ILOILO CITY — Di tengah peringatan 43 tahun wafatnya mantan Senator Benigno "Ninoy" Aquino Jr., Senator Filipina Risa Hontiveros menegaskan bahwa demokrasi di negaranya masih hidup, tetapi keberlangsungan dan perkembangannya harus terus diperjuangkan. Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers di Iloilo City pada Jumat (21/8/2026), yang bertepatan dengan hari wafatnya Aquino sekaligus menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang demokrasi negara itu sejak era pemerintahan otoriter.
Dalam kesempatan yang sama, Hontiveros juga menyoroti persoalan yang tidak kalah mendesak, yakni pengawasan kepemilikan senjata api. Ia mendesak pemerintah memperketat regulasi senjata dan aturan penyimpanan senjata (gun safekeeping) setelah dua insiden penembakan mematikan di sekolah terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Kedua insiden itu memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana anak-anak bisa mengakses senjata api yang seharusnya berada dalam pengawasan personel pemerintah.
Refleksi 43 Tahun Wafatnya Ninoy Aquino
Ninoy Aquino Jr. merupakan tokoh oposisi paling vokal di Filipina pada masa pemerintahan Ferdinand Marcos. Ia tewas ditembak di Bandara Internasional Manila pada 21 Agustus 1983, hanya beberapa saat setelah tiba kembali ke tanah air dari pengasingannya di Amerika Serikat. Peristiwa itu menjadi titik balik sejarah: kematiannya memicu gelombang protes besar-besaran yang berujung pada Revolusi Kekuatan Rakyat (People Power Revolution) tahun 1986 yang menggulingkan rezim Marcos.
Dalam refleksinya, Hontiveros merenungkan keputusan Aquino untuk kembali ke Filipina pada 1983, meski ia sadar betul besarnya risiko yang mengancam jiwanya. Keputusan itu, menurut Hontiveros, menunjukkan keberanian dan pengorbanan yang menjadi fondasi demokrasi Filipina yang dinikmati hingga saat ini.
"Demokrasi Filipina masih hidup, tetapi kelangsungan dan perkembangannya harus terus diperjuangkan setiap saat," tegas Hontiveros di hadapan para wartawan dalam konferensi pers tersebut.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa demokrasi bukanlah hasil akhir yang permanen, melainkan sebuah proses yang menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang tidak pernah mengalami langsung era otoritarianisme. Menurutnya, kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan pemilu yang jujur adalah capaian yang harus dijaga agar tidak tergerus.
Dua Penembakan Sekolah dalam Kurun Dua Bulan
Selain soal demokrasi, Hontiveros mengalihkan sorotan pada keamanan publik, khususnya di lingkungan sekolah. Dalam waktu kurang dari dua bulan, Filipina diguncang dua insiden penembakan mematikan di sekolah, salah satunya terjadi di Zamboanga. Insiden-insiden ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai akses anak-anak terhadap senjata api yang seharusnya berada dalam pengawasan ketat personel pemerintah.
Fakta bahwa senjata yang digunakan diduga berasal dari personel pemerintah menjadikan kasus ini semakin memprihatinkan. Hal itu menunjukkan adanya celah dalam prosedur penyimpanan dan pengamanan senjata dinas, yang seharusnya dirancang untuk mencegah senjata jatuh ke tangan orang yang tidak berwenang, termasuk anak-anak di bawah umur.
- Dua penembakan mematikan terjadi di sekolah dalam waktu kurang dari dua bulan.
- Salah satu insiden terjadi di Zamboanga, diduga melibatkan senjata milik personel pemerintah.
- Anak-anak disebut mampu mengakses senjata api yang seharusnya diawasi secara ketat oleh pemiliknya.
- Kasus ini memicu pertanyaan publik tentang kelemahan aturan penyimpanan senjata dinas.
Seruan Regulasi Senjata Lebih Ketat
Menanggapi kondisi tersebut, Hontiveros mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan regulasi kepemilikan senjata yang lebih ketat, termasuk memperkuat aturan penyimpanan senjata agar peristiwa serupa tidak terulang. Ia menilai pengawasan yang longgar terhadap senjata api, terutama senjata milik aparat, berpotensi menjadi pemicu tragedi berulang di lingkungan pendidikan.
Senator dari kubu oposisi itu juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur perizinan dan audit kepemilikan senjata di lingkungan pemerintahan, serta sanksi tegas bagi personel yang lalai menjaga senjatanya. Menurutnya, tanggung jawab pemilik senjata tidak berhenti pada perolehan izin, melainkan berlanjut pada kewajiban memastikan senjata tidak dapat diakses oleh pihak lain.
Urutan Peristiwa
- 21 Agustus 1983 — Ninoy Aquino Jr. tewas ditembak di Bandara Internasional Manila setelah kembali dari pengasingan, memicu gerakan pro-demokrasi.
- 1986 — Revolusi Kekuatan Rakyat menggulingkan rezim Ferdinand Marcos dan membuka jalan bagi demokrasi Filipina.
- Kurang dari dua bulan terakhir (2026) — Dua insiden penembakan mematikan di sekolah mengguncang Filipina, termasuk di Zamboanga.
- Jumat, 21 Agustus 2026 — Hontiveros menggelar konferensi pers di Iloilo City, memperingati 43 tahun wafatnya Aquino sekaligus menyerukan kontrol senjata yang lebih ketat.
Demokrasi dan Keamanan yang Saling Terkait
Dua isu yang diangkat Hontiveros dalam satu kesempatan itu, yakni demokrasi dan keamanan publik, sebenarnya saling berkaitan. Tanpa keamanan yang memadai, kepercayaan publik terhadap institusi negara dapat tergerus; tanpa demokrasi yang sehat, pengawasan terhadap kekuasaan dan aparat menjadi lemah. Hontiveros mengingatkan bahwa keduanya menuntut perjuangan berkelanjutan, bukan sekadar ucapan belasungkawa atau janji politik.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Filipina belum mengumumkan langkah konkret atas desakan Hontiveros terkait revisi aturan kepemilikan senjata. Publik, khususnya para orang tua siswa, menanti tindakan nyata dari otoritas agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan. Sementara itu, peringatan 43 tahun wafatnya Ninoy Aquino tahun ini kembali mengingatkan bangsa itu bahwa harga sebuah demokrasi dibayar dengan pengorbanan, dan menjaganya adalah tugas semua generasi.
[SOCIAL_TWEET]: Hontiveros: demokrasi Filipina masih hidup, tapi harus diperjuangkan. Ia juga desak kontrol senjata ketat usai dua penembakan sekolah dalam dua bulan. #Filipina #Demokrasi #KontrolSenjata[SOCIAL_TG]: Peringatan 43 tahun wafatnya Ninoy Aquino jadi momentum: Hontiveros tegaskan demokrasi harus diperjuangkan, sekaligus serukan kontrol senjata ketat usai dua penembakan sekolah dalam dua bulan. Detail lengkap di Warkini.com.
Comments (0)