Viral Video Pria Dilakban Mirip Teletubbies, Begini Fakta di Baliknya
Jakarta - Publik media sosial baru-baru ini diramaikan dengan unggahan video yang memperlihatkan dua pria dihukum dengan cara dilakban seluruh tubuhnya hingga menyerupai karakter Tinky Winky dari ser
Jakarta - Publik media sosial baru-baru ini diramaikan dengan unggahan video yang memperlihatkan dua pria dihukum dengan cara dilakban seluruh tubuhnya hingga menyerupai karakter Tinky Winky dari serial anak-anak Teletubbies. Narasi yang menyertai video itu menyebut keduanya adalah maling yang kepergok dan dihakimi warga.
Video tersebut menyebar luas melalui berbagai platform. Dalam rekaman terlihat dua pria tak berdaya berdiri dengan tubuh terbungkus rapat oleh lakban berwarna cokelat, hanya menyisakan bagian mata, hidung, dan mulut yang terbuka. Sekilas bentuk kepala mereka memang menyerupai tokoh fiksi anak-anak, sebagian menyamakannya dengan Tinky Winky, sebagian lain justru menyebutnya mirip Upin Ipin versi lokal.
Namun, setelah ditelusuri oleh tim redaksi Warkini.com, klaim yang menyertai video tersebut tidak sepenuhnya sesuai fakta. Rekaman yang beredar bukanlah kejadian pencurian yang digagalkan warga seperti yang digaungkan narasi viral.
"Video ini adalah konten rekayasa. Bukan peristiwa penangkapan maling sungguhan," jelas sumber yang dihubungi Warkini.com.
Berdasarkan penelusuran kami, unggahan tersebut merupakan bagian dari tren konten hiburan yang sengaja diproduksi untuk menarik perhatian pengguna internet. Bukan kali ini saja konten dengan premis serupa muncul di linimasa Indonesia, di mana orang dewasa didandani menyerupai karakter boneka anak-anak dengan klaim "hukuman warga".
Para kreator konten memanfaatkan rasa penasaran dan kemarahan warganet atas isu pencurian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alhasil, video semacam ini kerap menuai komentar beragam, mulai dari gelak tawa hingga komentar pedas yang mengira peristiwa itu benar-benar terjadi.
Di sisi lain, fenomena konten bernarasi tipuan ini kembali menimbulkan diskusi tentang literasi digital di Indonesia. Banyak pengguna yang masih mudah termakan judul dan klaim sensasional tanpa memverifikasi kebenaran informasinya lebih dulu. Para ahli mengingatkan agar warganet tidak langsung percaya begitu saja pada konten viral yang tampak ekstrem, apalagi jika menyangkut aksi main hakim sendiri yang justru melanggar hukum.
Hingga berita ini ditulis, video berdurasi pendek itu masih beredar dan terus dibagikan ulang oleh sejumlah akun dengan narasi yang sama. Warkini.com mengimbau pembaca untuk selalu menyaring informasi sebelum menyebarkannya lebih luas.
Comments (0)