Unhas Lantik 21 Pejabat, Bentuk Lembaga AI Demi Kampus Kelas Dunia

Bayangin deh, lagi asyik scroll TikTok sambil dengerin lagu lo-fi, tiba-tiba kampus kamu ngumumin gebrakan baru: lembaga khusus AI yang langsung di bawah r

Jul 08, 2026 - 05:13
0 1

Bayangin deh, lagi asyik scroll TikTok sambil dengerin lagu lo-fi, tiba-tiba kampus kamu ngumumin gebrakan baru: lembaga khusus AI yang langsung di bawah rektor. Bukan level direktorat lagi, gengs. No cap, Universitas Hasanuddin (Unhas) literally baru aja bikin transformasi digital jadi prioritas utama dengan melantik 21 pejabat sekaligus meresmikan Lembaga Transformasi Digital dan Artificial Intelligence. Acaranya digelar di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Kampus Unhas, Selasa (7/7/2026), dan vibes-nya tuh berasa kayak launching startup unicorn, bukan sekadar seremoni formal.

Sobat kampus, ini bukan cuma soal ganti-ganti struktur. Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., atau yang akrab disapa Prof. JJ, bilang kalau ini adalah penyegaran organisasi untuk periode kedua kepemimpinannya. Tapi twist-nya? Hampir semua pejabat lama tetap dipertahankan karena, seperti kata beliau, “Mimpi-mimpi besar kami masih on progress, gengs!”

Yang Lama Masih Lanjut, Bukan karena Gak Ada yang Baru

Ketika ditanya kenapa sebagian besar pejabat masih sama, Prof. JJ dengan santai menjawab bahwa periode 4 tahun itu terlalu singkat. “Banyak program strategis yang belum mencapai garis finish, jadi tim yang udah paham blueprint-nya harus tetap di garda depan,” ujarnya. Simpel tapi logis, kan? Kayak main game RPG, kita butuh party yang udah level tinggi buat ngalahin boss terakhir, bukan rekrut karakter baru yang masih cupu.

“Empat tahun terlalu singkat sehingga banyak mimpi kami masih on progress. Karena itu sebagian besar pejabat masih melanjutkan tugasnya, seperti halnya saya masih lanjut.” – Prof. JJ

Jadi, ini bukan soal status quo. Ini soal kontinuitas visi. Mereka udah punya roadmap, dan sekarang waktunya ngegas. Btw, di antara 21 pejabat yang dilantik ada posisi wakil rektor, dekan, hingga ketua lembaga, yang menandakan semua lini siap diselaraskan dengan roket digital yang baru diluncurkan.

Lembaga AI: Bukan Pilihan, Tapi Keniscayaan

Nah, bagian yang paling bikin penasaran: Lembaga Transformasi Digital dan AI. Ini bukan sekadar unit IT biasa yang ngurusin WiFi kampus atau bantu mahasiswa ganti password SIA. Lembaga ini ditempatkan langsung di bawah rektor, setara dengan posisi super strategis, agar bisa bergerak lincah tanpa birokrasi panjang. “Kalau cuma di tingkat direktorat, pengembangannya bisa lambat kayak buffering video di jam sibuk,” seloroh Prof. JJ.

Unhas pengen jadi data center andalan di Indonesia Timur. Kebayang, kan? Semua data riset, administrasi, bahkan mungkin skripsi mahasiswa kelak bakal diolah dengan AI. Tapi target mereka lebih dari itu: Aplikasi AI harus nempel di seluruh tridarma perguruan tinggi, mulai dari pengajaran, penelitian, sampai pengabdian masyarakat. Bener-bener “AI is the new black” ala Unhas.

Dan ini bagian paling ngena: semua dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa harus punya literasi AI. Bukan cuma bisa pakai ChatGPT buat ngerjain tugas, ya. Lebih dalam dari itu. Revolusi ini memaksa setiap orang di kampus untuk melek teknologi paling hype di era Gen Z ini.

“Semua dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa harus memiliki literasi artificial intelligence. AI bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keniscayaan yang harus direspons perguruan tinggi.” – Prof. JJ

Riset Internasional: Naik Kelas Bareng Global Research Institute

Gak cuma AI, Unhas juga bikin Global Research Institute untuk nge-boost riset internasional. Tujuannya? Biar ranking mereka naik ke level world class university. Jadi, kalau selama ini riset sering jalan sendiri-sendiri, sekarang semua pusat riset internasional bakal dihimpun di bawah satu atap. Akses pendanaan dari lembaga global pun lebih terbuka lebar. Ini kayak cross-over episode di series favoritmu: semua karakter kunci gabung demi satu misi besar.

Prof. JJ menyadari, “Kalau Unhas menggunakan cara yang sama, kita bakal stagnan.” Makanya, harus ada pendekatan baru yang out of the box, berani, dan tentunya relevan dengan ekosistem global yang serba digital dan kolaboratif.

Semua Akan Melek AI, Mau Gak Mau

Jadi, gimana nih perasaan kamu? Siap jadi mahasiswa yang akrab sama AI secara sistemik? Atau malah khawatir AI bakal bikin banyak tugas jadi kaku dan gak ada “roh” manusianya? Unhas jelas ambil sikap: they go all in on AI. Bahkan Prof. JJ sudah menugaskan salah satu wakil rektor untuk mengawal langsung program ambisius ini.

Yang jelas, gelombang AI di kampus bukan lagi sekadar tren atau mata kuliah pilihan. Ini tentang bertahan dan menang di era disrupsi. Dan Unhas, dengan langkah barunya ini, kayaknya gak mau cuma jadi penonton. Mereka mau jadi protagonis di panggung universitas kelas dunia.

So, menurut kamu, apakah setiap kampus perlu punya lembaga khusus AI kayak gini? Atau cukup dibebasin ke fakultas masing-masing? Vote pendapatmu ya! 👇

[QUICK POLL] Apakah kehadiran lembaga AI di kampus bikin kamu makin semangat belajar atau malah overthinking bakal banyak tugas otomatis?

  1. 🔥 Makin semangat, era baru makin seru!
  2. 🤔 Campur aduk, AI boleh tapi dosen jangan ilang.
  3. 💤 Biasa aja, still figuring out my life.

Drop pilihanmu di kolom komentar sambil cerita pengalamanmu soal AI di kampus. Let's discuss!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User