Kekeringan Mulai Melanda, Warga Kesulitan Air Bersih
Situbondo – Musim kemarau yang semakin panjang mulai dirasakan dampaknya oleh warga di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo. Sejak beberapa pekan terakhir, warga di wilayah terse
Situbondo – Musim kemarau yang semakin panjang mulai dirasakan dampaknya oleh warga di Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo. Sejak beberapa pekan terakhir, warga di wilayah tersebut mengaku kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumber air yang biasanya mengalir deras kini surut drastis, memaksa warga harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk mendapatkan beberapa jeriken air.
Berdasarkan laporan dari tim Warkini.com di lapangan, warga harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju sumber mata air yang masih menyisakan debit air terbatas. Kondisi ini sangat terasa terutama bagi warga lanjut usia dan ibu rumah tangga yang harus mengantre panjang di sumber mata air sejak dini hari. "Kami biasanya mulai berangkat jam empat pagi supaya dapat air. Kalau siang, sudah habis diserbu warga lain," ungkap Sumarni, salah seorang warga RT 02, saat ditemui pada Kamis pagi.
"Kami biasanya mulai berangkat jam empat pagi supaya dapat air. Kalau siang, sudah habis diserbu warga lain," ungkap Sumarni, salah seorang warga RT 02, saat ditemui pada Kamis pagi.
Kesulitan air bersih ini bukan hanya memengaruhi konsumsi rumah tangga, tetapi juga berdampak pada aktivitas pertanian dan peternakan warga. Sejumlah petani terpaksa membiarkan lahan mereka mengering karena tak ada pasokan air untuk irigasi, sementara hewan ternak mulai mengalami dehidrasi. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin parah seiring dengan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa puncak kemarau di wilayah Situbondo masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Pemerintah desa setempat melalui Kepala Desa Gunung Putri, Hadi Sutrisno, mengatakan pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada pemerintah kabupaten. "Kami sudah mengirim surat dan berkoordinasi dengan BPBD Situbondo. Semoga dalam waktu dekat ada dropping air bersih, minimal dua tangki setiap pekannya," ujarnya. Hadi juga mengimbau warga untuk bijak dalam menggunakan air yang tersisa dan tidak membuang-buang air untuk keperluan yang tidak mendesak.
Beberapa warga mengaku terpaksa membeli air dari pedagang keliling dengan harga yang cukup mahal, mencapai Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per jeriken berkapasitas 20 liter. Harga ini dianggap memberatkan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. "Kalau beli air terus, sebulan bisa habis ratusan ribu. Padahal penghasilan harian tak menentu," keluh Suroso, buruh tani setempat.
Di sisi lain, upaya gotong royong mulai digalakkan oleh pemuda desa. Mereka secara swadaya berinisiatif membuat bak penampungan sementara di dekat sumber mata air agar distribusi bisa lebih merata. Namun, upaya ini masih terkendala keterbatasan pipa dan alat penampungan yang memadai.
Kekeringan yang melanda Desa Gunung Putri ini menjadi gambaran nyata tentang rentannya akses air bersih di sejumlah daerah saat musim kemarau tiba. Warga berharap selain bantuan darurat, ada solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur dalam atau sistem pengolahan air yang bisa menjamin ketersediaan air sepanjang tahun. Warkini.com akan terus memantau perkembangan situasi dan upaya penanganan dari pihak berwenang.
Comments (0)