warkini.
Viral

Perpusnas Jakarta Jadi Ruang Belajar Ramah Anak dan Disabilitas

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, sebuah gedung menjulang di kawasan Medan Merdeka Selatan menyimpan jutaan cerita dalam bentuk buku. Perpustakaan Nasional Re

Perpusnas Jakarta Jadi Ruang Belajar Ramah Anak dan Disabilitas

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, sebuah gedung menjulang di kawasan Medan Merdeka Selatan menyimpan jutaan cerita dalam bentuk buku. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bukan sekadar bangunan megah dengan deretan rak menjulang. Lebih dari itu, ia adalah rumah bagi siapa saja yang ingin belajar — termasuk anak-anak dan mereka yang selama ini sering terpinggirkan.

Pada Selasa, 18 Februari 2020, suasana ruang baca anak di Perpusnas terlihat berbeda. Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) tampak asyik menekuni buku-buku bergambar yang tersaji di rak rendah, disesuaikan dengan tinggi tubuh mereka. Tawa kecil dan bisik-bisik antusias mewarnai sudut ruangan yang dirancang khusus agar anak-anak merasa nyaman, bukan terintimidasi oleh suasana perpustakaan yang biasanya identik dengan keheningan kaku.

Bukan Sekadar Koleksi, Ini Soal Akses

Perpusnas memang dikenal memiliki koleksi yang lengkap — mulai dari manuskrip kuno, buku langka, hingga terbitan terbaru. Namun, yang membuatnya istimewa adalah komitmennya terhadap inklusi. Gedung ini menyediakan layanan khusus bagi penyandang disabilitas dan lansia, memastikan bahwa pengetahuan tidak boleh dibatasi oleh kondisi fisik seseorang.

Fasilitas ramah disabilitas di Perpusnas mencakup jalur khusus kursi roda, lift dengan tombol Braille, hingga koleksi buku Braille dan buku bicara (audiobook) bagi penyandang tunanetra. Bagi lansia, tersedia ruang baca dengan pencahayaan yang lebih terang dan akses yang mudah dijangkau tanpa harus menaiki tangga.

"Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku. Ini adalah ruang publik yang harus bisa diakses semua orang, tanpa terkecuali. Anak-anak, lansia, teman-teman disabilitas — semuanya punya hak yang sama untuk belajar di sini."

Pernyataan tersebut mencerminkan semangat yang diusung Perpusnas sebagai perpustakaan nasional. Inklusi bukan jargon kosong, melainkan praktik nyata yang terlihat di setiap sudut gedung.

Ruang Anak yang Dirancang dengan Hati

Ruang perpustakaan untuk anak-anak di Perpusnas dirancang bukan sekadar sebagai tempat membaca. Ada area bermain edukatif, karpet warna-warni, dan koleksi buku yang dikurasi sesuai tahap perkembangan anak. Tujuannya jelas: menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini.

Bagi banyak orang tua di Jakarta, kehadiran fasilitas ini menjadi alternatif wisata edukatif akhir pekan yang murah dan berkualitas. Perpusnas buka setiap hari kerja, dan layanan anak tersedia tanpa biaya masuk. Angka kunjungan yang terus meningkat dari kalangan pelajar menjadi indikator bahwa kebutuhan ruang belajar publik yang aman dan nyaman memang nyata adanya.

Namun, tantangan tetap ada. Sosialisasi mengenai layanan disabilitas dan lansia dinilai masih belum merata. Banyak keluarga yang belum tahu bahwa Perpusnas menyediakan fasilitas khusus tersebut. Di sinilah peran media dan komunitas menjadi penting untuk menyebarkan informasi.

Menuju Perpustakaan yang Setara

Keberadaan Perpusnas dengan segala fasilitasnya adalah cerminan bagaimana sebuah negara memandang pentingnya literasi. Ketika anak-anak SD bisa duduk nyaman membaca buku, dan penyandang disabilitas bisa mengakses koleksi tanpa hambatan, di situlah keadilan pendidikan mulai ditegakkan.

Perpusnas bukan hanya simbol kejayaan literasi nasional. Ia adalah bukti bahwa ruang publik yang baik adalah ruang yang memikirkan semua orang — dari anak kecil hingga lansia, dari yang sehat hingga yang memiliki keterbatasan fisik. Kunjungi, manfaatkan, dan sebarkan informasi ini seluas mungkin. Karena perpustakaan terbaik adalah perpustakaan yang benar-benar digunakan oleh masyarakatnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sasha-gunawan

Reporter Fashion & Beauty. Meliput tren mode, kecantikan, dan industri kreatif.

Comments (0)

User