Menteri Kesehatan Usulkan Penderita TBC Jadi Penerima Makan Bergizi Gratis untuk Percepat Pemulihan
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, secara resmi mengusulkan agar para penderita tuberkulosis (TBC) masuk dalam daftar penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disa
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, secara resmi mengusulkan agar para penderita tuberkulosis (TBC) masuk dalam daftar penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disampaikan dengan dasar bahwa pemenuhan gizi yang optimal menjadi faktor kunci dalam mendukung efektivitas pengobatan dan mempercepat pemulihan fisik pasien. Menkes menyoroti bahwa terapi TBC dengan durasi 6 hingga 12 bulan kerap menguras stamina serta menurunkan daya tahan tubuh, sehingga intervensi gizi menjadi sangat mendesak.
Dalam pertemuan dengan legislatif di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026), Budi Gunadi memaparkan bukti ilmiah yang mendukung usulan tersebut. Ia merujuk pada berbagai publikasi internasional serta praktik serupa yang telah dijalankan oleh negara dengan beban TBC tinggi seperti India dan China. Kebijakan di kedua negara itu menunjukkan bahwa suplementasi gizi bagi pasien TBC berkontribusi nyata terhadap peningkatan angka kesembuhan dan penurunan risiko kematian.
"Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati kan selama enam bulan sampai 12 bulan itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah. Sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya ya," ujar Budi Gunadi Sadikin.
Lebih jauh Menkes menekankan bahwa pemberian nutrisi tambahan tidak sekadar memperbaiki status gizi pasien, melainkan mampu menjadi penentu antara hidup dan mati. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kematian akibat TBC di Indonesia mencapai 126 ribu jiwa per tahun, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kontributor kematian TBC tertinggi di dunia. Kondisi ini diperburuk dengan kerentanan pasien terhadap malnutrisi yang memperlemah sistem imunitas dan memperpanjang masa konversi bakteriologis. Dengan demikian, integrasi program MBG ke dalam tata laksana TBC dinilai sebagai langkah strategis yang dapat memutus lingkaran setan antara kekurangan gizi dan infeksi kronis.
Secara klinis, pasien TBC memerlukan asupan energi dan protein yang lebih tinggi daripada individu sehat. Kekurangan zat gizi makro maupun mikro, seperti vitamin D, zinc, dan zat besi, terbukti memperburuk prognosis terapi. Program MBG yang dirancang pemerintah diharapkan menjadi kendaraan distribusi pangan bernutrisi yang tepat sasaran, sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga pasien yang kerap kehilangan produktivitas akibat sakit. Pengalaman India yang mengintegrasikan bantuan pangan langsung bagi pasien TBC mampu menurunkan angka putus berobat serta meningkatkan keberhasilan pengobatan hingga lebih dari 85 persen.
Rencana perluasan sasaran MBG ini juga diyakini tidak hanya berdampak pada pemulihan individu, tetapi juga pada upaya nasional mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Dengan memperkuat ketahanan fisik pasien, rantai penularan di komunitas dapat ditekan secara signifikan. Informasi ini mengemuka dalam rapat koordinasi antara Kementerian Kesehatan dan DPR RI, dan untuk perkembangan lebih lanjut akan terus dipantau oleh tim redaksi Warkini.com.
Comments (0)