBU nakal yang bermain mata dengan pelangsir.
- Mendesak pencopotan pimpinan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi jika dalam waktu 3x24 jam krisis BBM tidak mampu diatasi.
Tanggapan Pertamina dan Kondisi Terakhir
Menanggapi aksi pendudukan tersebut, pihak Humas Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi akhirnya menyampaikan pernyataan resmi secara terbatas. Pihaknya mengklaim bahwa stok BBM untuk wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya dalam kondisi aman dan mencukupi. Menurut Pertamina, kendala utama yang terjadi beberapa hari terakhir adalah dinamika cuaca buruk di perairan yang mengganggu proses sandar kapal tanker pasokan serta lonjakan konsumsi yang signifikan.
Meskipun pihak Pertamina telah berjanji akan menambah armada mobil tangki dan mempercepat proses penyaluran ke setiap SPBU, massa aksi menegaskan akan tetap bertahan di lokasi hingga ada langkah konkret di lapangan yang membuktikan bahwa antrean panjang warga di SPBU benar-benar telah terurai.
Comments (0)