Jakarta - Harga minyak dunia belakangan ini menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan. Meredanya konflik antara
Pertamina Buka Peluang Penurunan Harga Pertamax Direktur Perencanaan & Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, memberikan sinyal optimistis. Dalam keterangan yang diterima Warkini.
Pertamina Buka Peluang Penurunan Harga Pertamax
Direktur Perencanaan & Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, memberikan sinyal optimistis. Dalam keterangan yang diterima Warkini.com, ia mengungkapkan bahwa potensi penurunan harga Pertamax sangat terbuka.
"Peluang harga Pertamax turun terbuka lebar jika memang harga minyak dunia terus melemah dalam beberapa waktu ke depan," ujar Joko.
Ia menjelaskan, sebagai BBM nonsubsidi, harga Pertamax memang mengikuti dinamika pasar global. Mekanisme penetapan harganya dilakukan secara periodik, umumnya setiap bulan, dengan mempertimbangkan rata-rata harga minyak acuan seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dengan demikian, ketika harga minyak dunia turun secara konsisten, harga jual Pertamax seharusnya juga dapat menyesuaikan ke level yang lebih rendah.
Sikap Hati-hati Pertamina
Meski begitu, Joko belum bisa memastikan kapan penurunan itu akan terjadi. Saat ditanya secara spesifik apakah penurunan dapat terealisasi bulan depan, ia menyatakan bahwa pihaknya masih akan terus memantau pergerakan harga minyak pada bulan ini.
"Kami masih perlu mencermati pergerakan harga minyak dunia pada bulan ini yang menjadi dasar dalam penentuan harga," jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan akhir sangat bergantung pada konsistensi tren penurunan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan. Pertamina Patra Niaga tidak akan terburu-buru mengambil langkah penyesuaian jika fluktuasi pasar masih bergejolak tajam.
Berdasarkan pantauan Warkini.com, harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) memang telah turun cukup dalam sejak ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda. Berkurangnya risiko gangguan pasokan serta ekspektasi peningkatan produksi dari negara-negara produsen utama menjadi faktor yang terus menekan harga. Jika tren ini bertahan hingga akhir bulan, bukan tidak mungkin harga Pertamax akan resmi mengalami penurunan pada awal bulan berikutnya.
Selain faktor harga minyak mentah dan kurs rupiah, komponen lain seperti biaya distribusi, pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB), serta margin usaha turut diperhitungkan dalam formula harga BBM nonsubsidi. Oleh karena itu, besaran penurunan harga Pertamax—jika benar-benar terjadi—tidak selalu proporsional dengan penurunan harga minyak dunia. Kendati demikian, bagi konsumen, sinyal penurunan ini menjadi angin segar di tengah upaya menjaga stabilitas daya beli.
Masyarakat pun diimbau untuk menanti pengumuman resmi dari Pertamina terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang biasanya diumumkan setiap awal bulan. Apakah bulan depan menjadi momentum penurunan harga Pertamax? Semua kembali pada data dan pergerakan pasar energi global hingga akhir bulan ini. Warkini.com akan terus menyajikan informasi terbaru seputar dinamika harga BBM di Tanah Air.
Comments (0)