Manajer Investasi Ungkap Jurus Raup Cuan di Era Perang dan Rupiah Melemah

Ketidakpastian global akibat eskalasi perang dan melonjaknya inflasi domestik memaksa para investor untuk berpikir ulang dalam menyusun strategi. Namun, di

Jul 12, 2026 - 19:05
0 0

Ketidakpastian global akibat eskalasi perang dan melonjaknya inflasi domestik memaksa para investor untuk berpikir ulang dalam menyusun strategi. Namun, di balik tekanan itu, manajer investasi justru melihat peluang “cuan” yang tersembunyi. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MI), salah satu manajer investasi terkemuka, melalui Chief Investment Officer-nya Andi Pratama, membeberkan jurus jitu meraih keuntungan di tengah sentimen perang, rupiah melemah, dan inflasi naik—sebagaimana terungkap dalam video “Jurus MI Keruk Opportunity Cuan” yang baru dirilis.

Sangat kontras dengan kepanikan pasar, Andi menekankan bahwa periode turbulensi justru menghadirkan titik masuk yang menarik. “Ketika semua orang takut, di situlah opportunity itu muncul. Kami fokus pada aset-aset yang pricing power-nya kuat dan punya daya tahan tinggi terhadap inflasi,” ujarnya.

Sentimen Perang dan Rupiah: Ancaman yang Menjadi Peluang

Konflik geopolitik yang berlarut-larut, baik di Timur Tengah maupun Eropa Timur, mengguncang rantai pasok global dan mendorong harga komoditas meroket. Di saat yang sama, rupiah terkapar di kisaran Rp16.200 per dolar AS, terendah dalam beberapa tahun terakhir. Bagi investor awam, situasi ini menakutkan. Namun, MI membaca data berbeda: eksportir dan produsen komoditas di Indonesia justru diuntungkan.

“Pelemahan rupiah itu seperti pedang bermata dua. Bagi perusahaan yang pendapatannya dalam dolar, ini berkah. Kami mengoleksi saham-saham berorientasi ekspor: kelapa sawit, batu bara, nikel, dan logam dasar,” kata Andi.

Ia mencontohkan bahwa setiap pelemahan rupiah 1% saja dapat mendongkrak laba bersih emiten CPO hingga 2–3% karena harga jual produk mereka mengikuti harga global yang dikonversi ke rupiah. Ini menjadi fondasi pertama jurus “Keruk Opportunity Cuan” ala MI: memanfaatkan momentum selisih kurs.

Strategi Sektoral: Tiga Sektor Andalan di Masa Perang

Dalam paparannya, Andi merinci tiga sektor yang saat ini menjadi andalan portofolio MI:

  • Komoditas dan Energi. Harga minyak mentah yang sempat menembus US$90 per barel serta ganggungan pasokan gas dari Rusia membuat saham energi Indonesia naik signifikan. MI mengambil posisi di emiten pertambangan dengan fundamental kuat yang memiliki biaya produksi rendah dan cadangan besar.
  • Perbankan Berbasis Valuta Asing (Valas). Bank-bank dengan porsi kredit valas tinggi terbukti lebih tahan terhadap depresiasi rupiah. “Mereka bisa memetik margin bunga bersih yang lebih tebal dari selisih suku bunga global dan domestik,” jelas Andi.
  • Teknologi dan Digital. Meski sensitif terhadap suku bunga, MI justru selektif masuk ke saham digital yang telah terkoreksi dalam dan mulai mencatatkan pertumbuhan pengguna serta efisiensi operasional. “Ini taruhan pemulihan jangka menengah, valuasinya sudah sangat menarik,” tambahnya.

Sebaliknya, MI mengurangi porsi di sektor properti dan barang konsumsi ritel yang rentan terhadap penurunan daya beli akibat inflasi pangan dan kenaikan suku bunga BI yang agresif.

Emas dan Obligasi Jadi Tameng Inflasi

Selain saham, Andi menekankan pentingnya diversifikasi ke aset aman. “Kami merekomendasikan alokasi minimal 15% portofolio untuk emas dan obligasi pemerintah tenor pendek,” ucapnya. Emas diproyeksikan terus bersinar selama ketidakpastian global tinggi dan bank sentral utama masih menimbun cadangan logam mulia. Sementara itu, obligasi negara—terutama seri SUN dan ORI dengan tenor di bawah 5 tahun—menawarkan imbal hasil riil yang menarik setelah inflasi.

“Obligasi pemerintah sekarang memberi yield di atas 7% untuk tenor pendek. Itu sudah menutupi ekspektasi inflasi kita yang di kisaran 3,5%. Jadi secara riil, investor masih positif, dan lebih likuid dibandingkan deposito,” tegas Andi.

Ia juga menyoroti instrumen reksa dana pasar uang sebagai tempat parkir sementara bagi investor yang ingin tetap likuid namun mendapatkan imbal hasil kompetitif di tengah suku bunga tinggi. Produk ini menurutnya cocok untuk dana darurat atau menunggu momentum masuk pasar saham.

Kunci Sukses: Disiplin dan Jangan Panik

Di penghujung wawancara, Andi kembali mengingatkan bahwa kunci utama meraih cuan di era perang adalah disiplin terhadap rencana investasi jangka panjang dan menghindari keputusan emosional. “Jangan terjebak berita harian. Data historis menunjukkan bahwa investor yang tetap berinvestasi secara rutin di masa krisis selalu keluar sebagai pemenang ketika pasar pulih,” tutupnya.

Video lengkap jurus MI tersebut telah ditayangkan dan menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar, mengundang optimisme bahwa dengan strategi tepat, gejolak rupiah dan perang justru dapat menjadi batu loncatan menuju “cuan” yang berlipat.

[SOCIAL_TWEET]: Dapur MI: Jurus raup cuan di tengah perang dan rupiah ambles. Chief Investment Officer Manulife Aset Manajemen Indonesia beberkan taktik akumulasi saham eksportir, tambang, serta emas. Simak strategi lengkapnya 👇 #InvestasiCerdas #CuanRupiah #PasarModal[SOCIAL_TG]: 📊 Manajer Investasi (MI) bocorkan jurus “Keruk Opportunity Cuan” di tengah perang & rupiah melemah: incar saham eksportir, tambang, bank valas, & emas. Jangan panik, baca strateginya 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User