Neymar dan Ancelotti Satu Visi di Latihan Piala Dunia 2026
Morristown, New Jersey menjadi saksi bisu persiapan serius tim nasional Brasil menjelang laga krusial di Piala Dunia 2026. Di bawah terik matahari awal musim panas, para pemain Seleção menggelar lat...
Morristown, New Jersey menjadi saksi bisu persiapan serius tim nasional Brasil menjelang laga krusial di Piala Dunia 2026. Di bawah terik matahari awal musim panas, para pemain Seleção menggelar latihan intensif di Fasilitas Columbia Park pada 22 Juni kemarin. Satu momen paling menyita perhatian adalah interaksi hangat antara megabintang Neymar Jr. dan pelatih kepala anyar mereka, Carlo Ancelotti.
Chemistry Baru di Tubuh Seleção
Bukan rahasia lagi jika penunjukan Ancelotti sebagai arsitek tim sempat menuai pro dan kontra. Bagaimana tidak, pria asal Italia itu sama sekali tidak punya latar belakang menangani tim nasional dan datang dari kultur sepak bola Eropa yang kental. Namun, sesi latihan kali ini seolah memberi jawaban awal. Neymar, yang kini berusia 34 tahun, terlihat sangat komunikatif dengan sang pelatih. Beberapa kali pemain Al-Hilal itu menghampiri Ancelotti di pinggir lapangan, berdiskusi intens sambil sesekali tertawa. Rekan setim yang melihat interaksi itu secara langsung menyebut chemistry keduanya sudah seperti partner lama.
Pemandangan ini kontras dengan isu-isu sebelumnya yang menyebut Neymar kerap kesulitan beradaptasi dengan pelatih berkarakter kuat. Tapi di tangan Don Carlo, pemilik 79 caps itu tampak menemukan sosok mentor yang tepat. Ancelotti, dengan segudang pengalaman menangani bintang besar seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, tahu persis bagaimana mengelola ego pemain sekaliber Neymar. "Dia memberi saya kebebasan yang bertanggung jawab di lapangan," sebuah sumber dekat tim mengutip ucapan Neymar seusai latihan.
Strategi Ancelotti untuk Turnamen Akbar
Sesi latihan di Columbia Park bukan sekadar pemanasan biasa. Ancelotti disebut tengah meracik formasi hibrida 4-3-3 yang fleksibel, dengan Neymar diproyeksikan sebagai playmaker bebas di lini depan. Berbeda dengan peran tradisionalnya sebagai winger kiri, Ancelotti ingin mengoptimalkan visi bermain Neymar dari poros tengah penyerangan, mirip tugas yang ia embankan kepada James Rodriguez di Real Madrid musim 2014/2015. Eksperimen ini tampak berjalan mulus selama small-sided game, saat Neymar berhasil menciptakan tiga assist dalam tempo 20 menit.
Selain taktik, Ancelotti juga membawa perubahan kultur dalam skuad. Ia mewajibkan sesi "coffee talk" sebelum latihan pagi, di mana seluruh pemain dan staf berkumpul santai sambil minum espresso—kebiasaan khas Italia yang ia yakini mampu mencairkan kebekuan hierarki senior-yunior. Hasilnya, pemain debutan seperti Endrick dan Vitor Roque mengaku lebih cepat berbaur dengan kapten seperti Neymar.
Target Brasil di Piala Dunia 2026 tentu tak main-main: membawa pulang trofi setelah dua dekade penantian. Dengan Ancelotti di kursi pelatih, jalan menuju kejayaan memang belum terlihat jelas, namun fondasi kekompakan sudah mulai terbangun. Kolaborasi Neymar dan sang allenatore menjadi simbol dari Brasil yang lebih matang—dipimpin genius taktik Eropa, dihidupkan magis bakat nomor 10 terakhir negeri Samba.
Baca juga:
Comments (0)