Kecelakaan Beruntun di Pantura Indramayu Tewaskan 11 Orang
INDRAMAYU — Sebuah kecelakaan maut melibatkan tiga kendaraan terjadi di Jalan Pantura Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat,
INDRAMAYU — Sebuah kecelakaan maut melibatkan tiga kendaraan terjadi di Jalan Pantura Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Ahad (12/7/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. Kecelakaan beruntun yang melibatkan satu unit mobil pick-up dan dua truk tronton itu mengakibatkan 11 orang meninggal dunia di tempat. Seluruh korban merupakan penumpang dan sopir pick-up nahas tersebut.
Kronologi: Pick-up Terjepit Dua Truk Tronton
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian dan saksi mata, kecelakaan bermula ketika mobil pick-up bernomor polisi E 8410 VA yang dikemudikan oleh Suryadi (42) melaju dari arah Cirebon menuju Jakarta. Mobil tersebut mengangkut 14 orang yang merupakan rombongan keluarga dan tetangga yang hendak menghadiri hajatan di Subang.
Sesampainya di lokasi kejadian, pick-up berhenti karena adanya antrean kendaraan akibat penyempitan jalan. Tiba-tiba, dari arah belakang melaju kencang truk tronton bermuatan pasir dengan nomor polisi H 1682 AG yang dikemudikan oleh Agus Salim (34). Diduga rem truk blong, truk tersebut menghantam bagian belakang pick-up dengan keras. Benturan dahsyat itu membuat pick-up terdorong dan langsung menabrak truk tronton lain bernomor polisi B 9654 UT yang sedang berhenti di depannya. Akibatnya, pick-up terjepit dan ringsek di antara dua truk besar.
“Saya melihat pick-up itu seperti ditelan dua truk. Suara benturannya keras sekali. Begitu saya dekati, sudah banyak korban tergeletak dan terjepit. Sangat mengerikan,” ujar Rudi, seorang pedagang warung di sekitar lokasi yang menyaksikan kejadian.
Kondisi pick-up yang terbuat dari logam ringan tidak mampu menahan tekanan dari dua truk tronton. Kabin depan dan bak belakang menyatu, menjebak para penumpang di dalamnya. Tim penyelamat dari BPBD dan PMI yang tiba di lokasi harus menggunakan alat pemotong untuk mengevakuasi korban. Proses evakuasi berlangsung dramatis selama lebih dari tiga jam, sementara kemacetan panjang mengular hingga 10 kilometer di kedua arah. Kendaraan dialihkan melalui jalur dalam kota Lohbener yang sempit sehingga laju kendaraan semakin tersendat.
11 Korban Meninggal, Tiga Luka Kritis
Dari total 14 orang di dalam pick-up, 11 orang dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka berat di bagian kepala dan tubuh. Mereka terdiri dari sembilan penumpang laki-laki dan dua perempuan, termasuk seorang anak berusia 5 tahun. Sementara tiga korban lainnya—dua penumpang dan sopir pick-up—mengalami luka serius dan segera dilarikan ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan perawatan intensif. Satu di antaranya, sopir pick-up Suryadi, dilaporkan dalam kondisi kritis dengan patah tulang rusuk dan luka dalam.
Di antara korban yang teridentifikasi adalah pasangan suami istri Sunarto (45) dan Rukiyah (40) bersama anak bungsunya Akbar (5). Mereka duduk di bak belakang pick-up bersama tetangga-tetangga yang lain. Kondisi jenazah sulit dikenali karena memar dan luka berat. Tim DVI Polda Jabar terpaksa mengambil sampel DNA dari keluarga untuk memastikan identitas korban.
Tanggapan Polisi dan Pemerintah Daerah
Kapolres Indramayu AKBP Maman Suherman membenarkan peristiwa nahas itu dan menyebut jumlah korban meninggal kemungkinan masih bisa bertambah mengingat kondisi ketiga korban yang dirawat cukup parah. “Kami telah menutup jalur Pantura selama empat jam untuk proses evakuasi dan olah TKP. Arus lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif,” ujarnya di sela-sela penanganan lokasi.
Sopir truk tronton bermuatan pasir yang diduga menjadi penyebab kecelakaan, Agus Salim, hanya mengalami luka ringan. Ia langsung diamankan oleh polisi untuk menjalani pemeriksaan, termasuk tes urine guna memastikan ada tidaknya pengaruh obat-obatan atau alkohol. Sementara sopir truk tronton di depan, Wahyudi (39), selamat tanpa luka berarti.
