Dari Melihat Ayahnya Ditipu Tengkulak hingga Jadi Jaksa Agung: Kisah Inspiratif Sanitiar Burhanuddin

Ada alasan personal mengapa Sanitiar Burhanuddin memilih jalan hukum. Kisah tentang seorang anak petani yang menyaksikan ketidakadilan, lalu bertekad mengubahnya.

Jul 11, 2026 - 07:58
Updated: 1 day ago
0 1
Dari Melihat Ayahnya Ditipu Tengkulak hingga Jadi Jaksa Agung: Kisah Inspiratif Sanitiar Burhanuddin
content content\n

Ini cerita tentang seorang anak petani di Kalirejo, Lampung Tengah. Tentang seorang bocah yang setiap hari harus berjalan kaki lima kilometer ke sekolah. Tentang malam-malam belajar di bawah lampu minyak tanah. Tentang kemarahan yang berubah menjadi tekad. Sanitiar Burhanuddin kecil bukan anak yang banyak bicara. Teman-temannya mengenalnya sebagai pendengar yang baik — tipe anak yang lebih suka mengamati daripada berkomentar. Tapi ada satu kejadian yang mengubah hidupnya dan masih ia ingat hingga hari ini. "Saya masih ingat betul," ceritanya dalam sebuah acara di Universitas Lampung. "Waktu itu panen padi, dan bapak saya ditipu oleh tengkulak.

\\n\\n

Hasil panen sudah diangkut, uangnya tidak dibayar. Bapak saya tidak bisa apa-apa karena tidak ada bukti tertulis. Saya lihat sendiri bagaimana bapak saya menangis malam itu. Saat itu saya bilang pada diri sendiri: saya harus belajar hukum."\\n\\nKejadian itu membekas. Sanitiar kecil yang tadinya tidak terlalu tertarik pada pelajaran tiba-tiba menjadi siswa yang tekun. Ia mulai membaca apa saja tentang hukum — meskipun saat itu aksesnya sangat terbatas. Majalah bekas, koran yang dibungkuskan untuk gorengan, apapun yang bisa ia dapatkan. Ketika diterima di Fakultas Hukum Universitas Lampung dengan beasiswa, ia merasa seperti mendapat tiket emas.

\\n\\n

"Saya cuma punya dua pasang baju untuk kuliah. Cuci baju tiap malam, keringkan pakai kipas angin kos-kosan, besoknya dipakai lagi. Tapi saya tidak pernah minder. Saya tahu kenapa saya di sini." Motivasinya sederhana: ia ingin menjadi jaksa. Bukan karena gengsi atau gaji, tapi karena ia percaya jaksa adalah alat untuk menegakkan keadilan. "Jaksa itu mewakili negara untuk membela rakyat. Kalau jaksanya baik, rakyat terlindungi. Kalau jaksanya jahat, rakyat dizalimi oleh negara sendiri."\\n\\n35 tahun kemudian, anak petani yang dulu melihat ayahnya ditipu tengkulak itu menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia.

\\n\\n

Ironisnya, salah satu fokusnya adalah menangani kasus-kasus yang melibatkan rakyat kecil — seperti restorative justice yang ia dorong dengan gigih. "Setiap kali saya menandatangani penghentian kasus melalui restorative justice, saya ingat bapak saya," katanya. "Kalau dulu ada mekanisme seperti ini, mungkin bapak saya tidak perlu menangis sendirian. Mungkin ada jaksa yang bisa membantu." Kisah Sanitiar Burhanuddin adalah pengingat bahwa latar belakang tidak menentukan masa depan. Bahwa kemarahan terhadap ketidakadilan, jika disalurkan dengan benar, bisa menjadi kekuatan yang mengubah sistem.

