PDIP DKI Tabur Bunga di Kepulauan Seribu, Peringati Hari Lahir Almarhum Surindro Supjarso
Laut Kepulauan Seribu pada hari ini menjadi saksi bisu saat rombongan DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta menggelar prosesi tabur bunga. Bukan sekadar seremoni biasa, upacara yang digelar tepat di perairan...
Laut Kepulauan Seribu pada hari ini menjadi saksi bisu saat rombongan DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta menggelar prosesi tabur bunga. Bukan sekadar seremoni biasa, upacara yang digelar tepat di perairan utara Jakarta itu adalah peringatan hari lahir Kapten Penerbang Anumerta Surindro Supjarso, sosok penerbang yang namanya abadi dalam catatan sejarah bangsa sekaligus suami pertama Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Di Atas Air, Mengenang Pahlawan yang Gugur Muda
Persis di lokasi yang tenang namun sarat makna, puluhan kader partai berlambang banteng moncong putih melepas kelopak bunga ke permukaan laut. Satu per satu, taburan itu melayang, menyatu dengan riak ombak, seolah menjadi jembatan simbolik antara generasi hari ini dan pengorbanan masa lalu. Bendera partai berkibar khusyuk, menciptakan kontras merah yang mencolok di tengah birunya langit dan laut. Hadir dalam prosesi itu, para pengurus teras DPD PDIP DKI bersama sejumlah tokoh yang memiliki ikatan emosional kuat dengan keluarga besar Bung Karno.
Suasana hening seketika menyelimuti kapal yang membawa peserta upacara. Bunyi peluit kapal kecil yang dibunyikan sesaat sebelum penaburan seakan menjadi penghormatan terakhir yang sederhana namun menusuk ke relung hati. Beberapa kader yang sempat diwawancarai tampak menitikkan air mata, mengenang kembali perjalanan hidup sang kapten yang harus berakhir begitu cepat di usia muda.
Sosok Surindro: Bukan Hanya Suami Megawati, Tapi Pahlawan Sejati
Bagi sebagian generasi muda, nama Surindro Supjarso mungkin hanya dikenal sebagai tambahan dalam biografi Megawati. Namun, bagi keluarga besar PDIP, ia adalah pahlawan sejati yang gugur dalam tugas negara. Surindro merupakan perwira TNI Angkatan Udara yang mengemban misi berbahaya di era konflik Papua tahun 1960-an. Pesawat yang ia terbangi jatuh dan hingga kini belum sepenuhnya ditemukan, menyisakan misteri yang mengganjal sejarah.
Kisahnya menjadi semakin menyentuh karena di balik perannya sebagai prajurit, ia adalah suami muda dari seorang putri proklamator, Megawati Soekarnoputri. Pernikahan mereka yang masih seumur jagung terpaksa diakhiri oleh takdir yang pahit. Hari ini, di atas perairan Kepulauan Seribu, kader-kader PDIP menegaskan bahwa pengorbanan itu tidak akan pernah dilupakan. "Ini bukan sekadar seremoni partai, tetapi bentuk penghormatan kepada nilai-nilai keprajuritan dan cinta tanah air yang diwariskan Mas Surindro," ujar seorang tokoh partai yang hadir, dengan suara bergetar.
Upacara tabur bunga ini juga menjadi momen refleksi internal PDIP DKI Jakarta. Di tengah dinamika politik yang kian riuh jelang tahun politik, peringatan semacam ini menjadi pengingat bahwa fondasi partai dibangun oleh air mata dan darah para pendahulu, bukan sekadar perhitungan elektoral. "Kami ingin kader-kader muda memahami, di balik nama besar ketua umum, ada kisah cinta dan tragedi yang membentuk karakter kepemimpinan beliau," tambah sumber yang sama.
Merajut Makna di Tengah Ombak Zaman
Prosesi yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi penanda hari lahir Surindro, tetapi juga menjadi pernyataan bahwa ingatan kolektif partai tetap kuat. Laut Kepulauan Seribu dipilih bukan tanpa alasan—lokasi ini diyakini sebagai titik yang dekat dengan rute pengabdian terakhir sang kapten, menjadikannya simbolik sekaligus sakral. Dengan digelarnya acara ini, PDIP DKI Jakarta berharap generasi penerus tetap meneladani semangat juang dan patriotisme yang dicontohkan oleh Kapten Penerbang Anumerta Surindro Supjarso. Bunga-bunga yang kini hanyut terbawa arus telah menuntaskan tugasnya: mengantarkan pesan bahwa seorang pahlawan tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya berpindah dari medan perang ke dalam kenangan bangsanya.
Comments (0)