9 Tahun BRILink Ahmad Zaki: Rezeki dari Setia Saat yang Lain Memilih Pergi
Kabupaten Tangerang — Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Saat banyak orang ragu dan mengabaikan tawaran menjadi agen BRILink, Ahmad Zaki Mufid justru membaca arah angin dengan jernih. Berbeka
Kabupaten Tangerang — Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Saat banyak orang ragu dan mengabaikan tawaran menjadi agen BRILink, Ahmad Zaki Mufid justru membaca arah angin dengan jernih. Berbekal modal Rp5 juta dan keyakinan bahwa jasa transaksi perbankan akan kian melekat di keseharian warga, ia membuka kiosnya di Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Sekarang, di tahun 2026, keputusan yang ia ambil pada 2017 itu telah menjelma menjadi sumber berkah yang tak putus.
Membaca Peluang dari Percakapan Singkat
Cerita itu dibagikan Zaki kepada Warkini.com di tengah kiosnya yang terus disambangi pelanggan. Senja belum sepenuhnya luruh, tetapi antrean warga yang ingin melakukan setoran, tarik tunai, hingga pembayaran tagihan masih mengular. Di sela-sela melayani mereka, ia mengisahkan awal langkahnya. Semua bermula dari tawaran BRI Unit Mauk yang datang kepada para nasabah. Tawaran itu sederhana: bergabunglah sebagai Agen BRILink. Namun, tak banyak yang menggubrisnya. Zaki berbeda. Setelah mendapat penjelasan dari mantri BRI bahwa setiap transaksi akan memberi keuntungan baginya, ia langsung tertarik.
"Waktu itu banyak yang bilang, buat apa? Nanti sepi. Tapi saya justru merasa ini akan jadi kebutuhan. Orang malas ke bank kalau bisa di dekat rumah," kenang Zaki, saat jeda melayani pelanggan yang hendak membayar cicilan.
Saat itu, Zaki sudah lebih dulu menjalankan usaha jual beli tabung gas. Menjadi agen BRILink ia anggap sebagai sayap tambahan untuk menopang ekonomi keluarga. Tak terbayangkan olehnya, sayap itu kelak justru menjadi penopang utama. Dengan modal awal Rp5 juta, Zaki menyulap sebagian ruang di kiosnya menjadi gerai layanan keuangan mini. Ia tak punya pengalaman perbankan, hanya bermodal kepercayaan dan ketekunan belajar dari tim BRI yang terus mendampingi.
Tahun-tahun awal, ujian kesabaran itu datang dalam wujud sepi pelanggan. Zaki tetap buka tiap hari, menjaga mesin EDC, dan menyapa siapa pun yang lewat. Ia berpegang pada prinsip sederhana: konsistensi adalah cara terbaik membangun kepercayaan. Benar saja, dari satu-dua orang yang mencoba, kini kiosnya mencatat lebih dari ratusan transaksi setiap bulan. Mulai dari penarikan dana bantuan sosial, setoran pinjaman, pembelian pulsa, hingga pembayaran listrik, semua tuntas di meja kecilnya.
Bertahan yang Berbuah Berkah
Sembilan tahun berlalu, Zaki kini memetik buah dari ketabahannya. Penghasilan tetap dari fee transaksi mengalir stabil, bahkan melampaui pendapatan usaha tabung gas. Lebih dari sekadar angka, ia merasa telah menjadi bagian penting dari keseharian warga Jatiwaringin. Para tetangga tak perlu lagi menempuh perjalanan panjang ke unit bank terdekat. Cukup berjalan kaki ke kios Zaki, urusan finansial selesai dengan senyuman.
"Ini rezeki yang tidak saya sangka. Kuncinya cuma bertahan di saat yang lain menyerah. Sembilan tahun lalu, teman-teman saya menolak tawaran ini. Sekarang, mereka sering bertanya apakah masih bisa mendaftar," ujarnya sambil tertawa kecil.
Kisah Ahmad Zaki bukan sekadar narasi sukses seorang agen, melainkan cerminan bagaimana kepekaan membaca peluang dan kesediaan untuk terus belajar bisa mengubah jalan hidup. Dari Jatiwaringin, ia membuktikan bahwa berkah sering kali berpihak pada mereka yang tidak mudah goyah, bahkan di saat suara-suara sekitar justru menyarankan untuk menyerah.
Comments (0)