Dosen IPB Ungkap Biang Kerok Udara Bogor Makin Panas dan Kering
Warga Bogor mulai mengeluhkan udara yang kian terik dan langit yang jarang menurunkan hujan. Kota yang dahulu dijuluki "Kota Hujan" itu kini menghadapi tr
Warga Bogor mulai mengeluhkan udara yang kian terik dan langit yang jarang menurunkan hujan. Kota yang dahulu dijuluki "Kota Hujan" itu kini menghadapi transformasi iklim mikro yang tak terduga. Seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) angkat bicara, mengungkap akar permasalahan yang membuat suhu udara di Bogor terus merangkak naik, sembari musim kemarau terasa lebih panjang.
Pengakuan itu datang dari Dr. Andi Prasetyo, pakar klimatologi dan perubahan iklim dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Dalam wawancara eksklusif, ia membeberkan hasil analisis data iklim 20 tahun terakhir yang menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata harian di kawasan Bogor dan sekitarnya. “Kalau dulu suhu maksimum jarang menyentuh 34 derajat Celsius, sekarang dalam dua tahun terakhir kami mencatat hingga 36,5 derajat,” ujarnya.
Laju Urbanisasi dan Konversi Lahan
Menurut Dr. Andi, salah satu pemicu utama adalah laju urbanisasi yang pesat di koridor Bogor–Jakarta. Perubahan fungsi lahan dari area hijau menjadi permukiman, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur jalan telah menciptakan fenomena urban heat island (pulau bahang perkotaan). Data terbaru dari Dinas Tata Ruang Kota Bogor menunjukkan bahwa dalam kurun 2015–2025, sedikitnya 23 persen ruang terbuka hijau telah beralih fungsi menjadi bangunan komersial dan perumahan.
“Beton dan aspal menyerap panas sepanjang siang, lalu melepaskannya pada malam hari. Akibatnya, suhu permukaan tetap tinggi selama 24 jam. Bogor tidak lagi memiliki pendinginan alami seperti dulu,” papar Dr. Andi.
Ia menambahkan, menyempitnya daerah resapan air turut memperparah defisit kelembapan. Alih-alih menjadi spons raksasa yang melepaskan uap air dan memicu pembentukan awan hujan, lahan terbangun justru memantulkan panas balik ke atmosfer dan mengganggu siklus konveksi lokal.
Pengaruh Deforestasi di Kawasan Puncak
Bogor sangat bergantung pada tutupan hutan di hulu Sungai Ciliwung dan Cisadane, terutama di kawasan Puncak dan sekitarnya. Sayangnya, deforestasi masif masih terjadi. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove serta KLHK mencatat bahwa laju deforestasi tahunan di Jawa Barat mencapai 4.800 hektare per tahun, sebagian besar terjadi di kawasan hulu daerah aliran sungai yang mengelilingi Bogor.
Dr. Andi menjelaskan, pepohonan di punggung pegunungan berperan sebagai pompa biotik yang menarik massa udara lembab dari laut menuju daratan. Saat hutan ditebangi, aliran uap air terputus. “Hujan di Bogor itu sebenarnya hujan orografis—dipaksa naik oleh topografi Gunung Salak dan Pangrango. Kalau hutan di lereng gunung gundul, massa udara tidak cukup lembap; awan sulit tumbuh dan ujungnya ya Bogor jarang diguyur hujan,” terangnya.
Anomali El Niño dan Perubahan Iklim Global
Faktor global ikut memperburuk kondisi. BMKG telah mengonfirmasi fenomena El Niño moderat yang berlangsung sejak pertengahan 2025 dan diperkirakan bertahan hingga awal 2026. El Niño mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Bogor. Namun, Dr. Andi menekankan bahwa pengaruh ini hanya bersifat temporer. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kenaikan suhu permukaan Bumi yang sudah mencapai 1,3 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
“Kombinasi pemanasan global, degradasi lingkungan lokal, dan urban sprawl itulah ‘biang kerok’ sesungguhnya. El Niño hanya mempercepat dampak yang sebenarnya sudah terbentuk selama bertahun-tahun,” tegasnya.
Dampak pada Pertanian dan Ketersediaan Air
Kekeringan yang kian sering tak hanya dirasakan warga kota. Petani di wilayah Ciampea, Leuwiliang, dan Dramaga mulai mengeluhkan gagal panen akibat ketidakpastian musim tanam. Sumur-sumur dangkal mengering lebih cepat, sementara irigasi teknis terganggu oleh debit Sungai Cisadane yang menyusut hingga 35 persen dibanding rata-rata sepuluh tahun lalu.
Bagi warga biasa, lonjakan suhu berarti tagihan listrik membengkak karena pemakaian AC dan kipas angin yang terus menyala. Sektor kesehatan juga mencatat peningkatan kasus heat exhaustion dan infeksi saluran pernapasan akibat debu yang beterbangan di cuaca kering.
Seruan Reforestasi dan Tata Ruang Berkelanjutan
Dr. Andi mendesak pemerintah daerah untuk segera merevisi rencana tata ruang dengan menetapkan minimal 30 persen wilayah kota sebagai ruang terbuka hijau fungsional—bukan sekadar taman pasif. Ia juga mengusulkan program reforestasi di kawasan hulu dengan melibatkan masyarakat adat dan kelompok tani.
“Gerakan tanam pohon massal harus terukur. Bukan cuma seremoni, tapi setiap pohon dipantau tingkat hidupnya minimal lima tahun. Kita perlu mengembalikan identitas Bogor sebagai penyangga air dan iklim mikro Jabodetabek,” pungkasnya.
Sejumlah komunitas lingkungan di Bogor sudah mulai bergerak. Komunitas Save Bogor Trees melaporkan telah menanam 5.000 bibit pohon endemik di sempadan sungai. Namun, langkah ini dinilai masih jauh dari cukup mengingat skala kerusakan yang terjadi. Sementara itu, warga berharap hujan segera turun membasahi kota yang dulu selalu diguyur rintik.
[SOCIAL_TWEET]: Warga Bogor resah: udara makin panas dan hujan makin langka. Dosen IPB ungkap biang keroknya, dari urbanisasi hingga rusaknya hutan di Puncak. Kini suhu maksimum bisa tembus 36,5°C! #BogorPanas #KrisisIklim #SaveBogor[SOCIAL_TG]: 🌡️ Bogor makin panas, hujan makin jarang. Dosen IPB bongkar penyebabnya: urbanisasi, deforestasi Puncak, dan perubahan iklim. Suhu bisa sentuh 36,5°C! Selengkapnya di sini.
Comments (0)