\\n\\n

Bahwa seseorang dari desa kecil di Lampung bisa mencapai puncak tertinggi di Kejaksaan, bukan dengan koneksi atau uang, tapi dengan kerja keras, integritas, dan tekad yang tak pernah padam. "Mimpi itu gratis," katanya menutup cerita. "Tapi mewujudkannya butuh pengorbanan. Dan pengorbanan itu selalu sepadan." Pesan sederhana dari seorang Jaksa Agung yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal.\n

Ada satu cerita lain yang jarang ia bagikan ke publik, namun diceritakan oleh rekan-rekan dekatnya. Saat masih menjadi jaksa muda di Sumatera, Sanitiar pernah menangani sebuah kasus kecil: seorang petani yang didakwa mencuri kayu dari lahan yang sebenarnya adalah tanah warisannya sendiri, namun sertifikatnya dimanipulasi oleh pengusaha lokal. Kasusnya sederhana, nilai kerugiannya tidak besar. Tapi bagi Sanitiar, ini adalah pengingat bahwa ketidakadilan bisa hadir dalam skala apa pun — dan korbannya selalu rakyat kecil. Ia menghabiskan berminggu-minggu melakukan penelitian hukum adat setempat, menemui saksi-saksi, bahkan turun langsung ke lokasi untuk mengukur ulang batas tanah. Akhirnya, petani itu dibebaskan. Tidak ada pemberitaan. Tidak ada penghargaan. Hanya seorang jaksa muda yang pulang ke rumah dengan perasaan bahwa ia telah melakukan tugasnya dengan benar.

\n\n

Kini, saat ia memimpin lebih dari 10.000 jaksa, Sanitiar sering mengingatkan anak buahnya tentang kasus-kasus kecil seperti itu. "Kasus besar itu penting untuk nama baik institusi," katanya dalam sebuah acara internal. "Tapi kasus-kasus kecil — itulah yang menentukan apakah rakyat masih percaya pada hukum atau tidak. Karena rakyat tidak membaca berita tentang vonis Jiwasraya. Tapi mereka akan ingat seumur hidup kalau ada jaksa yang membela mereka saat dizalimi." Kalimat ini mungkin adalah ringkasan terbaik dari filosofi Sanitiar Burhanuddin: bahwa keadilan bukan hanya tentang angka kerugian negara, tetapi tentang setiap individu yang merasa dilindungi oleh hukum. Pesan ini pula yang ia titipkan kepada jaksa-jaksa muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinannya kelak.

\n

Warisan terbesar Sanitiar mungkin bukan pada kasus-kasus besar yang ia tangani, melainkan pada harapan yang ia bangun — harapan bahwa sistem hukum Indonesia bisa bekerja untuk semua orang, bukan hanya untuk mereka yang berkuasa dan berduit. Setiap kali seorang jaksa di pelosok negeri memberanikan diri menolak suap, setiap kali sebuah kasus kecil diselesaikan dengan adil tanpa harus ke pengadilan, setiap kali aset negara berhasil dipulihkan dari tangan koruptor — di situlah Sanitiar hadir, bukan sebagai individu, tapi sebagai standar baru yang ia tetapkan. Mungkin suatu hari nanti, ketika ia sudah tidak lagi menjabat, orang-orang akan lupa siapa nama Jaksa Agung yang memimpin pada era 2020-an. Tapi sistem yang ia bangun, nilai-nilai yang ia tanamkan, dan budaya integritas yang ia perjuangkan — itulah yang akan terus hidup dan menjadi fondasi bagi Kejaksaan Indonesia di masa depan.

Lebih dari sekadar nama dalam daftar pejabat, kiprahnya di dunia hukum Indonesia menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana integritas, profesionalisme, dan dedikasi bisa membawa perubahan nyata. Perjalanan kariernya yang panjang telah menginspirasi banyak generasi penegak hukum berikutnya. Setiap jabatan yang ia emban, setiap kasus yang ia tangani, dan setiap keputusan yang ia ambil menjadi bagian dari mosaik sejarah penegakan hukum di negeri ini yang terus berkembang dan semakin matang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User