Bupati Indramayu Hj. Nina Agustina menyampaikan duka cita mendalam. “Kami segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan rumah sakit untuk memastikan penanganan korban berjalan maksimal. Kami juga akan mengkaji ulang kebijakan tentang jam operasional truk besar di wilayah kami,” ujarnya saat mengunjungi keluarga korban di rumah sakit.
Dugaan Rem Blong dan Muatan Berlebih Truk
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih mendalami penyebab pasti kecelakaan. Namun dugaan sementara mengarah pada kegagalan fungsi rem pada truk tronton bermuatan pasir. Kondisi jalan yang basah akibat hujan gerimis juga diduga mengurangi jarak pandang dan traksi ban.
Selain itu, muncul spekulasi soal muatan berlebih pada truk tronton. “Kami periksa tonase pasir yang diangkut. Jika melebihi batas ketentuan, akan jadi faktor pemberat dalam kasus ini,” jelas Kasat Lantas Polres Indramayu, AKP Tety Sumiati. Sementara itu, pihak Dinas Perhubungan setempat juga diterjunkan untuk mengecek kelayakan kendaraan dan administrasi perjalanan.
Para kerabat korban yang mendengar kabar duka langsung berdatangan ke lokasi. Tangis histeris pecah saat petugas mulai mengeluarkan jenazah. Seorang ibu yang kehilangan suami dan anaknya dalam kecelakaan itu jatuh pingsan dan harus dilarikan ke posko kesehatan PMI. Suasana haru dan duka menyelimuti sepanjang jalur Pantura yang pagi itu mendadak menjadi lautan air mata.
Pantura Indramayu, Jalur Rawan Kecelakaan Berulang
Jalur Pantura Indramayu memang dikenal rawan kecelakaan, terutama melibatkan kendaraan besar seperti truk dan bus. Data Satlantas Polres Indramayu mencatat, sepanjang tahun 2025 saja terjadi 127 kecelakaan di ruas jalan tersebut, dengan 38 di antaranya berujung fatal. Letak geografis jalan yang lurus namun sempit dengan banyak titik persimpangan tanpa lampu lalu lintas membuat risiko tabrakan tinggi, terutama saat arus mudik atau akhir pekan. Maraknya truk-truk ODOL (over dimension overload) yang melintas tanpa penindakan tegas menambah panjang daftar ancaman keselamatan pengguna jalan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Indramayu, H. Dedi Supriyadi, menyayangkan peristiwa ini dan berjanji segera melakukan evaluasi. “Kami akan memasang lebih banyak rambu peringatan dan speed bump di titik rawan, serta meningkatkan patroli kendaraan besar yang kerap ugal-ugalan,” katanya.
Masyarakat setempat sudah lama mengeluhkan minimnya fasilitas keselamatan di jalur Pantura ini. “Hampir tiap bulan ada kecelakaan parah di sini. Truk-truk besar sering melaju tanpa memperhatikan sekeliling. Kami mohon pemerintah segera bertindak tegas,” tutur Kusnadi, tokoh pemuda desa setempat.
Untuk sementara, para korban meninggal masih menjalani proses identifikasi oleh tim DVI Polda Jabar. Jenazah rencananya akan diserahkan kepada keluarga masing-masing setelah proses administrasi dan visum selesai. Pemerintah Kabupaten Indramayu menyatakan akan menanggung seluruh biaya pemulasaran jenazah dan memberikan santunan kepada keluarga korban.
Kecelakaan ini menjadi pengingat pilu tentang pentingnya penegakan aturan lalu lintas, spesifikasi teknis kendaraan, dan perilaku berkendara yang manusiawi. Korban jiwa yang terus berjatuhan meminta lebih dari sekadar duka—melainkan tindakan nyata pencegahan.
[SOCIAL_TWEET]: Kecelakaan beruntun di Pantura Indramayu pagi ini menewaskan 11 orang. Pick-up yang membawa rombongan keluarga terjepit dua truk tronton. Rem blong truk pasir jadi dugaan awal. Jalur sempat macet parah 4 km. #KecelakaanPantura #Indramayu #BreakingNews[SOCIAL_TG]: 🚨 Kecelakaan Maut Pantura Indramayu: 11 Tewas, Pick-up Terjepit Dua Truk Tronton. Diduga rem blong truk pasir penyebabnya. Evakuasi dramatis 3 jam. Info lengkap: [link]
Comments (0)