Dirut PTPN I Beberkan Lima Pilar Industri Perkebunan
Jakarta, Warkini.com – Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Dr. Ir. Mohammad Yudha Pratama, M.M., memaparkan lima pilar strategis yang menjadi
Jakarta, Warkini.com – Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Dr. Ir. Mohammad Yudha Pratama, M.M., memaparkan lima pilar strategis yang menjadi fondasi transformasi industri perkebunan nasional. Dalam acara Diskusi Ekonomi Kerakyatan yang digelar di Jakarta, Selasa (1/4/2025), ia menekankan bahwa industri perkebunan memiliki posisi amat strategis dalam rantai kehidupan sosial dan ekonomi bangsa. Sektor ini menyerap lebih dari 4,2 juta tenaga kerja langsung dan menjadi tulang punggung ekspor nonmigas.
Yudha menjelaskan, paradigma perkebunan harus bergeser dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi industri berbasis nilai tambah yang inklusif.
“Kami ingin memastikan setiap tetes minyak sawit yang diekspor membawa kesejahteraan hingga ke pelosok kebun. Karena itu, kami rumuskan lima pilar yang saling terkait dan wajib dijalankan secara terintegrasi,”ujarnya di hadapan para pemangku kepentingan.
Lima Pilar Industri Perkebunan
Berikut adalah ringkasan pilar-pilar tersebut:
| Pilar | Deskripsi | Target |
|---|---|---|
| 1. Ketahanan Pangan dan Energi | Optimalisasi lahan untuk komoditas pangan (tebu, singkong) dan energi terbarukan (biodiesel, green diesel) | Kurangi impor gula 30% dan capai B40 pada 2027 |
| 2. Hilirisasi Berkelanjutan | Mendorong produk turunan bernilai tinggi: oleokimia, surfaktan, bioplastik | 60% produksi CPO diolah di dalam negeri |
| 3. Kesejahteraan Petani Plasma | Kemitraan inti-plasma dengan pendampingan teknis, akses pembiayaan, dan legalisasi lahan | Pendapatan petani plasma naik 35% melalui program PSR |
| 4. Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan | Penerapan presisi pertanian, drone monitoring, pengelolaan limbah zero waste, dan sistem traceability digital | Reduksi emisi karbon 20% pada 2030 |
| 5. Tata Kelola dan Kemitraan Global | Transparansi ESG (Environmental, Social, Governance), kepatuhan EUDR, dan ekspansi pasar non-tradisional | Sertifikasi ISPO/ RSPO untuk seluruh kebun |
Ketahanan Pangan dan Energi
Pilar pertama menempatkan perkebunan sebagai garda terdepan kemandirian pangan dan energi. PTPN I mengintegrasikan tanaman pangan di sela perkebunan sawit (intercropping) guna mendukung program lumbung pangan nasional. Di sisi energi, pengembangan bahan bakar nabati tidak hanya memperkuat bauran energi bersih tetapi juga menekan impor solar. Kapasitas produksi biodiesel PTPN I saat ini mencapai 1,2 juta kiloliter per tahun dan akan terus ditingkatkan seiring kebijakan B40.
Hilirisasi Berkelanjutan
Hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai tambah. Yudha mencontohkan pabrik oleokimia di Dumai yang memproduksi fatty acid, glycerin, dan sabun berbasis CPO. Produk-produk ini tidak hanya menyasar pasar domestik, tetapi juga diekspor ke Jepang dan Eropa. “Kita tidak boleh lagi bangga hanya mengekspor minyak mentah. Industri 4.0 menuntut kita menguasai rantai nilai dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
Kesejahteraan Petani Plasma
Pilar ketiga menyasar pada peningkatan kualitas hidup petani plasma. Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), PTPN I menargetkan replanting 50 ribu hektar kebun plasma hingga 2028. Selain bantuan bibit unggul bersertifikat, petani diberikan pelatihan budidaya berkelanjutan dan akses ke Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dampaknya, produktivitas tandan buah segar (TBS) rata-rata naik dari 12 ton menjadi 22 ton per hektar per tahun.
Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan
Transformasi digital menjadi keniscayaan. PTPN I mengadopsi sistem smart plantation berbasis Internet of Things (IoT) yang memantau kelembapan tanah, serangan hama, dan estimasi panen secara real-time. Sementara itu, pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) diubah menjadi biogas untuk listrik, menekan jejak karbon sekaligus mengurangi biaya operasional. Inisiatif ini telah mengurangi emisi lebih dari 150 ribu ton CO2 ekuivalen sepanjang 2024.
Tata Kelola dan Kemitraan Global
Pilar kelima memastikan seluruh operasional perusahaan memenuhi standar internasional. Kepatuhan terhadap European Union Deforestation Regulation (EUDR) menjadi prioritas agar produk sawit Indonesia tetap diterima di pasar Eropa. PTPN I juga menggandeng lembaga riset global untuk pengembangan bioplastik berbasis pati singkong, membuka peluang ekspor baru yang lebih berkelanjutan.
Dengan kelima pilar ini, PTPN I berharap dapat menjadi lokomotif kebangkitan industri perkebunan nasional yang berdaya saing tinggi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi perekonomian kerakyatan.
Comments (0)