Hujan Redam Karhutla Pelalawan, Bank Sampah Riau Raup Puluhan Juta
Langit di Kabupaten Pelalawan, Riau, berubah abu-abu pekat pada suatu siang yang seharusnya disengat terik El Nino. Bukannya api dan asap kebakaran hutan d
Langit di Kabupaten Pelalawan, Riau, berubah abu-abu pekat pada suatu siang yang seharusnya disengat terik El Nino. Bukannya api dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumbung, warga malah disambut rinai yang berubah deras dalam hitungan menit. Hujan alami berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah ini menjadi anomali di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal puncak siklus kering. Di satu sisi, air dari langit ini adalah penyelamat: ia meredam bara yang sudah mulai menari di lahan-lahan gambut, menekan titik panas yang biasanya menyebar cepat pada September-Oktober. Namun di sisi lain, BPBD Pelalawan justru meniupkan peluit waspada—banjir kini menjadi ancaman baru yang mengintai, terutama di kawasan padat penduduk seperti Pangkalan Kerinci.
Dualitas ini menyajikan gambaran nyata betapa alam bekerja dengan logika yang kadang tak terduga. Di saat yang sama, tak jauh dari pusat krisis iklim tersebut, ada cerita tentang warga yang berhasil menyulap bencana jenis lain menjadi sumber penghidupan: sampah. Bank Sampah Andalan Lestari (BSAL) RAPP di Kompleks Riau Kompleks, sebuah inisiatif kecil yang bermula dari 32 nasabah, kini meraup puluhan juta rupiah sambil mengolah 46 ton sampah menjadi komoditas bernilai ekonomi. Dua potret ini, walau tampak berbeda, sebetulnya berbicara dalam bahasa yang sama: bagaimana masyarakat Riau berjuang, beradaptasi, dan mencari jalan keluar di tengah tekanan lingkungan yang kian menggila.
Ketika Hujan Jadi Pedang Bermata Dua di Pelalawan
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan menunjukkan bahwa curah hujan pada pekan pertama September tercatat hampir dua kali lipat dari rata-rata historis. Hal ini memicu genangan di sejumlah titik rendah di Pangkalan Kerinci, dengan ketinggian air mencapai 30–50 sentimeter di beberapa ruas jalan. Bagi zona rawan karhutla yang biasanya dijaga ketat oleh tim pemadam, hujan ini adalah anugerah. “Alhamdulillah, titik api yang sempat muncul langsung padam dalam semalam. Tapi jujur kami juga khawatir, karena saluran drainase belum siap menampung debit sebesar ini,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Pelalawan, Hadi Suwignyo, saat ditemui di posko siaga bencana, Selasa (24/9).
“Ini seperti mendapat durian runtuh yang di dalamnya ada duri tajam. Hujan memang jadi kawan saat krisis karhutla, tapi langsung berubah jadi lawan kalau intensitasnya melampaui kapasitas infrastruktur kita.”
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sebagian wilayah Pelalawan masih menyisakan tumpukan sampah organik dan plastik dari aktivitas perkebunan dan rumah tangga yang menyumbat aliran air. Jika hujan deras terus melanda dalam beberapa hari ke depan, potensi banjir bisa mengancam ratusan rumah dan memutus akses jalan kabupaten. BMKG sendiri memprediksi anomalus La Nina lemah mulai terbentuk, yang artinya pola curah hujan tinggi dapat berlangsung hingga awal 2026 di sebagian Sumatra.
Dari 32 Nasabah ke Puluhan Juta: Revolusi Sampah di Riau Kompleks
Sementara Pelalawan bergulat dengan air dari langit, Kabupaten Pelalawan dan Kota Pekanbaru di sekitarnya menyaksikan kebangkitan model ekonomi yang tak kalah dahsyat. BSAL (Bank Sampah Andalan Lestari), yang didirikan oleh karyawan RAPP dan warga setempat pada 2021, kini telah menjadi rujukan nasional. Dengan hanya 32 nasabah pionir yang menyetor sampah terpilah dari rumah tangga, bank sampah ini berhasil mengumpulkan, memproses, dan menjual 46 ton sampah anorganik—mulai dari plastik, kardus, logam, hingga kaca—ke pengepul besar dan pabrik daur ulang.
“Awalnya kami hanya berpikir untuk menjaga lingkungan sekitar kompleks dari tumpukan sampah. Tidak terbayang kalau sekarang omzet bulanan kami bisa mencapai puluhan juta rupiah,” ungkap Dewi Sartika, koordinator BSAL, sambil menunjukkan aplikasi BSAL Mobile di ponselnya. Aplikasi ini menjadi game changer: nasabah cukup menjadwalkan penjemputan sampah dari rumah, petugas datang, menimbang, dan poin langsung masuk ke dompet digital yang bisa dicairkan sebagai uang tunai atau diskon sembako. Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang selama ini sering hanya menjadi jargon, benar-benar menjelma jadi ekosistem ekonomi sirkular yang menguntungkan.
