Semangat gotong royong dan saling berbagi sudah menjadi bagian dari urat nadi masyarakat Indonesia. Tak peduli seberapa deras badai ekonomi memukul, uluran tangan untuk sesama selalu menemukan jalannya. Mengapresiasi daya tahan serta inovasi para pejuang kedermawanan ini, Institut Fundraising Indonesia (IFI) kembali secara resmi menggelar ajang tahunan bergengsi Indonesia Fundraising Award (IFA) 2026. Penyelenggaraan yang dimulai pada Selasa (15/9/2026) ini menjadi penanda penting perjalanan panjang gerakan filantropi di Tanah Air.
Perjalanan Gerakan Kedermawanan dari Masa ke Masa
Ajang IFA bukan sekadar seremoni pemberian piala belaka. Sejak pertama kali digagas pada tahun 2020, ajang ini lahir di tengah impitan krisis kesehatan global akibat pandemi Covid-19. Saat banyak sektor terpuruk, gerakan kedermawanan justru menunjukkan taringnya sebagai penopang kehidupan sosial. Tahun 2026 ini menandai edisi ketujuh dari helatan bergengsi tersebut.
Direktur IFI, Sri Sugiyanti—yang akrab disapa Umi Yanti—mengungkapkan bahwa konsistensi masyarakat dalam berbagi adalah modal sosial yang sangat luar biasa. Perubahan zaman menuntut pengelola dana publik untuk terus beradaptasi dengan teknologi dan prinsip akuntabilitas.
"Dari tahun ke tahun, IFA berkembang menjadi ruang apresiasi sekaligus pembelajaran. Ajang ini mendorong profesionalisme, inovasi, transparansi, akuntabilitas, kolaborasi, teknologi, dan penciptaan dampak sosial," ujar Sri Sugiyanti saat membuka gelaran tersebut.
Tahun ini, IFI mengusung tema besar "Resilient Giving" atau kedermawanan yang memiliki daya tahan. Tema ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai refleksi atas ketahanan ekosistem penggalangan dana sosial dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang tak menentu.
Tabel Kilas Balik dan Fokus IFA 2026
Berikut adalah kilas balik perjalanan dan fokus utama dalam penyelenggaraan Indonesia Fundraising Award dari masa ke masa:
| Edisi / Tahun | Konteks Utama | Fokus Pengembangan |
|---|---|---|
| Awal (2020) | Krisis Pandemi Covid-19 | Adaptasi Darurat & Digitalisasi |
| Perkembangan (2021–2025) | Pemulihan Ekonomi & Kolaborasi | Transparansi & Akuntabilitas Tata Kelola |
| IFA 2026 (Ke-7) | Ketahanan Ekosistem (Resilient Giving) | Inovasi Teknologi & Dampak Berkelanjutan |
Mendorong Akuntabilitas dan Inovasi Digital
Memasuki era digital, tantangan terbesar lembaga filantropi tak lagi sekadar mengumpulkan dana donor, melainkan bagaimana menjaga kepercayaan publik (public trust). Oleh karena itu, IFA 2026 memberikan ruang apresiasi luas yang tidak hanya terbatas pada lembaga zakat atau infak besar, tetapi juga mencakup individu, korporasi melalui program CSR, komunitas lokal, hingga media massa yang konsisten menyuarakan isu-isu kemanusiaan.
Melalui penilaian yang ketat dan transparan, IFI ingin mengedukasi masyarakat bahwa lembaga penggalang dana yang baik adalah lembaga yang terbuka, mampu dipertanggungjawabkan, serta memanfaatkan teknologi modern secara bijak. Penggunaan teknologi finansial (fintech), kecerdasan buatan, hingga platform media sosial kini menjadi tulang punggung dalam menjangkau donatur muda dari generasi Z dan milenial.
Dampak Sosial Berkelanjutan untuk Masa Depan
Umi Yanti menegaskan bahwa kedermawanan yang tangguh harus berorientasi pada penciptaan dampak jangka panjang. Sumbangan masyarakat tidak boleh berhenti hanya sebagai pemadam kebakaran atas masalah sesaat, melainkan harus mampu memberdayakan penerima manfaat agar keluar dari kemiskinan dan ketimpangan sosial.
"IFA 2026 diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh pegiat fundraising agar terus berbenah. Kita ingin memperkuat ekosistem agar gerakan berbagi ini semakin tepercaya, profesional, dan memberikan manfaat nyata bagi bangsa," tambah Sri Sugiyanti.
Dengan resminya pembukaan IFA 2026, para pelaku industri filantropi di seluruh Indonesia diundang untuk saling belajar, berkolaborasi, serta membuktikan bahwa Indonesia pantas menyandang predikat sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia.
Memasuki penyelenggaraan ketujuh, IFA 2026 mengusung tema "Resilient Giving" untuk memperkuat ekosistem filantropi nasional yang inovatif dan transparan. Baca ulasan lengkapnya hanya di Warkini.com!
Comments (0)