Dosen UPGRIS Ubah Rumput Laut Mentah Jadi Cuan Higienis di Kendal

Mororejo, Kendal — Daripada cuma dijual mentah dengan harga segitu-gitu aja, rumput laut di Desa Mororejo kini naik kelas. Tim dosen Universitas PGRI Semar

Jul 08, 2026 - 14:11
0 0
Mororejo, Kendal — Daripada cuma dijual mentah dengan harga segitu-gitu aja, rumput laut di Desa Mororejo kini naik kelas. Tim dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) turun tangan menyulap potensi lokal ini jadi produk bernilai jual tinggi lewat program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Misi mereka: nggak ada lagi cerita petani rumput laut cuma jadi pemasok bahan baku murah.

Dari Laut ke Pasar: Masalah Klasik yang Bikin Geleng Kepala

Desa Mororejo di Kecamatan Kaliwungu sebenarnya punya stok rumput laut melimpah. Tapi ya gitu, warga masih terjebak menjual dalam bentuk mentah. Value-nya kecil, padahal potensinya gede banget. Di sinilah tim yang dikomandoi Agus Mukhtar, S.Pd., M.T., bersama Dr. Ir. Ibnu Toto Husodo, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dan Hisyam Ma’mun, S.T., M.T., mengambil peran. Mereka menggandeng pemerintah desa, kelompok usaha, dan pelaku UMKM buat membangun ekosistem pengolahan yang modern. Bukan sekadar pelatihan kilat, tapi pendampingan dari hulu ke hilir.
"Tujuan utamanya membangun kemandirian. Masyarakat harus bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi, bukan terus-terusan jualan bahan mentah," ujar Agus Mukhtar.

Teknologi yang Dipakai: Bukan Cuma Jemur-Jemur Biasa

Pendampingan mencakup seluruh rantai produksi: pemilihan bahan baku berkualitas, teknik pencucian standar higienis, pengeringan optimal, pengolahan jadi produk pangan dan turunan lainnya, sampai teknik pengemasan yang memenuhi standar keamanan pangan. Ini bukan sekadar "dibikin kerupuk lalu selesai". Ada transfer pengetahuan soal manajemen usaha dan strategi pemasaran biar produk tembus pasar regional.
"Teknologi tepat guna itu kunci. Dengan pengolahan yang benar, kualitas naik, masa simpan lebih panjang, dan produk jadi higienis—pas dengan selera pasar sekarang," jelas Dr. Ibnu Toto Husodo.
Dari yang tadinya cuma andalkan feeling dan kebiasaan turun-temurun, warga sekarang punya SOP pengolahan yang terukur. Hasilnya? Produk rumput laut Mororejo bisa tampil lebih percaya diri di rak-rak modern. Program ini membuktikan bahwa kolaborasi kampus dan desa bisa menghasilkan lompatan besar—asal ada pendekatan teknologi yang pas dan kemauan warga buat berubah. Sekarang tinggal PR soal konsistensi dan keberlanjutan. Kira-kira, langkah selanjutnya apa ya biar produk ini nggak cuma ramai pas awal doang? Drop pendapat kamu di kolom komentar!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User