Megawati Kirim Pesan Duka Wafatnya Khamenei, Disiarkan TV Iran
No cap, momen “RIP in peace” scale internasional baru aja terjadi. Mantan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, ngirim pesan duka
No cap, momen “RIP in peace” scale internasional baru aja terjadi. Mantan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, ngirim pesan duka cita atas wafatnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Nggak cuma sekadar dikirim lewat surat diplomatik, pesan ini literally ditayangin di salah satu stasiun TV Iran saat pemakaman. Big feels, big global energy.
Bukan Cuma Formalitas, Ini Momen Diplomasi Hati
Di era di mana tribute post cuma butuh satu story IG, Megawati justru ngebalikin nostalgia diplomasi lama: rekaman video ucapan duka langsung yang dikirim via Kedutaan Besar Iran di Jakarta, lalu diputer di TV nasional Iran. Langkah ini low-key powerful banget—sekaligus jadi chat diplomatik yang lebih personal daripada sekadar press release.
"Wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya kehilangan besar bagi bangsa Iran, tetapi juga telah mengguncang hati banyak orang yang mencintai keadilan, kedaulatan bangsa dan kemanusiaan di seluruh penjuru dunia,"
Kalimat Mega ini langsung jadi headline feel trip. Kita tahu hubungan Indonesia-Iran nggak bisa dibilang "mutual-an" biasa. Ada history panjang soal solidaritas Global South, keadilan Palestina, hingga dukungan terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa. Makanya, pesan ini jelas bukan basa-basi.
Kenapa Harus Sampai Tayang di TV Iran?
Ini dia yang bikin mata kita auto-zoom. Di Iran, pemakaman Khamenei jadi momen nasional yang melibatkan jutaan warga. Stasiun TV Iran nggak sembarangan nayangin klip ucapan duka dari luar negeri. Buat masyarakat Iran, dengar langsung ucapan duka dari tokoh internasional—apalagi dari Indonesia yang notabene negara Muslim terbesar di dunia—itu kayak dapet "validation stamp" bahwa pemimpin mereka juga dihormati secara global.
Ini juga jadi soft diplomacy yang relatable buat gen Z: pesan empati tanpa embel-embel kepentingan politik praktis.
Siapa Sebenarnya yang "Pergi"?
Buat yang belum familiar, Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Dia figur sentral dalam politik Timur Tengah, dengan pengaruh yang jauh melampaui batas negaranya. Wafatnya jadi “era baru” bagi Iran—mirip vibes transisi besar yang biasa kita lihat di series politik global. PDIP dan Megawati sendiri sebelumnya sudah beberapa kali menunjukkan kedekatan ideologis dengan Iran, terutama menyangkut isu kedaulatan dan anti-kolonialisme. Jadi nggak heran kalau pesan ini langsung di-highlight.
Reaksi Netizen +62: Dari Respect Sampai Diskusi Geopolitik
Di timeline, komentar netizen langsung terbelah: ada yang ngasih F in the chat, ada yang debat soal hubungan diplomatik Indonesia ke Timur Tengah, ada juga yang mempertanyakan relevansi. Tapi satu hal yang jelas, ini bukan momen "skip" biasa. Pesan Mega jadi topik diskusi hangat tentang solidaritas, empati internasional, dan peran tokoh bangsa di luar batas birokrasi.
Gen Z Indonesia mulai ngulik: kok bisa ucapan duka dari mantan presiden kita jadi headline di TV Iran? Dan pertanyaan yang lebih dalam: sudah sejauh apa sih hubungan kita sama Iran?
So, menurut lo, momen ini pure respect atau ada soft politics yang lebih dalam? Vote di komentar pake emoji: 🤝 buat pure respect, or 👀 buat there’s more to it. Drop di kolom, kita diskusi bareng di Warkini!
Comments (0)