Kepulan asap tebal kembali membubung di langit Probolinggo, Jawa Timur. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dilaporkan terjadi di kawasan lereng Gunung Bromo, tepatnya di area perbukitan yang masuk wilayah konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pemandangan yang biasanya menyejukkan mata itu kini berubah muram, tertutup kabut asap pekat yang memicu kekhawatiran warga dan wisatawan.
Informasi yang dihimpun dari laporan visual Liputan6.com pada Rabu (5/2/2025) memperlihatkan lidah api yang menjilat ilalang kering di ketinggian ratusan meter di atas permukaan laut. Titik api tersebut muncul di medan yang curam, membuat upaya pemadaman dari jalur darat menjadi sangat berisiko.
Medan Terjal Jadi Tantangan Utama Petugas
Bukan kali ini saja Bromo menghadapi ancaman serupa. Namun, karakteristik medan tahun ini dinilai lebih menantang dibandingkan musim kemarau sebelumnya. Kontur tanah yang naik-turun tajam, ditambah material vulkanik lepas, membuat kendaraan pemadam tidak bisa menjangkau lokasi secara langsung. Petugas harus berjalan kaki membawa peralatan manual sejauh beberapa kilometer.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menunjukkan sedikitnya 15 hektare lahan savana terdampak, meski angka ini masih bersifat sementara karena proses pendataan terus bergulir. Angin kencang yang bertiup dari arah kawah dikhawatirkan memperluas area terbakar ke zona perlindungan ekosistem.
"Kami mengerahkan tim gabungan dari TNBTS, BPBD, dan relawan. Kendala terbesar bukan soal air, tetapi akses menuju titik api. Medan yang ekstrem membuat satu liter air terasa berat sekali dibawa naik."
— Koordinator Lapangan Penanggulangan Karhutla, Probolinggo
Pihak pengelola taman nasional juga telah menutup sementara beberapa jalur pendakian dan titik wisata tertentu demi keselamatan pengunjung. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif agar tidak ada korban jiwa maupun gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Penyebab dan Pola Berulang yang Perlu Diwaspadai
Meski penyebab pasti masih dalam penyelidikan, sejumlah indikasi mengarah pada kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Cuaca panas ekstrem yang berkepanjangan membuat rumput savana mengering seperti jerami. Satu percikan kecil saja bisa memicu kobaran besar dalam hitungan menit.
Beberapa kalangan menilai perlunya evaluasi sistem peringatan dini di kawasan konservasi. Selama ini, pemantauan masih mengandalkan pengamatan visual dan laporan masyarakat, belum berbasis sensor panas otomatis yang bisa mendeteksi titik api lebih cepat.
| Parameter | Kondisi Saat Ini | Risiko |
|---|---|---|
| Luas terdampak | ±15 hektare | Tinggi |
| Akses medan | Sangat terjal | Kritis |
| Angin | Kencang | Penyebaran cepat |
| Personel | Gabungan terbatas | Perlu tambahan |
Hingga berita ini diturunkan, proses pemadaman masih berlangsung secara sporadis. Tim udara belum dapat dikerahkan karena visibilitas yang rendah dan kekhawatiran akan keselamatan penerbangan. Warga diimbau tidak mendekati area kebakaran dan selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan publik dan keberlanjutan pariwisata. Tanpa penanganan serius dan kolaborasi semua pihak, pesona Bromo yang mendunia bisa terus terancam oleh asap yang datang silih berganti setiap tahun.
Comments (0)