Menjelang peringatan lima abad usia Jakarta, wajah ibu kota kian mengagumkan dengan gedung pencakar langit yang menjulan
Arisan Mampangan: Lebih dari Sekadar Tradisi Jelang Lebaran Arisan Mampangan bukanlah sekadar kegiatan kumpul-kumpul menjelang Hari Raya. Bagi para emak-emak Betawi, praktik ini telah menjelma men
Arisan Mampangan: Lebih dari Sekadar Tradisi Jelang Lebaran
Arisan Mampangan bukanlah sekadar kegiatan kumpul-kumpul menjelang Hari Raya. Bagi para emak-emak Betawi, praktik ini telah menjelma menjadi bank mikro yang mengakar kuat. Ia menjadi instrumen keuangan yang membantu keluarga mengelola pengeluaran, menanamkan disiplin menabung, sekaligus merawat solidaritas sosial di tengah tekanan ekonomi yang kian berat.
Mekanisme Arisan Mampangan sejatinya sederhana namun memiliki fungsi ganda. Selain sebagai wadah silaturahmi dan gotong royong, arisan ini memungkinkan para ibu rumah tangga mengatur arus kas keluarga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada lembaga keuangan formal.
Bertahan di Era Dompet Digital
Yang membuat fenomena ini istimewa adalah daya tahannya. Di saat berbagai inovasi layanan keuangan hadir dalam genggaman—mulai dari tabungan perbankan, pinjaman online, hingga dompet digital—sebagian warga tetap menaruh kepercayaan pada mekanisme kolektif ini. Arisan Mampangan membuktikan bahwa kedekatan sosial dan rasa saling percaya antarwarga menjadi modal utama yang tak tergantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Menurut penelusuran media kami, praktik ini dijalankan dengan sistem yang terorganisir secara swadaya. Setiap anggota menyetorkan sejumlah dana secara rutin, dan hasil kumpulan tersebut diwujudkan dalam bentuk barang kebutuhan pokok atau bahan makanan yang dibagikan menjelang Lebaran. Cara ini dianggap lebih efektif karena langsung menyasar kebutuhan riil rumah tangga, alih-alih sekadar uang tunai yang mudah terpakai untuk hal lain.
Gotong Royong sebagai Benteng Ekonomi Keluarga
Keberadaan Arisan Mampangan menjadi bukti nyata bahwa di tengah laju modernisasi Jakarta, nilai-nilai gotong royong masih menjadi benteng ekonomi keluarga. Para pelaku arisan ini kebanyakan adalah perempuan yang berperan sebagai manajer keuangan rumah tangga, memastikan kebutuhan pokok di hari kemenangan tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain.
Dengan bertahannya tradisi ini, terlihat jelas bahwa Jakarta yang menuju lima abad tidak hanya dibangun oleh beton dan infrastruktur digital, tetapi juga oleh ketahanan budaya dan ekonomi kerakyatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Comments (0)