warkini.
Travel

Pastor Filipina Desak Evaluasi Proyek PLTU Batubara 1.200 MW di Quezon

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan kembali memicu perdebatan sengit di Filipina. Seorang pastor Katolik terkemuka sekaligus aktivis lingkungan mendesa

Pastor Filipina Desak Evaluasi Proyek PLTU Batubara 1.200 MW di Quezon

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan kembali memicu perdebatan sengit di Filipina. Seorang pastor Katolik terkemuka sekaligus aktivis lingkungan mendesak Departemen Energi (DOE) Filipina untuk meninjau ulang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara berkapasitas 1.200 megawatt di Atimonan, Provinsi Quezon. Proyek raksasa yang rencananya dibangun di sepanjang pesisir Teluk Lamon ini dinilai berpotensi merusak ekosistem maritim dan masa depan warga pesisir.

Pastor Warren Puno, yang menjabat sebagai koordinator kelompok Quezon for Environment (QUEEN) sekaligus Direktur Kementerian Ekologi di keuskupan setempat, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap ancaman nyata krisis iklim demi proyek energi kotor.

"Kami mendesak Departemen Energi untuk melakukan peninjauan ulang secara menyeluruh, segar, dan transparan atas proyek pembangkit listrik batubara di Atimonan. Masa depan lingkungan dan generasi penerus kita tidak boleh digadaikan demi energi fosil," tegas Pastor Warren Puno.

Kronologi dan Sorotan Utama Penolakan Warga

Penolakan terhadap proyek energi fosil ini bukanlah cerita baru, melainkan akumulasi kekhawatiran warga dan pegiat lingkungan selama bertahun-tahun. Berikut sejumlah poin krusial dalam perjalanan penolakan proyek tersebut:

  1. Rencana Awal Proyek: Pembangunan PLTU 1.200 MW digagas di kawasan pesisir Atimonan untuk menopang kebutuhan listrik Pulau Luzon, namun langsung memicu kritik tajam dari komunitas nelayan lokal.
  2. Kekhawatiran Ekologis Teluk Lamon: Aktivis lingkungan mengidentifikasi bahwa Teluk Lamon merupakan kawasan perikanan tangkap produktif yang menjadi tumpuan ekonomi ribuan keluarga nelayan tradisional.
  3. Desakan Moratorium Energi Fosil: Koalisi masyarakat sipil mengingatkan pemerintah tentang komitmen moratorium izin baru PLTU batubara demi mencapai target penurunan emisi karbon nasional.

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Teluk Lamon

Kawasan pesisir Teluk Lamon bukan sekadar perairan biasa. Wilayah ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang kaya, termasuk terumbu karang dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami abrasi. Keberadaan PLTU batubara dikhawatirkan akan memicu polusi air panas limbah pendingin (thermal pollution) serta emisi partikel beracun yang dapat mematikan habitat ikan.

Menurut kelompok QUEEN, dampak buruk industri batubara meliputi sejumlah risiko krusial berikut:

  • Degradasi Perikanan: Penurunan drastis hasil tangkapan nelayan akibat rusaknya ekosistem terumbu karang di Teluk Lamon.
  • Krisis Kesehatan Publik: Peningkatan risiko penyakit pernapasan kronis bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tapak proyek.
  • Kontradiksi Transisi Energi: Menghambat percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan di Filipina.

Desakan Menuju Energi Bersih dan Berkelanjutan

Gereja Katolik di Filipina secara konsisten memainkan peran aktif dalam advokasi iklim, sejalan dengan seruan ensiklik paus mengenai pemeliharaan bumi. Pastor Puno dan jaringan advokasi lingkungan berharap Departemen Energi Filipina dapat mengalihkan fokus investasi ke sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan bayu, yang memiliki potensi melimpah di wilayah pesisir tanpa harus mengorbankan kelestarian alam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS jovan-pratama

Reporter Kuliner. Food enthusiast. Review restoran, resep, dan tren makanan.

Comments (0)

User