Jakarta — Warga di kawasan Gandaria Utara, Jakarta Selatan, kini semakin giat mengelola sampah organik melalui progra
Program Kompos Keliling bekerja dengan cara yang terbilang sederhana namun berdampak luas. Setiap rumah tangga peserta mengumpulkan sisa bahan makanan, seperti potongan sayur, kulit buah, dan ampas d
Program Kompos Keliling bekerja dengan cara yang terbilang sederhana namun berdampak luas. Setiap rumah tangga peserta mengumpulkan sisa bahan makanan, seperti potongan sayur, kulit buah, dan ampas dapur lainnya, dalam wadah tertutup yang telah disediakan. Secara berkala, tim pengelola menggunakan becak atau kendaraan kecil untuk berkeliling mengambil sampah organik tersebut dari rumah ke rumah. Selanjutnya, seluruh material organik dikumpulkan di satu tempat pengolahan terpadu untuk diproses menjadi kompos yang kaya nutrisi.
"Awalnya banyak yang ragu, tapi setelah melihat sendiri prosesnya dan hasil kompos yang bagus, warga jadi sangat antusias. Sekarang mereka malah sering bertanya kapan sampah mereka akan diangkut," ujar Rina, salah satu penggagas program Kompos Keliling, saat ditemui media kami di Gandaria Utara, Senin (18/5).
Berdasarkan laporan media kami dari lapangan, program ini tak hanya menyasar aspek pengurangan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan. Kompos hasil olahan dijual kepada warga sekitar untuk keperluan berkebun dan penghijauan. Sebagian lagi diberikan cuma-cuma kepada peserta program yang aktif menyetorkan sampah organiknya, sehingga menciptakan insentif langsung bagi partisipasi warga.
Dampak positif gerakan ini pun mulai terasa secara signifikan. Menurut data dari pengelola program, volume sampah organik yang berhasil dialihkan dari aliran sampah rumah tangga mencapai puluhan kilogram per minggu. Kondisi ini secara langsung meringankan beban angkut petugas kebersihan di tingkat kelurahan dan memperpanjang usia pakai TPA yang selama ini menerima tekanan besar akibat lonjakan populasi dan konsumsi masyarakat perkotaan.
Lebih dari sekadar urusan teknis pengelolaan sampah, Kompos Keliling telah menjelma menjadi gerakan sosial yang memperkuat kohesi antarwarga. Pertemuan rutin dan edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik membuka ruang dialog serta gotong royong di tengah masyarakat perkotaan yang kerap individualistis. Program ini menjadi contoh konkret bahwa solusi atas permasalahan lingkungan dapat ditemukan dari kesadaran kolektif dan aksi nyata di tingkat paling dasar, yakni rumah tangga.
Ke depan, para penggagas berharap gerakan ini dapat direplikasi di wilayah-wilayah lain di DKI Jakarta, bahkan di kota-kota besar lainnya yang menghadapi tantangan sama. Dukungan dari pemerintah setempat melalui penyediaan fasilitas dan regulasi yang ramah lingkungan dianggap sebagai kunci untuk memperluas dampak dari dapur ke kompos. Inisiatif warga Gandaria Utara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam rantai pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Comments (0)