“Angka 46 ton itu baru dari 32 nasabah awal. Sekarang kami punya lebih dari 200 nasabah dan volume terus naik. Artinya potensi pendapatan warga sebenarnya jauh lebih besar.”
Mekanisme BSAL Mobile memangkas dua kendala klasik bank sampah: malasnya nasabah mengantar dan ketidakpastian harga. Dengan sistem penjemputan dan harga transparan yang mengikuti indeks pasar daur ulang, partisipasi warga melonjak. Sampah yang dulunya dibakar atau dibuang ke sungai kini menjadi “tabungan emas” yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Inilah potret kecil dari transformasi mindset: dari beban menjadi aset.
Lingkaran Solusi: dari Ancaman Banjir ke Ketahanan Lingkungan
Di titik inilah kedua narasi—hujan penyelamat/ancaman dan bank sampah—menemukan benang merahnya. Salah satu penyebab utama banjir di perkotaan dan pedesaan Riau adalah sampah yang menyumbat drainase dan aliran sungai. Data Dinas Lingkungan Hidup Riau menyebut bahwa sekitar 25% titik banjir di wilayah Pangkalan Kerinci dan Pekanbaru dipicu oleh timbunan sampah non-organik yang menghalangi laju air. Jika 46 ton sampah BSAL tadi tidak dikelola, hampir semuanya akan berakhir di parit, selokan, atau dibakar—menyumbang polusi udara yang memperparah infeksi saluran pernapasan saat karhutla terjadi.
Dengan kata lain, bank sampah bukan sekadar mesin penghasil rupiah, melainkan fondasi mitigasi bencana yang sering diabaikan. Saat hujan deras mengguyur Pelalawan dan volume air melampaui kapasitas, setiap kilogram plastik yang berhasil ditarik dari aliran sungai akan mengurangi risiko genangan. Sebaliknya, saat kemarau panjang dan api mengancam, berkurangnya sampah yang dibakar otomatis menurunkan emisi partikel berbahaya yang biasanya memperburuk kualitas udara saat karhutla. Ini adalah simbiosis yang jarang diulas dalam berita-berita bencana: pengelolaan sampah adalah bentuk adaptasi iklim paling lokal dan paling mungkin dilakukan.
Panggilan untuk Kolaborasi: Satukan Semangat Pelalawan dan BSAL
Melihat dua realitas ini, Pemerintah Kabupaten Pelalawan diharapkan tak hanya fokus menyiagakan pompa dan perahu karet, tapi juga mulai menggandeng model bank sampah sebagai bagian dari rencana kontingensi banjir. “Kami sudah berkoordinasi dengan RAPP untuk mereplikasi BSAL di tiga kecamatan rawan banjir. Targetnya tahun ini ada 500 nasabah baru yang sekaligus menjadi garda terdepan membersihkan saluran air,” ujar Bupati Pelalawan, Zukri Misran, dalam rapat koordinasi virtual. Jika rencana ini berjalan, bukan tidak mungkin siklus hujan-ancaman-karhutla akan bertransformasi menjadi siklus hujan-kelola-sampah-sejahtera.
Pelajaran dari Pelalawan dan Riau Kompleks memberi pesan tegas: bencana ekologis, baik karhutla, banjir, maupun darurat sampah, bukanlah takdir yang harus ditelan mentah-mentah. Dengan inovasi sederhana seperti aplikasi jemput sampah, dan kebijakan yang merangkul komunitas akar rumput, masyarakat bisa menulis narasi baru. Saat hujan deras berikutnya turun, alih-alih hanya menjadi suara ketakutan, ia juga bisa menjadi simfoni yang mengiringi langkah ribuan nasabah bank sampah mengubah ancaman menjadi peluang.
[SOCIAL_TWEET]: Hujan deras selamatkan Pelalawan dari karhutla, tapi kini ancam banjir. Di sisi lain, Bank Sampah BSAL Raup Puluhan Juta dari 46 ton sampah. Dua cerita tentang iklim dan solusi dari Riau. 🌧️♻️ #LingkunganHidup #Riau[SOCIAL_TG]: 🌧️♻️ Hujan Penyelamat Sekaligus Ancaman di Pelalawan. Di saat BPBD siaga banjir, Bank Sampah BSAL sukses ubah 46 ton sampah jadi puluhan juta rupiah. Inilah wajah Riau yang berjuang di garis depan krisis iklim.
Comments (0)