Bahlil Proyeksikan Blok Masela Sumbang Rp680 Triliun ke Negara
Jakarta, Warkini.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan proyeksi menggembirakan dari pengembangan proyek strate
Jakarta, Warkini.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan proyeksi menggembirakan dari pengembangan proyek strategis nasional LNG Abadi Blok Masela. Dalam pernyataan resminya, Bahlil memperkirakan proyek raksasa di lepas pantai Kepulauan Tanimbar, Maluku ini akan menyumbang pendapatan negara hingga US$37,8 miliar atau setara dengan Rp680 triliun (asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS) selama masa operasinya. Angka fantastis ini muncul bersamaan dengan dilaksanakannya groundbreaking proyek yang telah lama dinanti tersebut, menandai babak baru eksplorasi gas bumi nasional.
"Proyek LNG Abadi Blok Masela bukan sekadar proyek energi biasa. Ini adalah game changer yang akan menggerakkan perekonomian Indonesia, khususnya kawasan timur, sekaligus memperkuat ketahanan energi kita dalam jangka panjang," ujar Bahlil dengan optimisme tinggi di sela-sela kunjungannya ke lokasi proyek, seperti dikutip Warkini.com, Kamis (17/7/2026).
Proyeksi Pendapatan Fantastis untuk Kas Negara
Proyeksi pendapatan sebesar US$37,8 miliar mencakup penerimaan negara dari berbagai skema, mulai dari bagi hasil produksi (production sharing contract), pajak penghasilan badan, pajak pertambahan nilai, hingga pajak daerah dan bea keluar. Jika dirinci, kontribusi tahunan dari Blok Masela diperkirakan mampu menyaingi pendapatan dari blok migas utama lainnya seperti Blok Rokan dan Blok Cepu. Angka Rp680 triliun ini bahkan melebihi total belanja infrastruktur pemerintah dalam satu tahun anggaran, sehingga dampaknya terhadap fiskal nasional akan sangat signifikan.
Cadangan gas alam Blok Masela diproyeksikan mencapai 10,7 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya salah satu ladang gas terbesar di Asia Pasifik yang belum dikembangkan secara penuh. Dengan konversi menjadi liquefied natural gas (LNG), produksi tahunan puncak diperkirakan mencapai 9,5 juta ton per tahun, setara sekitar 1.200 juta kaki kubik gas per hari. Tingginya permintaan global terhadap LNG, terutama dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, diyakini akan menjaga harga jual tetap kompetitif sepanjang umur proyek.
Penciptaan 12 Ribu Lapangan Kerja dan Efek Berganda
Tidak hanya menyumbang pundi-pundi negara, proyek Blok Masela juga diproyeksikan menciptakan 12.000 lapangan kerja, mulai dari tahap konstruksi hingga operasi dan pemeliharaan fasilitas. Bahlil menekankan bahwa sebagian besar tenaga kerja akan direkrut dari masyarakat lokal Maluku dan sekitarnya, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan tenaga kerja Indonesia secara maksimal.
"Saya sudah perintahkan kepada operator untuk memprioritaskan putra-putri daerah. Kita ingin masyarakat sekitar benar-benar merasakan kehadiran proyek ini, bukan hanya sebagai penonton," tegasnya.
Efek berganda (multiplier effect) dari proyek ini juga diperkirakan meluas ke sektor pendukung, seperti perhotelan, transportasi, logistik, katering, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Pemerintah daerah setempat tengah mempersiapkan skema pelatihan vokasi bagi pemuda-pemudi Maluku agar mampu terserap dalam rantai pasok proyek. Diperkirakan setiap satu lapangan kerja langsung akan memicu dua hingga tiga lapangan kerja tidak langsung di sektor penunjang.
Peran Strategis Blok Masela dalam Peta Energi Nasional
Pengembangan Blok Masela telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak beberapa tahun lalu dan menjadi prioritas utama pemerintah karena potensinya yang luar biasa. Terletak di Laut Arafura, sekitar 150 kilometer selatan Pulau Yamdena, ladang gas ini akan dilengkapi dengan fasilitas kilang LNG terapung (FLNG) berkapasitas besar, yang memungkinkan produksi dan pemuatan langsung ke kapal pengangkut tanpa perlu jaringan pipa laut dalam yang panjang.
Groundbreaking yang dilakukan pada Juli 2026 menandai dimulainya tahapan konstruksi setelah bertahun-tahun tertunda akibat negosiasi keekonomian dan perubahan desain pengembangan. Pemerintah sebelumnya memutuskan untuk tetap menggunakan skema onshore LNG di Pulau Yamdena, demi mendorong pembangunan daerah dan memaksimalkan manfaat ekonomi lokal, meskipun biaya investasi sedikit lebih tinggi dibandingkan opsi FLNG di lepas pantai.
Komitmen Pemerintah dalam Percepatan Hilirisasi
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa proyek Blok Masela adalah wujud nyata komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi sumber daya alam, khususnya gas bumi. "Kita tidak mau lagi menjual bahan mentah. Blok Masela akan menjadi contoh bagaimana gas kita diolah menjadi LNG yang bernilai tambah, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan industri domestik," ucapnya penuh semangat.
Operator proyek, yang dimotori oleh Inpex Corporation bersama mitra lainnya, terus berkoordinasi intensif dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk memastikan tidak ada lagi kemunduran jadwal. Target operasi komersial (commercial operation date/COD) dipatok paling lambat awal tahun 2032, dengan produksi gas pertama (first gas) diharapkan mengalir pada akhir 2030.
Dengan proyeksi pendapatan mencapai Rp680 triliun, ribuan lapangan kerja baru, dan geliat ekonomi yang akan dirasakan hingga pelosok timur Indonesia, Blok Masela diharapkan mampu menjadi tonggak baru transformasi energi nasional yang berkeadilan.
[SOCIAL_TWEET]: Bahlil proyeksikan Blok Masela sumbang Rp680 triliun ke kas negara dan ciptakan 12 ribu lapangan kerja! Proyek gas raksasa di Maluku ini siap jadi game changer energi nasional. #BlokMasela #EnergiIndonesia #BahlilLahadalia[SOCIAL_TG]: 🔥 Menteri Bahlil proyeksikan Blok Masela sumbang Rp680 triliun ke negara! 💰 12.000 lapangan kerja siap tercipta, groundbreaking sudah dimulai. Gas raksasa Maluku ini akan jadi tonggak baru energi nasional! 🚀
Comments (0)