Api kembali menghanguskan kawasan hijau di Sulawesi Selatan. Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terjadi di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep. Bara api membakar vegetasi kering di lereng-lereng bukit kapur yang menjadi rumah bagi ribuan satwa endemik, termasuk kupu-kupu dan primata khas Sulawesi.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat menyebut titik api terdeteksi lewat pemantauan satelit dan laporan warga di sekitar kawasan. Petugas gabungan dari balai konservasi, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk memadamkan api. Medan berbatu dan curam membuat upaya pemadaman berjalan sulit, sehingga tim harus berjalan kaki membawa peralatan ringan menuju lokasi kebakaran.
Penyebab Kebakaran dan Kondisi Musim Kemarau
Musim kemarau yang panjang membuat tutupan hutan di kawasan Pangkep mengering. Suhu tinggi disertai kelembapan rendah mempercepat persebaran api pada vegetasi seperti rumput kering, ilalang, dan semak belukar. Petugas masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran, namun dugaan sementara menunjuk pada pembukaan lahan dengan cara membakar dan kelalaian aktivitas manusia di pinggiran kawasan.
Data tahunan menunjukkan pola karhutla di Sulawesi Selatan cenderung meningkat pada puncak kemarau. Berikut ringkasan kondisi yang sering dijumpai saat musim kering:
| Parameter | Musim Hujan | Musim Kemarau |
|---|---|---|
| Kelembapan udara | Tinggi (70–90%) | Rendah (30–50%) |
| Kondisi vegetasi | Basah, sulit terbakar | Kering, mudah membara |
| Risiko kebakaran | rendah | Sangat tinggi |
| Upaya patroli | Normal | Diperkuat |
"Kebakaran di kawasan taman nasional bukan sekadar kerugian ekologis, tetapi juga ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang tidak bisa kita beli kembali," ujar salah satu pengamat lingkungan yang mengikuti pemantauan di lapangan.
Ancaman bagi Ekosistem dan Satwa Endemik
TN Babul terkenal dengan Gua Bulusaraung dan hutan kapurnya. Kebakaran pada areal hutan kering kapur berpotensi merusak habitat burung dan kupu-kupu langka. Hewan-hewan kecil sering kali tidak sempat menyelamatkan diri, sementara yang lebih besar terpaksa berpindah ke area yang lebih aman sehingga memicu konflik dengan warga di sekitar kawasan.
Selain itu, asap dari kebakaran memengaruhi kualitas udara masyarakat sekitar. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama asap masih pekat.
Upaya Pencegahan dan Ajakan Warga
Balai konservasi mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan titik asap ke pos pemantauan. Sosialisasi pencegahan karhutla juga diperkuat di desa-desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional.
Warga sekitar mengaku khawatir api kembali menjalar saat angin kencang bertiup. Sebagian relawan ikut serta dalam pemadaman dengan membawa tangki air sederhana dan cangkul untuk membuat jalur pemisah api. Kerja sama lintas sektor ini menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas hingga ke inti kawasan konservasi.
Pemerintah daerah juga menyiapkan langkah jangka panjang berupa penanaman kembali vegetasi yang terbakar serta penguatan sistem peringatan dini berbasis pemantauan suhu dan asap. Dengan begitu, ancaman karhutla di Pangkep dapat ditekan sebelum memasuki musim kemarau berikutnya.
Comments (0)