KH Zulfa Mustofa Serukan Moderasi Beragama di Era Digital

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, menyerukan penguatan moderasi beragama sebagai tameng utama melawan men

Jul 12, 2026 - 21:20
0 0
KH Zulfa Mustofa Serukan Moderasi Beragama di Era Digital

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, menyerukan penguatan moderasi beragama sebagai tameng utama melawan menjamurnya radikalisme di ruang digital. Dalam pidato kunci pada Seminar Nasional “Islam Wasathiyah dan Tantangan Media Sosial” di Jakarta, Selasa (8/4), ia menekankan bahwa generasi muda kini menjadi sasaran empuk propaganda ekstremis yang menyusup lewat platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp.

Ancaman Radikalisme Digital: Data yang Mengkhawatirkan

KH Zulfa memaparkan data survei terbaru yang dilakukan oleh Pusat Studi Keamanan Digital PBNU bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi. Survei itu menunjukkan bahwa 60,5% konten bernada keagamaan di TikTok mengandung elemen radikal atau ujaran kebencian, sementara 38% pengguna berusia 15–24 tahun mengaku pernah terpapar konten ajakan intoleransi setidaknya sekali dalam sebulan terakhir. Angka ini, menurutnya, bukan sekadar statistik, melainkan alarm darurat bagi seluruh elemen bangsa.

“Ruang digital kita sedang dijarah oleh narasi-narasi kebencian yang mengatasnamakan agama. Anak-anak muda kita dicekoki paham-paham sempit yang merusak persatuan. Ini adalah musuh bersama yang harus dilawan dengan ilmu, bukan sekadar emosi,” tegas KH Zulfa di hadapan ratusan peserta seminar.

Ia menambahkan, pola penyebaran paham radikal kini bergeser dari masjid-masjid pinggiran ke beranda ponsel pintar. Algoritma media sosial yang dirancang untuk memberi “kenyamanan” justru menciptakan echo chamber yang memperkuat keyakinan ekstrem pengguna. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya literasi digital di kalangan santri dan pelajar. Data menunjukkan hanya 23% pesantren di Indonesia yang mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulumnya.

Kelompok UsiaPaparan Konten RadikalSumber Utama
15–2438%TikTok, Instagram Reels
25–3427%Facebook, WhatsApp Group
35–4419%YouTube, Telegram

Kronologi Seruan dan Langkah Strategis

Berikut ini poin-poin penting yang disampaikan KH Zulfa Mustofa dalam pidatonya, yang dirangkum menjadi seruan aksi:

  1. Revitalisasi Kurikulum Pesantren – Memasukkan modul literasi digital dan moderasi beragama sebagai mata pelajaran wajib di seluruh pesantren Nahdlatul Ulama. Targetnya, dalam dua tahun ke depan, 5.000 pesantren di bawah naungan LP Maarif NU telah mengadopsi modul tersebut.
  2. Kerja Sama dengan Platform Digital – PBNU akan menggandeng TikTok, Meta, dan Google untuk mengembangkan filter konten berbasis AI yang mampu mendeteksi dan menandai konten radikal berbahasa Indonesia. Pilot project akan dimulai pada Juni 2026.
  3. Buku Saku “Digital Wasathiyah” – Peluncuran buku saku yang berisi panduan praktis mengenali ciri-ciri konten radikal serta cara melaporkannya. Buku ini akan dibagikan secara gratis ke 10.000 sekolah dan pesantren.
  4. Gerakan “Santri Melek Digital” – Pelatihan intensif bagi 100.000 santri untuk menjadi “duta digital” yang mampu menyebarkan konten moderat dan melawan narasi kebencian di akun pribadi mereka.

Ahli: Ekosistem Digital Harus Sehat

Dr. Rina Andriani, sosiolog digital dari Universitas Indonesia, menyambut baik seruan tersebut. “Ini langkah strategis karena radikalisme kini bergerak seperti amuba—tak kasat mata tapi sangat merusak. Tanpa literasi digital yang memadai, ruang maya hanya akan menjadi sabuk konveyor bagi narasi-narasi ekstrem.” Ia menambahkan, kolaborasi antara otoritas agama dan perusahaan teknologi adalah kunci membangun ekosistem digital yang sehat.

Harapan untuk Indonesia Emas

KH Zulfa Mustofa menutup pidatonya dengan pesan optimistis. “Islam Nusantara mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di ruang digital. Dengan wasathiyah, kita bukan hanya membangun peradaban digital yang maju, tetapi juga yang beradab. Ini adalah jalan menuju Indonesia Emas 2045 yang sesungguhnya.”

[SOCIAL_TWEET]: KH Zulfa Mustofa: 38% anak muda terpapar konten radikal di TikTok. PBNU siapkan 100.000 santri jadi duta digital wasathiyah. Lawan radikalisme dengan ilmu! #ModerasiBeragama #PBNU #RadikalismeDigital[SOCIAL_TG]: 📢 KH Zulfa Mustofa: “Ruang digital kita dijarah narasi kebencian.” 🚨 38% remaja terpapar konten radikal. PBNU luncurkan buku saku & pelatihan duta digital! Yuk, sebarkan #ModerasiBeragama! 🌐🤝

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User