Penumpang Inggris Mabuk Bikin Kisruh Penerbangan Internasional

Industri penerbangan internasional kembali dihebohkan oleh serangkaian insiden melibatkan penumpang dan awak kabin yang berperilaku tidak terpuji, dengan p

Jul 20, 2026 - 02:25
0 0
Penumpang Inggris Mabuk Bikin Kisruh Penerbangan Internasional

Industri penerbangan internasional kembali dihebohkan oleh serangkaian insiden melibatkan penumpang dan awak kabin yang berperilaku tidak terpuji, dengan pola yang mengkhawatirkan terkait konsumsi alkohol berlebihan. Dari tindakan asusila hingga kekacauan fisik di udara, awak kabin harus menghadapi berbagai situasi yang menantang dan berbahaya, memunculkan kembali istilah "kemarahan udara" atau air rage yang tingkatnya melonjak pasca pandemi.

Rentetan Insiden Terbaru di Awal Musim Liburan

Musim liburan musim panas 2026 baru dimulai, namun rangkaian kejadian negatif sudah memanaskan situasi. Puncaknya terjadi pekan lalu, ketika seorang turis Inggris berusia 30 tahun yang sedang mabuk berat mencoba mencium seorang pramugari pria di dalam pesawat. Pria tersebut dilaporkan menghabiskan waktu seminggu di Mallorca seolah-olah perbuatannya tanpa konsekuensi, sebelum akhirnya ditangkap oleh otoritas Spanyol di Bandara Palma saat dalam perjalanan pulang ke Inggris.

Insiden ini bukanlah yang pertama. Februari lalu, maskapai Jet2 menjatuhkan hukuman larangan terbang seumur hidup kepada dua penumpangnya. Hukuman berat itu dijatuhkan setelah terjadi perkelahian sengit (mid-air brawl) di dalam pesawat yang terbang dari Turki ke Manchester. Baru-baru ini, maskapai kenamaan British Airways (BA) juga harus membatalkan sebuah penerbangan dari Barbados ke Inggris. Pembatalan tersebut terpaksa dilakukan karena sebagian awak kabinnya masih terlalu mabuk dari pesta di bar hotel dan tidak dapat menjalankan tugas penerbangan dengan aman.

Sebuah benang merah menghubungkan ketiga insiden ini. Seperti yang dikatakan oleh pramugari Thomas, 27 tahun, dengan nada pasrah, "Ya, orang Inggris mabuk – kalian tahu bagaimana keadaannya." Pengalamannya mencerminkan realitas pekerjaan mereka di ketinggian: menghadapi tawaran asusila yang kurang ajar, amuk mabuk, pelecehan fisik, keluhan tanpa henti, dan perilaku kotor dari sesama penumpang maupun kolega.

"Air Rage" Meroket Pasca Pandemi COVID-19

Istilah "kemarahan udara" memang sudah ada sejak era 90-an, namun perilaku yang dimaksud mengalami peningkatan drastis setelah pandemi COVID-19. Data menunjukkan skala masalahnya. Pada tahun 2021 di Amerika Serikat, jumlah insiden "air rage" yang dilaporkan lebih banyak daripada total gabungan insiden dari tiga dekade sebelumnya. Para analis mengidentifikasi munculnya kategori pelanggaran baru yang menjadi pemicu: ketidakpatuhan terhadap aturan penggunaan masker kesehatan (mask non-compliance).

Tekanan pekerjaan pramugari pun berlipat ganda. Mereka tidak hanya harus menguasai prosedur keselamatan penerbangan dan layanan pelanggan, tetapi juga menjadi petugas keamanan, mediator konflik, dan bahkan tenaga pengendali kerumunan dalam ruang terbatas di ketinggian ribuan kaki. Tren peningkatan insiden ini memaksa maskapai dan otoritas penerbangan untuk meninjau kembali protokol pengamanan dan penegakan aturan, terutama terkait pemesanan dan penyajian alkohol di pesawat. [SOCIAL_TWEET]: "Orang Inggris minum seperti tak pernah minum sebelumnya' - Pengakuan pramugari soal tingkah penumpang. Kasus terkini: dari coba cium pramugari hingga penerbangan dibatalkan karena kru mabuk. Trend air rage memangkas catatan sejarah pasca pandemi. #Penerbangan #AirRage #Keselamatan" [SOCIAL_TG]: "LAPORAN KHAS: Kisah di balik layar penerbangan yang jarang tersingkap. Pekan lalu, turis Inggris ditangkap di Spanyol karena mencium pramugari. Sebelumnya, Jet2 larang seumur hidup dua penumpang akibat perkelahian. Sementara BA batalkan penerbangan karena kru mabuk. Tren 'air rage' terus menanjak. #BeritaInternasional #Penerbangan"

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User