Suasana tenang di Kabupaten Buleleng, Bali, mendadak berubah tegang pada Rabu pagi. Petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Buleleng bersama pemerintah desa dan kecamatan setempat harus bekerja ekstra keras untuk merujuk dua Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng. Langkah tegas ini diambil setelah aksi emosional keduanya dinilai mulai membahayakan keselamatan masyarakat sekitar.
Kondisi penderita gangguan jiwa yang mendadak kambuh memang kerap memicu kekhawatiran. Apalagi jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, potensi kerugian materi hingga cedera fisik bagi warga sekitar bisa saja tak terhindarkan.
Detik-Detik Kericuhan di Pasar Desa Depaha
Insiden pertama bermula sekitar pukul 06.30 WITA di Desa Depaha, Kecamatan Kubutambahan. Seorang perempuan berinisial LW mendadak hilang kendali dan mengamuk di sebuah warung kelontong dekat tempat tinggalnya. Tanpa alasan yang jelas, LW memberantakkan berbagai barang dagangan dan meluapkan amarahnya secara destruktif.
Kepanikan warga semakin memuncak ketika LW mengambil sebilah bambu dan melayangkan pukulan keras ke arah pemilik warung. Pukulan tersebut mengenai bagian kaki korban hingga mengalami luka bengkak yang cukup parah. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa LW sebenarnya sudah mengidap gangguan kejiwaan selama kurang lebih 7 tahun.
"Selama bertahun-tahun ini dia cuma sering berbicara sendiri dan tidak pernah sekalipun mengamuk. Tapi entah kenapa, pagi itu situasinya berubah total sampai kami terpaksa minta bantuan desa," ungkap salah satu kerabat korban.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, Pemerintah Desa Depaha segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Kubutambahan dan Satpol PP Buleleng. Petugas bergerak cepat melakukan pengamanan secara hati-hati agar LW bisa dievakuasi ke RSUD Buleleng demi mendapatkan penanganan kejiwaan yang intensif.
Putus Obat dan Aksi Pelemparan di Kelurahan Kendran
Belum usai penanganan di Desa Depaha, laporan serupa kembali diterima Satpol PP Buleleng pada hari yang sama. Kali ini keresahan melanda warga di Kelurahan Kendran akibat ulah seorang pria berinisial KSY (46). Pria tersebut dilaporkan nekat melempar ingke—piring anyaman bambu khas Bali—ke tengah jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
Berdasarkan penuturan Kepala Lingkungan setempat, KSY memiliki riwayat gangguan kejiwaan yang cukup panjang, yaitu hampir 10 tahun. KSY sebenarnya sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli dan kondisinya sempat menunjukkan kemajuan pesat.
Namun, petaka kembali muncul saat KSY menolak untuk mengonsumsi obat secara teratur. Akibat putus obat, emosi KSY kembali tidak stabil hingga membahayakan para pengguna jalan. Mengingat risiko kecelakaan lalu lintas yang tinggi, warga memutus untuk meminta bantuan Satpol PP Buleleng untuk mengamankannya.
Perbandingan Kasus Penanganan ODGJ di Buleleng
Berikut adalah ringkasan data mengenai dua kejadian penanganan ODGJ yang dievakuasi oleh petugas gabungan di Buleleng:
| Parameter | Kasus 1 (Desa Depaha) | Kasus 2 (Kelurahan Kendran) |
|---|---|---|
| Inisial & Usia | LW (Perempuan) | KSY (Pria, 46 Tahun) |
| Lama Riwayat Sakit | Sekitar 7 Tahun | Hampir 10 Tahun |
| Aksi Berbahaya | Merusak barang warung & memukul kaki warga dengan bambu | Melempar ingke ke tengah jalan raya |
| Penyebab Utama | Perubahan kondisi psikologis mendadak | Putus obat (Menolak konsumsi obat rutin) |
| Tindakan Akhir | Dievakuasi ke RSUD Buleleng | Dievakuasi ke RSUD Buleleng |
Pentingnya Pendampingan Obat dan Kepedulian Lingkungan
Kambuhnya kondisi KSY menjadi cermin nyata betapa pentingnya peran pendampingan keluarga dalam memastikan pasien gangguan jiwa rutin meminum obat. Gangguan jiwa merupakan penyakit medis kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Ketika terapi obat terhenti, risiko kambuh dengan gejala agresivitas tinggi menjadi jauh lebih besar.
Langkah sigap warga dan respons cepat Satpol PP Buleleng patut diapresiasi karena berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak. Penanganan humanis tanpa kekerasan yang diterapkan petugas membuktikan bahwa keselamatan pasien ODGJ maupun masyarakat umum dapat dijaga secara seimbang.
Kini, baik LW maupun KSY telah berada dalam penanganan medis tim dokter spesialis jiwa di RSUD Buleleng. Harapannya, melalui perawatan yang tepat dan pengawasan ketat pascarawat nanti, kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
Comments (0)