Gus Aab Nilai Kitab Kiai Zulfa Hubungkan Turats dengan Persoalan Kekinian

Cirebon, Warkini.com – Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Syamsul Arifin, yang akrab disapa Gus Aab, memberikan apresia

Jul 11, 2026 - 21:58
0 1
Gus Aab Nilai Kitab Kiai Zulfa Hubungkan Turats dengan Persoalan Kekinian

Cirebon, Warkini.com – Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Syamsul Arifin, yang akrab disapa Gus Aab, memberikan apresiasi tinggi terhadap kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa karya KH Zulfa Mustofa. Dalam acara peluncuran yang digelar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Cirebon, Sabtu (5/4/2025), Gus Aab menegaskan bahwa kitab tersebut mampu menjawab kegelisahan para ulama pesantren yang selama ini merindukan dokumentasi pemikiran keislaman agar tidak hanya disampaikan secara lisan.

Menurut Gus Aab, tradisi keilmuan di lingkungan pesantren Nahdliyin sering kali bertumpu pada transmisi lisan dari guru ke murid. Meskipun memiliki keautentikan spiritual, model ini rentan terhadap distorsi dan kehilangan nuansa argumentatif ketika diwariskan lintas generasi.

“Kami para ulama kerap merindukan adanya dokumentasi pemikiran yang tidak hanya disampaikan secara lisan, agar bisa dikaji ulang, didiskusikan, dan dikembangkan oleh generasi muda secara lebih sistematis,”
ujarnya dengan nada penuh harap.

Kegelisahan Ulama Pesantren

Lebih lanjut Gus Aab menjelaskan, banyak pemikiran brilian para masyayikh yang hanya terekam dalam ingatan para santri. Tanpa kodifikasi tertulis, khazanah tersebut berpotensi hilang seiring waktu. Hal ini menjadi keprihatinan serius karena tantangan zaman menuntut respon keagamaan yang cepat, berbasis dalil yang kokoh, dan relevan dengan isu-isu mutakhir seperti ekonomi digital, bioetika, hingga perubahan iklim.

Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Karya KH Zulfa Mustofa ini tidak sekadar ulasan teks klasik, melainkan upaya kontekstualisasi hukum Islam (fiqh al-waqi') yang mempertimbangkan realitas sosial kontemporer. Dengan gaya bahasa yang lugas namun tetap mempertahankan kedalaman ushul fiqh, kitab ini dinilai menjadi jembatan antara khazanah turats dan kebutuhan praktis umat.

Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa: Jembatan Peradaban

Kitab setebal 640 halaman ini terbagi dalam tiga bagian utama: landasan metodologis (manhaj), analisis tema-tema kontemporer, dan aplikasi fatwa. Gus Aab menyoroti bab tentang transaksi digital dan etika bermedia sosial sebagai contoh konkret bagaimana kitab ini berani menyentuh wilayah yang sering dianggap tabu oleh sebagian kalangan tradisionalis. Lebih dari 200 referensi kitab mu'tabarah digunakan, menunjukkan ketelitian akademis penulisnya.

KH Zulfa Mustofa, pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum yang juga dikenal sebagai pakar ilmu falak dan ushul fiqh, menulis kitab ini selama empat tahun. Dalam sambutannya, ia menuturkan motivasi penulisan: “Saya ingin warisan keilmuan pesantren tetap hidup dan menjadi solusi, bukan sekadar artefak masa lalu.”

Respons dan Harapan

Peluncuran ini dihadiri ratusan kiai, santri, dan akademisi. Rais Syuriah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen dalam rekaman video menyambut baik kehadiran kitab ini sebagai khazanah baru yang memperkaya perpustakaan Islam Nusantara. Sementara itu, Gus Aab berharap lahir lebih banyak ulama produktif seperti KH Zulfa yang tidak hanya mahir lisan, tetapi juga terampil mendokumentasikan pemikiran secara tertulis. “Ini bukan sekadar kitab, tapi gerakan literasi keislaman yang menjawab tantangan zaman,” tegasnya.

Dengan hadirnya kitab ini, kalangan pesantren kini memiliki sumber rujukan tertulis yang dapat diakses lebih luas, membuka ruang diskusi ilmiah, dan memperkuat peran NU dalam percaturan pemikiran Islam global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User