JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman pedas terhadap Iran setelah serangan pesawat nirawak (drone) menghantam sebuah kapal kargo berbendera Singapura yang melintas di Selat Hormuz. Insiden yang terjadi pada Sabtu (27/6/2026) itu langsung digambarkan Trump sebagai pelanggaran ceroboh terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah diupayakan di kawasan Teluk. Berdasarkan laporan yang diterima Warkini.com, serangan tersebut memicu ketegangan baru di jalur pelayaran paling vital dunia itu.
"Salah satu drone menghantam telak dek atas sebuah kapal kargo besar yang sangat mahal, sementara tiga drone lainnya ditembak jatuh," tulis Trump dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, seperti dihimpun Warkini.com dari berbagai sumber.
Trump menyebut aksi militer Iran itu sebagai "pelanggaran bodoh" yang mengancam stabilitas kawasan. Pernyataannya merujuk pada perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya terjalin untuk menjaga keamanan pelayaran di perairan strategis tersebut. Meski belum ada laporan korban jiwa, insiden ini dianggap sebagai ujian pertama terhadap kesepakatan damai yang baru berjalan beberapa pekan. Para pengamat khawatir serangan drone ini akan memicu respons keras dari Washington, termasuk kemungkinan sanksi baru atau eskalasi militer.
Lalu Lintas Selat Hormuz Mulai Pulih
Di tengah memanasnya ketegangan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data yang dihimpun media kami menyebutkan bahwa sebanyak 115 kapal telah melintas dengan selamat sejak pembukaan kembali jalur tersebut. Sekitar 2.500 pelaut juga telah dievakuasi dalam proses normalisasi maritim yang diawasi ketat oleh koalisi internasional. Angka ini menegaskan peran krusial Selat Hormuz sebagai urat nadi distribusi minyak dan gas dunia.
“Setiap bentuk agresi terhadap kapal niaga di perairan internasional tidak akan kami biarkan begitu saja,” imbuh Trump dalam unggahannya, menekankan bahwa stabilitas di kawasan Teluk merupakan prioritas utama pemerintahannya. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran, Singapura, maupun otoritas maritim internasional belum memberikan pernyataan resmi. Warkini.com akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan.
Comments (0)