Di tengah perjuangan berat memulihkan sektor pendidikan pascapandemi, kabar baik akhirnya berembus dari Filipina. Para pelajar di negara tetangga Indonesia ini berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang cukup signifikan dalam tes Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru. Namun, pemerintah Filipina enggan berpuas diri. Sekretaris Departemen Pendidikan (DepEd) Filipina, Sonny Angara, menegaskan bahwa momentum emas ini tidak boleh dilepaskan begitu saja. Intervensi akademik terarah seperti program Academic Recovery and Accessible Learning (ARAL) harus terus dipertahankan dan diperkuat.
Langkah ini diambil setelah melihat dampak positif yang nyata dari berbagai intervensi belajar intensif yang menyasar kesenjangan pemahaman siswa. Menurut Angara, peningkatan nilai siswa Filipina dalam studi internasional adalah bukti valid bahwa strategi pendampingan belajar yang terfokus mulai membuahkan hasil. Oleh karena itu, menghentikan atau mengurangi intensitas program pendampingan saat ini justru akan menjadi langkah mundur yang membahayakan masa depan generasi muda.
Buah Manis Intervensi Terarah Lewat Program ARAL
Program ARAL sendiri lahir sebagai respons konkret terhadap krisis pembelajaran (learning loss) yang melanda anak-anak sekolah akibat penutupan ruang kelas yang panjang. Program ini dirancang khusus untuk memulihkan kemampuan dasar para siswa, terutama pada mata pelajaran krusial seperti Membaca, Matematika, dan Sains. Pendekatan yang dilakukan tidak lagi disaratkan pada kurikulum formal yang kaku, melainkan menggunakan metode intervensi kustom sesuai tingkat ketertinggalan masing-masing murid.
| Fokus Program ARAL | Target Utama | Metode Intervensi |
|---|---|---|
| Literasi Dasar | Siswa Sekolah Dasar (SD) | Bimbingan membaca intensif & modul interaktif |
| Numerasi & Sains | Siswa SMP & SMA | Penyelesaian masalah mandiri & tutor sebaya |
Dalam pernyataan resminya, Angara menekankan bahwa keberhasilan siswa Filipina di ajang PISA bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras para guru, orang tua, dan program penunjang yang konsisten. Ia mengingatkan semua pihak agar tidak cepat merasa aman dengan pencapaian yang ada sekarang.
"Intervensi akademik yang terarah seperti ARAL tidak boleh berhenti di pertengahan jalan. Kita telah melihat hasil yang sangat menjanjikan, dan inilah saatnya untuk melipatgandakan usaha, bukan malah mengendurkan ikatan," tegas Menteri Pendidikan Filipina, Sonny Angara.
Menjaga Momentum Pemulihan Pendidikan Nasional
Melanjutkan program penunjang akademik seperti ARAL membutuhkan komitmen anggaran dan kesiapan tenaga pengajar yang tidak sedikit. Namun, Angara menilai bahwa investasi pada efektivitas belajar jauh lebih berharga daripada membiarkan siswa lulus tanpa penguasaan kompetensi dasar yang memadai. Ke depan, DepEd berencana memperluas jangkauan program ARAL agar bisa menyentuh sekolah-sekolah di pelosok daerah yang selama ini minim akses bantuan pembelajaran tambahan.
Pengamat pendidikan setempat menilai bahwa keberanian Filipina untuk mengakui adanya learning loss dan meresponsnya dengan program pemulihan seperti ARAL patut dicontoh oleh negara-negara berkembang lainnya. "Pendidikan bukanlah sebuah lari cepat, melainkan maraton yang membutuhkan konsistensi tanpa henti," ujar salah satu analis pendidikan di Manila. Tantangan terbesar kini ada pada bagaimana menjaga kualitas pendampingan agar tetap homogen di seluruh wilayah kepulauan Filipina.
Dengan dipertahankannya program ARAL, pemerintah Filipina optimistis bahwa peringkat akademis siswa mereka di tingkat internasional akan terus merangkak naik pada penilaian-penilaian mendatang. Peningkatan ini tak hanya sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud nyata dari pemulihan kualitas sumber daya manusia Filipina yang siap bersaing di kancah global.
Comments (0)