Mengenang Sosok Pilot Pahlawan: PDI-P Tabur Bunga di Kepulauan Seribu
Suasana haru menyelimuti perairan Kepulauan Seribu. Bukan sekadar agenda rutin partai, peringatan kali ini terasa lebih personal—terutama bagi seorang ibu bangsa. Di tengah birunya laut, DPD PDI Per...
Suasana haru menyelimuti perairan Kepulauan Seribu. Bukan sekadar agenda rutin partai, peringatan kali ini terasa lebih personal—terutama bagi seorang ibu bangsa. Di tengah birunya laut, DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta menggelar prosesi tabur bunga untuk menandai hari kelahiran mendiang Kapten Penerbang Anumerta Surindro Supjarso. Sosoknya bukan hanya pahlawan nasional, melainkan juga cinta pertama Ketua Umum partai, Megawati Soekarnoputri.
Bukan Sekadar Seremonial
Upacara yang digelar di tengah laut ini menjadi penanda bahwa ingatan akan Surindro tak pernah pudar di tubuh PDI-P. Deretan pengurus partai dari tingkat DKI Jakarta hadir langsung, melantunkan doa, lalu dengan khidmat menaburkan kelopak bunga ke permukaan laut. Bukan tanpa alasan lokasi ini dipilih—perairan Kepulauan Seribu menyimpan cerita panjang yang mengiris hati tentang penugasan terakhir sang kapten penerbang.
Surindro Supjarso dikenal sebagai perwira muda TNI Angkatan Udara yang penuh dedikasi. Kariernya sebagai penerbang tempur berakhir tragis saat pesawat yang dikemudikannya jatuh di perairan lepas. Kepergiannya di tahun 1970 menyisakan duka mendalam bagi bangsa dan tentu saja bagi istri mudanya, Megawati, yang saat itu sedang mengandung anak kedua mereka. Sejarah mencatat, bencana itu terjadi saat Surindro menjalankan misi operasi di Papua, meski titik jatuhnya pesawat justru di wilayah laut yang kini menjadi bagian dari Kepulauan Seribu. Kontroversi dan misteri seputar kecelakaan itu masih kerap diperbincangkan, namun bagi keluarga besar PDI-P, yang terpenting adalah mewarisi semangat juangnya.
Kisah Cinta yang Terputus di Langit
Bagi Megawati, Surindro bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah sosok yang menemani saat-saat awal perjuangan politik Sang Proklamator, Bung Karno, memasuki masa-masa sulit. Pernikahan mereka yang berlangsung singkat namun penuh makna itu kerap dikenang melalui foto-foto lawas hitam putih yang tersimpan rapi. Hingga kini, dalam berbagai kesempatan, Megawati tak jarang masih menyelipkan cerita tentang almarhum suaminya sebagai pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan seringkali meminta bayaran mahal.
Prosesi tabur bunga ini seolah menjadi ruang tengah antara urusan partai dan luka personal. Laut yang tenang di pagi itu menjadi saksi bisu bagaimana sejumlah kader senior melepas rindu. Tidak ada pidato panjang atau atribut kampanye mencolok. Hanya doa, bunga, dan air mata yang kadang tertahan. "Ini bukan hanya mengenang seorang pahlawan, tapi juga menghormati bagian dari sejarah keluarga besar PDI Perjuangan," ujar seorang pengurus partai yang enggan disebutkan namanya.
Warisan di Tengah Ombak
Kepulauan Seribu memang kerap menjadi lokasi ziarah alternatif bagi mereka yang kehilangan orang tercinta di laut. Bagi PDIP, ritual tahunan di titik ini memiliki nilai simbolis ganda: mengingat pengorbanan seorang ksatria udara sekaligus merajut soliditas partai menjelang berbagai kontestasi politik. Tak heran, selepas prosesi, para kader terlihat berbaur dengan nelayan lokal, membagikan sembako dan berbincang ringan—sebuah tradisi yang menghidupkan kembali citra partai yang merakyat.
Peringatan hari lahir Surindro Supjarso lewat tabur bunga ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, tersimpan pesan kuat bahwa PDI-P tidak melupakan akar sejarah dan keluarga besarnya. Langit dan laut boleh jadi telah merebut raganya, tetapi namanya terus melekat dalam sanubari perjuangan partai.
Comments (0)