PDIP DKI Tabur Bunga Kenang Kapten Surindro di Kepulauan Seribu

Suasana khidmat menyelimuti perairan Kepulauan Seribu ketika jajaran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan DKI Jakarta menggelar sebuah upacara penuh makna. Di atas geladak kapal yang bergerak pe...

Jul 12, 2026 - 03:28
0 0
PDIP DKI Tabur Bunga Kenang Kapten Surindro di Kepulauan Seribu

Suasana khidmat menyelimuti perairan Kepulauan Seribu ketika jajaran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan DKI Jakarta menggelar sebuah upacara penuh makna. Di atas geladak kapal yang bergerak perlahan, satu per satu kelopak bunga ditebarkan ke permukaan laut yang tenang. Bunga-bunga itu bukan sekadar ornamen seremoni, melainkan simbol penghormatan mendalam yang ditujukan kepada seorang tokoh penting dalam sejarah kedirgantaraan Indonesia: Kapten Penerbang Anumerta Surindro Supjarso. Upacara ini digelar untuk menandai hari kelahirannya, mengenang dedikasi dan pengorbanan sang perintis yang juga merupakan suami pertama dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Mengenang Sosok Perintis di Balik Legenda

Bagi banyak orang, nama Surindro Supjarso mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh militer yang namanya diabadikan dalam buku sejarah arus utama. Namun, di lingkungan TNI Angkatan Udara dan keluarga besar PDI Perjuangan, sosoknya dikenang sebagai simbol keberanian dan integritas. Surindro bukanlah penerbang biasa. Ia merupakan salah satu perwira muda terbaik yang turut membentuk fondasi kekuatan udara Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan. Sebagai seorang kapten penerbang, ia menjalani karier yang cemerlang, penuh dengan misi-misi berbahaya yang menuntut ketangguhan fisik sekaligus mental. Sayangnya, takdir berkata lain. Surindro gugur dalam sebuah kecelakaan pesawat yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya dan spekulasi di kalangan sejarawan serta pengamat militer. Misteri seputar insiden nahas itu justru semakin mengukuhkan posisinya sebagai figur yang tak lekang oleh waktu.

Upacara di Tengah Laut: Lebih dari Sekadar Seremoni

Pemilihan Kepulauan Seribu sebagai lokasi upacara bukanlah tanpa alasan. Hamparan laut yang mengelilingi gugusan pulau-pulau kecil itu menyimpan nilai simbolis yang kuat. Laut dianggap sebagai ruang perenungan—tempat di mana kenangan dan harapan bisa bersatu tanpa batas. Dalam tradisi Jawa yang masih melekat di tubuh partai berlambang banteng ini, laut juga kerap dimaknai sebagai simbol penglepasan sekaligus pengharapan akan keabadian. Para kader yang hadir tampak khusyuk. Mereka tidak sekadar melemparkan bunga ke air, tetapi juga melantunkan doa-doa yang tulus. Beberapa di antaranya bahkan terlihat menitikkan air mata, menegaskan bahwa hubungan emosional dengan almarhum tetap terpelihara meski waktu telah berlalu puluhan tahun.

Tidak ada pidato panjang lebar yang menggurui. Upacara berlangsung dalam format yang sederhana namun sarat arti. Justru dalam kesederhanaan itulah letak kekuatan pesannya: bahwa seorang pejuang sejati tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan kolektif. Ia hidup dalam semangat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, terutama kepada kader-kader muda partai. Bagi mereka yang mungkin hanya mengenal Surindro lewat cerita para senior, momen ini menjadi pelajaran berharga tentang arti pengabdian yang tulus—bukan untuk popularitas atau jabatan, melainkan demi bangsa dan nilai-nilai yang diyakininya.

Tautan Sejarah dan Masa Depan Partai

Tidak bisa dimungkiri, sosok Surindro Supjarso memiliki tempat istimewa dalam narasi besar PDI Perjuangan. Sebagai suami dari Megawati, ia adalah bagian dari keluarga ideologis yang ikut membentuk karakter partai. Namun, yang ditekankan dalam upacara ini bukan sekadar hubungan personal, melainkan nilai-nilai kepahlawanan yang ia representasikan. Kapten Surindro adalah potret dari dedikasi tanpa pamrih, sesuatu yang selalu coba ditanamkan oleh PDIP kepada seluruh kadernya di seluruh Indonesia. Dalam konteks kekinian, di mana politik praktis seringkali terjebak dalam pragmatisme dan perebutan kuasa, mengenang figur seperti Surindro menjadi semacam oase yang menyegarkan. Ia mengingatkan bahwa di balik hiruk pikuk panggung politik, selalu ada ruang untuk menghormati jasa dan pengorbanan.

Upacara tabur bunga ini juga bisa dibaca sebagai pesan simbolik bahwa partai tidak pernah melupakan akar sejarahnya. Dengan terus merawat ingatan akan tokoh-tokoh yang telah mendahului, PDIP ingin menunjukkan bahwa perjuangan mereka bukanlah proyek jangka pendek, melainkan sebuah kontinuitas panjang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Laut Kepulauan Seribu yang menjadi saksi bisu hari itu akan terus menyimpan rahasia tentang doa-doa dan harapan yang dipanjatkan. Sementara itu, bagi para kader yang kembali ke daratan, tugas sejarah menanti: memastikan bahwa semangat kepahlawanan seperti yang dicontohkan Kapten Surindro tetap relevan dan hidup dalam setiap langkah perjuangan mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User