Panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI yang berlangsung di Kota Semarang mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perhelatan akbar keagamaan ini, panitia resmi menggelar ajang ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat. Acara terobosan ini dirancang khusus bagi Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) atau teman Tuli.
Langkah inklusif tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Sebanyak 28 peserta dari sembilan provinsi di seluruh Indonesia turut ambil bagian untuk menunjukkan kepiawaian mereka dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an melalui bahasa isyarat standar yang telah disusun secara sistematis.
Langkah Awal Membuka Ruang Inklusif di Panggung Nasional
Perhelatan MTQ selama puluhan tahun identik dengan keindahan lantunan suara dan kefasihan tajwid secara lisan. Namun, kehadiran ekshibisi tartil isyarat membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran dan bicara bukanlah penghalang untuk berinteraksi secara mendalam dengan Al-Qur'an.
"Kehadiran cabang ekshibisi ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wujud nyata keadilan ruang ibadah dan syiar Al-Qur'an yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk teman-teman Tuli," ujar salah satu perwakilan panitia penyelenggara.
Kronologi dan Antusiasme Peserta dari Berbagai Provinsi
Rangkaian perhelatan ekshibisi ini berlangsung dengan tertib dan penuh haru melalui beberapa tahapan penting:
- Registrasi dan Verifikasi: Sebanyak 28 peserta terpilih diverifikasi identitas serta delegasi wilayahnya dari 9 provinsi yang siap unjuk kemampuan.
- Sesi Orientasi Teknis: Dewan juri dan peserta menyelaraskan pedoman membaca mushaf isyarat yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.
- Penampilan Panggung Ekshibisi: Para peserta tampil satu per satu di mimbar tilawah, menerjemahkan serta melafalkan ayat suci dengan ekspresi wajah dan gerakan tangan yang presisi.
- Evaluasi dan Apresiasi: Penilaian difokuskan pada ketepatan tanda isyarat, pemahaman hukum bacaan, kelancaran, serta adab tilawah.
Rincian Pelaksanaan dan Dukungan Mushaf Isyarat
Pelaksanaan ajang ini tidak lepas dari kehadiran Mushaf Al-Qur'an Isyarat yang telah dirilis secara resmi oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama. Mushaf ini mengadopsi metode isyarat fonetik maupun isyarat kata per kata yang memudahkan para penyandang disabilitas rungu wicara untuk membaca hukum tajwid secara visual.
Sejumlah aspek penting yang mewarnai jalannya ekshibisi antara lain:
- Akurasi Gerakan Isyarat: Penilaian cermat terhadap ketepatan makhorijul huruf isyarat yang diperagakan peserta.
- Dukungan Komunitas: Antusiasme tinggi dari berbagai komunitas Tuli dan pemerhati disabilitas yang memadati arena lomba.
- Transparansi Penjurian: Keterlibatan pakar bahasa isyarat serta praktisi tahsin Al-Qur'an yang memahami fonologi isyarat secara komprehensif.
Harapan Menuju Cabang Lomba Resmi di Masa Depan
Penyelenggaraan ekshibisi perdana di Semarang ini diharapkan menjadi batu loncatan yang kokoh. Panitia dan berbagai lembaga berharap pada MTQ Nasional edisi berikutnya, Tartil Al-Qur’an Isyarat sudah dapat ditetapkan sebagai cabang lomba resmi yang memperebutkan gelar juara nasional, bukan lagi sekadar kategori ekshibisi.
Dengan keterlibatan puluhan peserta dari 9 provinsi ini, pesan inklusivitas syiar Islam makin menggema kuat: bahwa Al-Qur’an adalah rahmat bagi seluruh alam, merangkul setiap insan tanpa terkecuali.
Comments (0)