Warkini.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia pada Mei 2026
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Mei 2026, Indonesia telah menghabiskan devisa sebesar US$ 17,45 miliar untuk mendatangkan produk migas dari luar negeri. Angka ini naik 27,89% secara year-o
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Mei 2026, Indonesia telah menghabiskan devisa sebesar US$ 17,45 miliar untuk mendatangkan produk migas dari luar negeri. Angka ini naik 27,89% secara year-on-year (yoy). Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil masih sangat tinggi, meskipun berbagai upaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri terus dijalankan.
Singapura Jadi Pemasok Utama
Dari seluruh negara pemasok, Singapura mendominasi dengan porsi yang cukup besar. Total impor migas dari negara tetangga tersebut sepanjang Januari-Mei 2026 tercatat sebesar US$ 5,1 miliar. Jumlah itu setara dengan 29,38% dari keseluruhan nilai impor migas nasional pada periode yang sama.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026), menyampaikan bahwa Singapura masih menjadi rujukan utama pasokan migas Indonesia.
“Utamanya dari Singapura kita impor migasnya Januari-Mei 2026 sebesar US$ 5,1 miliar atau sekitar 29,38% terhadap total impor migasnya,” ujar Ateng kepada awak media, termasuk tim Warkini.com.
Tingginya volume impor dari Singapura tidak lepas dari peran negara tersebut sebagai hub perdagangan dan pengolahan minyak di kawasan Asia Tenggara. Sebagian besar produk yang dikirim dari Singapura merupakan hasil olahan kilang minyak, bukan minyak mentah murni, sehingga menempatkan Indonesia sebagai pasar strategis bagi produk turunan migas.
Lonjakan impor migas ini juga dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang bergerak fluktuatif sepanjang awal tahun 2026. Di sisi lain, permintaan energi domestik yang terus tumbuh seiring pemulihan ekonomi pasca-pandemi turut mendorong peningkatan volume impor. Para analis memperkirakan jika tren ini berlanjut, defisit neraca perdagangan migas akan semakin melebar dan berpotensi menekan cadangan devisa negara.
Pemerintah diharapkan dapat mempercepat program transisi energi dan optimalisasi lifting minyak nasional agar ketergantungan pada impor migas dapat ditekan. Namun, hingga saat ini, kebijakan yang ada belum mampu membalikkan tren peningkatan impor yang semakin membengkak dari tahun ke tahun.
Comments (0)