M.H. Thamrin: Underdog Betawi yang Ngegas di Parlemen Kolonial

Pagi di Batavia tuh vibes-nya kayak filter cinematic belum selesai loading—lembap, abu-abu, kanal-kanal berembun tipis kayak kabut di film Wong Kar Wai. Di

Jul 09, 2026 - 19:17
0 1

Pagi di Batavia tuh vibes-nya kayak filter cinematic belum selesai loading—lembap, abu-abu, kanal-kanal berembun tipis kayak kabut di film Wong Kar Wai. Di tengah semua slow motion itu, ada satu pemuda Betawi berdiri, matanya lurus ke depan kota yang ia cintai. Bukan lagi anak kemarin sore, Mohammad Husni Thamrin—atau akrab kita panggil M.H. Thamrin—adalah main character sejati yang lahir di persimpangan dunia lama dan baru. Kolonialisme Belanda kala itu udah “hamil tua,” bunting dengan embrio gagasan Republik yang siap meronta. Dan Thamrin, paham banget kalau buat jungkir balikin sistem, elu harus tau dulu seluk-beluk jalannya, dari gang kecil di Pasar Baru sampai meja rapat balai kota.

Siapa Sih M.H. Thamrin Sebenarnya? Bukan Cuma Nama Jalan, Gue Bisa!

Kalau Gen Z liat nama “Thamrin” cuma sebagai jalan macet di Jakarta, fix kita butuh upgrade wawasan nih. Thamrin itu anak Jakarta yang belajar dari aspal dan sungai, bukan cuma dari buku teks sekolah Belanda. Dia mengerti satu fakta pahit yang super relate sama realita kita hari ini: kolonialisme tuh nggak pernah tidur. Dia adalah udara yang kita hirup tanpa sadar—sistemik, raksasa, dan licik. Thamrin menyerap itu semua dari keramaian pasar, lapangan sepak bola, dan obrolan warga Batavia yang pengen dihargai sebagai manusia. Bukan cuma angka pajak, apalagi sekadar “inlander” yang dibodoh-bodohin.

Volksraad: Panggung Mic Drop Thamrin yang Asli Nggak Kaleng-kaleng

M.H. Thamrin itu multifandom aktivis. Dia nggak cuma jadi anggota Gemeenteraad (dewan kota ala-ala DKI Jakarta jaman dulu), tapi juga melaju ke Volksraad, parlemen Hindia Belanda yang isinya bule-bule kolonial semua. Bayangin, satu-satunya suara lokal yang lantang di tengah panggung penuh mikrofon orang asing. Di sini Thamrin sering banget mic drop dengan argumen yang bikin pejabat Belanda gelagapan. Suaranya yang terkenal sering diparafrasekan jadi begini:

“Batavia bukan milik pemerintah. Batavia milik kami yang lahir, hidup, dan mati di sini. Jangan coba-coba atur kami dengan logika orang jauh yang nggak pernah ngerasain lumpur kali Ciliwung!”

Nggak cuma slow talk doang, Thamrin juga jadi jembatan antara pergerakan nasional dengan akar rumput Betawi lewat Kaoem Betawi dan Partai Indonesia Raya. Dia tahu kalau perlawanan itu harus multidimensi: dari meja rapat elite sampai ke lapak pedagang kecil.

Kenapa Kita Wajib Kenal Thamrin di Era Digital yang FOMO Ini?

Jujurly, Thamrin itu tokoh yang underrated banget. Nggak banyak dibaca, apalagi dibahas di TikTok atau Reels. Padahal jasanya buat fondasi Jakarta dan Indonesia itu gila-gilaan. Dia ngajarin kita bahwa keberpihakan pada rakyat kecil bukan cuma teori, tapi bisa dimulai dari hal sederhana: membangun rumah sakit, memperbaiki sanitasi kampung, dan ngotot anggaran pro-rakyat di parlemen.

Dalam program Nusantara Centre yang bertajuk “Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi raya serta jaya” buat bulan Juni-Juli 2026 ini, Thamrin dipilih sebagai tokoh pertama dari tujuh belas jenius pendiri republik yang akan dibukukan dan difilemkan. It’s giving ‘main character energy’ yang selama ini ketutup.

Vibe Check: Kalau Thamrin Hidup di 2026, Dia Akan Jadi Apa?

Gue berani taruh nyawa kalau Thamrin versi Gen Z bakal jadi influencer kebijakan publik yang nggak cuma strolling di Senayan, tapi juga bikin thread Twitter ngebahas APBD, konten YouTube “Berani Beda” ala-ala parlemen, dan podcast bareng rakyat jelata. Dia pasti bakal trending bukan karena sensasi, tapi karena berani bongkar borok kolonialisme modern: ketimpangan ekonomi, jual beli kebijakan, dan gaya hidup pejabat yang jauh dari realita.

Jadi, udah seharusnya kita spill dan rayakan Thamrin selayaknya pahlawan Gen Z yang lahir lebih dulu. Bukan sekadar nama trotoar atau gedung, tapi simbol bahwa satu suara lokal bisa mengubah peta politik negeri jajahan. Dan kalau Jakarta (d/h Batavia) punya jiwa, Thamrin adalah salah satu detaknya yang paling kencang.

Sumber: Nusantara Centre, Juni 2026. Teks asli: Mikhail Adam, Peneliti Ekopol.

---

DROP DULU GANGS! 🗳️ Menurut bestie Warkini, siapa tokoh kemerdekaan paling underrated yang harus dibikin film biopik? Komen pilihan lo: M.H. Thamrin, Tan Malaka, atau Agus Salim? Atau ada hidden gem lain? Let's discuss! 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User